Perseteruan 2 Calon Pewaris

Perseteruan 2 Calon Pewaris
12. Jatuh Cinta Pada Pandangan Pertama


__ADS_3

“Karin, ayo sekalian pulang sama aku!”


Kavi menghamipri Karin yang sedang berjalan dengan dua orang temannya. Sontak saja hal itu membuat dua teman Karin saling berbisik membicarakan sosok Kavi yang sangat tampan.


“Eh, nggak usah, Kak. Aku naik ojek saja.” tolak Karin dengan sopan.


“Nggak apa-apa, aku antar saja. ada yang sekalian ingin aku tanyakan sama kamu.” Ucap Kavi lalu menarik tangan Karin dan membawanya masuk ke dalam mobil. Dia tidak peduli dengan tatapan teman-teman Karin saat ini.


Sesampainya di dalam mobil, Kavi langsung melajukan mobilnya. Dia tidak langsung membawa Karin ke rumah, melainkan ke suatu tempat. Hingga membuat Karin merasa tidak nyaman.


“Tenang saja, aku nggak akan ngapa-ngpain kamu kok, Rin!” ucap Kavi seolah mengerti apa yang ada dalam pikiran perempuan itu saat ini.


“Apa kamu ada janji dengan Mirza malam ini?” tanya Kavi.


“Tidak, Kak. Dia bilang sedang sibuk.”


Biasanya memang Mirza akan menjemput Karin saat pulang kerja. Namun akhir-akhir ini kesibukannya membuat Mirza tidak bisa lagi menjemput kekasihnya itu. Mirza hany sempat mengantar Karin berangkat kerja.


Kavi hanya menganggukkan kepalanya. Kemudian ia melanjutkan mengemudikan mobil sampai ke suah café yang sedikit jauh dari kota. Bukan café langganannya, melainkan café yang tempatnya sedikit sepi. Karena dia memang ingin bicara serius dengan Karin untuk menanyakan perihal tentang Mirza.


“Apa kamu keberatan, untuk singgah di sini sebentar?” tanya Kavi saat mereka baru saja duduk dan memesan minuman.


“Nggak, kok Kak.”

__ADS_1


Kavi melihat buku menu. Ia memesan minuman untuk dirinya sendiri juga untuk Karin.


“Bagaimana hubunganmu dengan Mirza?” tanya Kavi.


“Baik-baik saja, Kak. Memangnya ada apa?” Karin bertanya balik.


Kavi menghembuskan nafasnya. Akan dia menceritakan pada Karin semuanya. Tentang hubungannya yang sedikit merenggang. Tapi saat ini dia memang ingin tahu tentang adiknya. Kavi tidak ingin adiknya terjerumus dalam hal bodoh dalam hidupnya hingga menyebabkan hubungan persaudaraanya renggang. Mungkin saja Karin tahu sedikit hal tentang pekerjaan Mirza.


“Sebenarnya ada apa, Kak?” pertanyaan Karin berhasil menyadarkan Kavi.


“Oh, begini Rin. Sorry sebelumnya. Aku hanya ingin tanya sama kamu, apakah kamu tahu bagaimana pekerjaan Mirza selama ini? maksudku tentang bisnisnya, kamu tahu kan?”


“Aku juga tidak tahu pasti, Kak. Pasalnya Mirza tidak pernah bilag mengenai bisnisnya itu. dia bilang kalau beberapa hari ini sedang sibuk. Dan dia juga pernah bilang tentang kebingungannya untuk memilih…”


Karin berkata dengan dnegan ragu di akhir kalimatnya. Apakah pantas dia mengatakan semua itu pada Kavi. Tapi sepertinya juga tidak ada salahnya. Lagipula memang tidak ada rahasia apapun yang disimpan Mirza.


Setelah itu Karin mengatakan kalau saat itu Mirza sempat meminta saran. Karin juga mengatakan kalau sudah memberi saran agar Mirza memastikan dengan hatinya. Karena semua itu tidak mudah. Dan Kavi pun setuju dengan yang diucapkan Karin. bahkan Kavi bisa menilai pemikiran Karin yang sangat dewasa, tapi kenapa adiknya tidak.


Tak ingin berlarut-larut membahas Mirza, akhirnya Kavi menyudahi pembicaraan itu. dia juga tidak enak dengan Karin, karena waktu juga sudah malam.


Dalam perjalanan pulang, obrolan Kavi dan Karin hanya obrolan ringan. Kavi juga sudah jengah menghadapi sifat adiknya yang susah diatur itu.


“Yang buat aku penasaran sampai saat ini, bagaimana dulu ceritanya kalian bisa menjalin hubungan? Aku tidak menyangka kalau adikku yang tengil itu bisa mendapatkan perempuan seperti kamu.” Tanya Kavi menatap sekilas pada Karin.

__ADS_1


“Yang namanya jatuh cinta kan memang tidak butuh alasan juga, Kak.”


“Ya, ya aku tahu. Mirza dulu hanya pernah mengatakan kalau kamu adik kelasnya. Dan dia sudah lama ingin mendekatimu. Benarkah?” tanya Kavi memastikan.


“Iya. tapi aku memang sejak dulu tidak pernah mempedulikan Mirza yang berusaha mendekatiku. Tapi karena suatu kejadian, di saat itulah aku baru merasakan jatuh cinta. Ternyata orang yang membuatku jatuh cinta adalah laki-laki yang selama ini berusaha mendekatiku.” Jawab Karin sambil membayangkan kepingan ingatan manis saat pertama kalinya melihat mata hazel Mirza.


“Benarkah? Wah, ternyata anak itu mampu membuatmu jatuh cinta pada pandangan pertama. memang kajadian apa?” tanya Kavi ingin tahu.


“Ya, kejadian waktu kami masih sekolah. Saat itu aku sedang berangkat sekolah. Aku nggak tahu bagaimana ceritanya tiba-tiba saja ada mobil yang akan menabrakku. Beruntungnya ada seseorang yang menyelamatkanku. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi kalau orang itu tidak menyelamatkanku. Dan dari tatapan matanya saat pertama kali melihatnya, di saat itu dia sedang memelukku, di saat itulah aku jatuh cinta pada pandangan pertama.” ucap Karin dengan mengembangkan senyum sambil mengingat kenangan manis itu.


Deg


Suara Kavi tercekat mendengar cerita Karin. Kavi termasuk tipe orang yang selalu ingat dengan beberapa kejadian mas lalunya. Dan dia ingat dengan jelas apa yang baru saja diceritakan oleh Karin. gadis berseragam SMA. Berjalan, dan ada mobil yang akan menabraknya. Lalu dia berlari menyelamatkan gadis itu. Kavi ingat saat itu sempat menanyakan keadaan gadis itu, sebelum akhirnya dia pingsan.


“Kenapa, Kak?” tanya Karin yang melihat Kavi tampak aneh. Bahkan saat ini Kavi menghentikan mobilnya.


“Apa..apa kamu yakin kalau orang yang menyelamatkan kamu itu adalah orang yang membuatmu jatuh cinta pada pandangan pertama, Rin?”


.


.


.

__ADS_1


*TBC


Happy Reading!!


__ADS_2