
Setelah kejadian sore tadi, Kavi tidak langsung pulang ke rumahnya. Pikirannya begitu penat. Pekerjaan kantor yang sangat padat, ditambah dengan ucapan Mirza yang tidak masuk akal.
Kavi saat ini sedang berada di café milik temannya. Dia duduk seorang diri. Menonaktifkan ponselnya demi menghindari panggilan dari sang Ayah.
Suasana café yang semakin malam semakin ramai tak mampu membuat suasan hati Kavi lebih baik. Sampai saat ini dia masih teringat dengan ucapan adiknya. Apakah selama ini Mirza iri dengan posisinya di kantor? kenapa Mirza sampai bisa berpikiran seperti itu.
“Permisi! Sendirian saja?” tanya seorang perempuan yang tiba-tiba menghampiri meja Kavi.
“Oh, iya!” jawab Kavi terkejut.
“Boleh gabung di sini?” lanjutnya dengan tersenyum tipis menatap Kavi.
“Silakan saja!” jawab Kavi sedikit canggung.
“Perkenalkan, namaku Anna!” ucap perempuan itu sambil mengulurkan tangannya.
Kavi yang masih canggung dengan terpaksa menerima uluran tangan perempuan itu. dia juga mempersilakan Anna duduk. Tidak ada salahnya juga jika mencoba berteman dengan perempuan yang baru ia kenal itu.
***
Beberapa hari telah berlalu. Setelah perdebatan sengit yang terjadi antara Akvi dan Mirza, semenjak saat itu kedua kakak beradik itu tidak bertegur sapa. Mirza juga sudah tidak pernah lagi pulang ke rumahnya. Dia memilih pulang ke apartemen.
Mirza juga sudah kembali ke kantor. karena kemarin mendapat telepon dari sang ayah dan mendapat tugas untuk mengerjakan sesuatu. Alhasil Mirza terpaksa setiap hari datang ke kantor.
Sedangkan Kavi masih bekerja seperti biasanya. Dia berusaha tetap profesioanal, meskipun dalam beberapa kali kesempatan ia berada dalam satu ruangan dengan adiknya saat meeting dengan beberapa karyawan.
Hari ini Kavi merasa pekerjaannya tidak begitu memusingkan. Dia bisa pulang lebih awal dari jam biasanya yang sering lembur. Tiba-tiba saja dia mendapat pesan dari seseorang.lebih tepatnya teman baru yang ia temuisaat di café beberapa hari yang lalu. Yaitu Anna.
“Pulang kerja, makan bareng yuk, Kav!”
__ADS_1
Kavi yang memang tidak ada kesibukan apapun, akhirnya ia mengiyakan ajakan Anna. Dia membalas pesan Anna dan akan menjemput perempuan itu di kantornya.
Beberapa saat kemudian mobil Kavi sudah berhenti tepat di depan gedung perkantoran dimana Anna bekerja. Tak lama kemudian Anna keluar dengan menenteng tas kerjanya dan menghampiri Kavi.
“Sorry membuatmu menunggu lama, Kav!” ucap Anna setelah dipersilakan masuk oleh Kavi.
“Nggak masalah. Aku baru sampai lima menit yang lalu, kok.” Jawab Kavi santai.
“Btw, apa nggak ada yang marah nih kalau kita jalan berdua?” tanya Anna berbasa-basi.
“Santai saja, aku ini pria lepas!” gurau Kavi sontak membuat Anna tertawa.
“Mau makan dimana nih?” tanya Kavi dengan tangan yang masih fokus dengan kemudinya.
“Di restaurant cepat saji yang ada di jalan Anggrek saja, aku sudah lama tidak makan di sana. Apa kamu keberatan?”
“Ok, aku tidak masalah.” Jawab Kavi.
Mereka berdua masuk ke dalam restaurant dan langsung memesan makanan masing-masing. Kebetulan juga saat itu Karin yang melayani.
“Kak Kavi!” panggil Karin dengan nada terkejut.
“Iya, Rin.” Jawab Kavi dengan tersenyum pada perempuan itu.
Setelah itu tatapan Karin tertuju pada seorang wanita berpenampilan rapi sedang berdiri tepat di sebalah Kavi. Menurut Karin, wanita itu mungkin kekasih Kavi. Karena terlihat dari perhatian Kavi terhadap Anna.
Usai memesan makanannya, Kavi mencari tempat duduk yang nyaman bersama Anna. Karin pun terus melihat interaksi dua orang itu. Kavi juga tak henti-hentinya mengulas senyum pada Anna saat sedang menikmati makanannya.
“Siapa perempuan tadi, Kav? Sepertinya kenal dekat denganmu?” tanya Anna.
__ADS_1
“Oh, dia Karin. pacar adikku.” Jawab Kavi.
Anna hanya menganggukkan kepalanya, lalu kembali menikmati makanannya. Anna merupakan salah satu karyawan di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang komunikasi. Dia perempuan yang menurut Kavi sangat nyaman diajak bicara. Kavi cukup menilai Anna dari luar kalau dia bukan tipe perempuan yang dalam kategori tidak baik. Saat pertemuan pertamanya kemarin saat di café, memang Anna tidak memiliki teman. Dia yang baru saja dipindah tugaskan oleh perusahaan ke sini, membuatnya susah beradaptasi. Hingga tanpa sengaja melihat Kavi yang sedang duduk sendirian.
Anna tinggal di sebuah apartemen bersama adiknya yang masih duduk di bangku kuliah. Beruntung dia dipindahkan ke kota ini, hingga bisa bersama sang adik.
Drt drt drt..
Anna menghentikan makannya kala ada panggilan dari adiknya. Cukup serius perempuan itu bicara melalui sambungan telepon. Setelah itu wajahnya tampak kusut setelah panggilan itu berakhir.
“Kav, sorry ya aku pulang dulu! Adikku baru saja bilang memintaku untuk segera pulang.” ucap Anna dengan nada kecewa.
“Oh, nggak apa-apa. Biar aku antar saja sekalian.”
“Nggak usah, lain kali saja. kamu selesaikan dulu makan kamu, aku bisa naik taksi.” Tolak Anna, dan bergegas pergi meninggalkan Kavi sebelum pria itu memaksanya.
Kavi hanya menghembuskan nafasnya pelan. Akhirnya dia melanjutkan makannya, setelah itu pulang.
Tepat saat Kavi hendak masuk ke dalam mobilnya, ia melihat Karin yang baru saja keluar dari restaurant. Sepertinya memang Karin akan pulang dan berganti shift dengan temannya.
“Karin, ayo sekalian pulang sama aku!”
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Happy Reading!!