
Kavi saat ini sudah berada di kantor. jam pulang kerja karyawannya sudah hampir tiba. Namun dia ada sedikit pekerjaan penting. Ternyata di sana ada Ayahnya.
“Ayah? Apakah Ayah di sini sejak tadi? Maaf, Kavi tadi tidak langsung pulang setelah mengunjungi Mirza.” Ucap Kavi merasa tidak enak dengan Ayahnya.
“Nggak apa-apa. Ayah juga baru datang setelah makan siang tadi.” Jawab Sean tak mempermasalhkan Kavi yang baru datang.
Kavi hanya mengangguk lalu masuk ke dalam ruangannya. Dia membuka beberapa laporan yang dikirim oleh sekretarisnya tadi melalui email. Selebihnya pekerjaan itu akan ia bawa pulang nanti dan dikerjakan di rumah saja.
***
Sudah seminggu ini Mirza berada di rumah tahanan. Selama itu pula Lidia masih terus dilanda kesedihan. Sean dan Kavi sudah berulang kali menenangkan wanita itu agar tidak terlalu memikirkan Mirza. Bahkan dua anak Lidia dari pernikahannya terdahulu juga ikut memberikan nasehat pada Mamanya. Tapi tetap saja.
“Bagaimana kalau hari ini Kavi antar Mama mengunjungi Mirza? Bukankah Mama sama sekali belum melihat keadaan Mirza? Mungkin setelah itu hati Mama akan lega?” usul Kavi saat sedang berada di ruang makan bersama kedua orang tuanya.
Memang benar kalau sejak Mirza dipindahkan ke rumah tahanan, sampai saat ini Lidia masih belum mengunjungi anak bungsunya itu. bukan karena tidak ingin melihat Mirza, melainkan hati Lidia yang belum siap melihat keadaan anaknya. bayangan Lidia, orang yang berada di rumah tahanan pasti keadaannya tidak baik-baik saja. badan kurus tak terawatt. Atau mungkin mendapat perlakuan buruk dari rekan sesama tahanannya.
“Iya benar yang dikatakan Kavi, Sayang. Kamu pergilah melihat keadaan Mirza. Dia juga butuh support dari mamanya.”
Setelah berpikir beberapa saat, ada benarnya juga ucapan Kavi dan suaminya. akhirnya Lidia mengangguk mengiyakan. Lidia akan menjenguk Mirza sekaligus memberikan support pada anaknya itu.
Lidia sudah siap dengan makanan yang akan diberikan untuk Mirza nanti. dia sudah tidak sabar ingin memeluk anak bungsunya itu. meskipun wanita itu tahu kesalahan yang diperbuat oleh anaknya, tetap saja Lidia tidak pernah sedikitpun menghilangkan kasih sayangnya pada Mirza. Mirza tetap anaknya.
Setelah melalui beberapa pemeriksaan dan menunggu antrian untuk masuk, akhirnya Kavi dan Mamanya masuk ke dalam. Beberapa sipir yang bertugas memanggil napi yang ingin dikunjungi, tak berselang lama Mirza datang.
Mata Lidia berkaca-kaca saat melihat Mirza berjalan dengan menundukkan kepalanya. Lidia yang sudah tidak sabar langsung menghampiri anaknya dan memeluknya dengan erat. Tangis Lidia pecah. Begitu juga dengan Mirza yang semakin mengeratkan pelukannya. Jujur dia juga sangat merindukan pelukan sang Mama yang sudah lama tidak pernah ia lakukan.
__ADS_1
Mirza mengajak mamanya mencari tempat duduk yang nyaman. Dia melihat kebaradaan kakaknya, tapi sama sekali tidak menegurnya. Mirza justru sibuk sendiri dengan Mamanya.
Lidia mengulas senyumnya saat melihat Mirza makan makanan yang dibawakannya dengan sangat lahap. Mirza masih seperti anak kecil di mata Lidia jika sedang makan seperti ini. bahkan wanita paruh baya itu mengusap mulut Mirza yang belepotan karena makanannya.
“Pelan-pelan dong, Za! Mama nggak akan minta. Nanti setiap minggu Mama usahakan untuk datang membawakan makanan kesukaan kamu.” Ucap Lidia.
Mirza hanya mengangguk antusisa karena mulutnya saat ini penuh dengan makanan. Lidia lega melihatnya.
Kavi diam saja melihat interaksi antara Mama dan adiknya. Bukankah dengan begitu Mirza bisa menilai sendiri. Kalaupun dirinya benci, kenapa sampai membawa Mamanya datang ke sini. tapi sayangnya Mirza tidak peduli. Melihat reaksi adiknya yang enggan menatapnya saja Kavi sudah tahu kalau adiknya masih marah dan membencinya.
“Bagaimana dengan Karin? apa dia juga sering datang ke sini?” tanya Lidia tiba-tiba.
Mirza jelas terkejut mendapati pertanyaan itu dari Mamanya. Tidak mungkin untuk masalah pribadinya itu Mamanya diberitahu. Biarlah itu menjadi rahasia antara dia dengan Karin.
“Syukurlah kalau dia mau ke sini. itu tandanya dia mencintai kamu bagaimanapun keadaan kamu.” Lanjut Lidia tersenyum lega.
Waktu kunjungan sudah habis. Sebenarnya Lidia enggan meninggalkan Mirza. Tapi dengan melihat keadaan anak bungsunya itu baik-baik saja, Lidia sangat lega.
“Kamu baik-baik ya, Za? Mama janji akan sering datang ke sini.” ucap Lidia setelah memeluk Mirza.
“Iya, Ma. Terima kasih.”
Kavi hanya menepuk pelan punggung adiknya. Meskipun Mirza hendak menolak, namun dia sadar kalau sedang ada Mamanya. Dia tidak ingin Mamanya tahu.
Usai menjenguk Mirza, Kavi langsung mengantar Mamanya pulang. karena Kavi juga masih sibuk di kantor dan tidak bisa berlama-lama berada di luar.
__ADS_1
***
Hari ini Kavi lumayan sibuk dengan pekerjaannya. Pukul delapan malam dia baru saja selesai. setelah itu ia bergegas membereskan pekerjaannya, lalu pulang.
Kavi ingat kalau dia tadi melewatkan makan malamnya. Kini saat dalam perjalanan pulang perutnya terasa lapar. Akhirnya ia memutuskan untuk mencari rumah makan terdekat yang bisa mengatasi kelaparannya.
Dan di sini lah dia berada. Di restaurant cepat saji di mana Karin bekerja. Tepat saat Kavi masuk, dia berpapasan dnegan Karin yang hendak pulang.
“Karin? kamu apa kabar?” tanya Kavi berbasa-basi.
“Kak Kavi? Ehm, aku baik Kak.”
“Kamu mau pulang? bagaimana kalau ikut makan dengan aku dulu? Nanti aku antar pulang sekalian.”
“Tidak, Kak. Maaf, aku harus pulang sekarang.” Jawab Karin singkat lalu segera pergi meninggalkan Kavi.
.
.
.
*TBC
Happy Reading!!
__ADS_1