
Saat ini Karin sudah berada di rumah sakit. Ia sedang menuju ruang ICU di mana Mirza sedang di rawat. Ternyata di luar ruangan itu ada Lidia yang sedang menunggui Mirza.
“Tante Lidia!” sapa Karin.
“Karin?”
Kedua wanita itu sama-sam terkejut. Terutama Lidia yang sudah lama tidak bertemu dengan Karin semenjak kedua anak laki-lakinya dirawat di rumah sakit. Namun ia tidak ingin berpikir macam-macam. Dengan bertemu Karin seperti sekarang ini sudah cukup membuat Lidia bahagia.
“Bagaimana keadaan Mirza, Tante?”
“Masih sama. Dia belum bangun. Dokter masih ada di dalam mengecek perkembangan keadaan Mirza.”
Karin duduk di samping Lidia. Tidak ada percakapan diantara dua wanita itu, selain menunggu dokter keluar dari ruangan Mirza. Dan tak lama kemudian dokter keluar dari ruangan itu bersama seorang perawat.
“Bagaimana keadaan anak saya, dok?” tanya Lidia penasaran.
“Masih sama, Nyonya. Beberapa hari yang lalu memang ada sedikit perkembangan. Saya selalu menyarankan agar keluarga terdekatnya selalu mengajak bicara. Dnegan begitu bisa menstumulasi otak pasien, dan alam bawah sadarnya akan menerimanya dengan baik. Mungkin dari orang terdekatnya atau orang yang laing berarti dalam hidupnya bisa membantu pasien sadar dari komanya. Jangan patah semangat, Nyonya! Tidak ada penyakin yang tidak ada obatnya.” Ujar dokter itu panjang lebar.
Lidia mengangguk paham dengan ucapan dokter. meskipun tidak setiap hari bisa menemui Mirza, namun Lidia tak henti-hentinya mengajak anak bungsunya itu bicara saat sedang terbaring koma. Doa juga tak pernah surut ia panjatkan demi kesembuhan Mirza.
Karin yang berada di dekat Lidia juga ikut menyimak apa yang dikatakan oleh dokter baru saja. setelah kepergian dokter itu, Karin meminta ijin pada Lidia untuk masuk menemui Mirza.
__ADS_1
“Iya, silakan!” Lidia membiarkan Karin masuk menemui anaknya. dia berharap dengan kehadiran Karin, Mirza bisa segera sadar.
**
Karin duduk di kursi sebelah brankar Mirza. Jujur saja, melihat keadaan Mirza yang sedang terbaring lemah tak berdaya itu membuat Karin iba. Dia tidak menyangka kalau pria yang dulu pernah mengisi hari-harinya sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja. terlebih Karin teringat dengan kajadian pilu antara Mirza dan Kavi beberapa waktu yang lalu.
Karin tidak menyangka kalau Mirza bisa bertindak impulsive seperti itu terhadap kakaknya. Hanya karena tahta dan wanita, kedua saudara itu berseteru. Mirza yang ia kenal saat itu bukan seperti Mirza yang dulu. Mata hati Mirza sudah tertutup dengan emosi sesaat yang pada akhirnya menyengsarakan dirinya sendiri.
“Za!” panggil Karin dengan suara lirih. Dia memberanikan diri menyentuh lengan Mirza yang tampak putih pucat itu.
“Mau sampai kapan kamu akan seperti ini? bangunlah, Za! Maaf, aku baru datang menjengukmu.”
“Bangunlah, Za! Kamu tidak perlu takut jika bangun nanti akan dibenci oleh orang-orang terdekatmu. Kembalilah jadi Mirza yang seperti aku kenal dulu. Masa depanmu masih panjang. Banyak yang menyayangimu dan menunggumu.” Lanjut Karin dengan menahan rasa sesak di dadanya. Sungguh hatinya sangat sakit bicara seperti ini pada Mirza. Sakit karena mengingat Kavi yang sampai merelakan hubungannya demi adiknya sendiri.
“Maaf, Za! Aku tidak bisa berlama-lama di sini. aku tidak akan datang lagi ke sini, aku tunggu kabar baik dari mau. Cepatlah sembuh! orang-orang yang menyayangimu sangat menunggu kesembuhan kamu.” Ucap Karin sebelum beranjak keluar dari ruangan ICU.
Karin keluar begitu saja dari ruangan Mirza dirawat. Kebetulan juga tidak ada Lidia di sana. Entah kemana wanita itu pergi.
Setelah menemui Mirza, Karin tidak langsung pulang. dia berhenti dulu di sebuah taman rumah sakit yang tempatnya cukup teduh dan sepi. Di sana dia duduk seorang diri sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Karin menangis tergugu namun suara isakannya tertahan. Dia tidak sanggup jika harus kehilangan Kavi. Rasa cintanya yang terlalu dalam membuatnya sulit untuk melepas pria itu.
Meskipun hubungannya dengan Kavi cukup singkat jika dibandingkan dengan Mirza dulu, nyatanya kedalaman cinta tidak diukur dari berapa lama mereka bersama. Dada Karin semakin sesak mengingat kebersamaannya dengan Kavi selama ini. tidak bisakah dia egois dan lebih memilih mempertahankan Mirza. Menahan pria itu agar tidak pergi. Tapi sekali lagi, Karin ingat dengan ucapan Kavi yang lebih memilih saudaranya.
__ADS_1
“Kak, aku tidak sanggup melalui ini semua.” Tangisnya pilu dengan kedua tangan masih menutupi wajahnya.
Sementara itu, tak jauh dari tempat Karin duduk, Kavi sedang berdiri melihat Karin yang sedang menangis. Dia juga melihat Karin datang menemui adiknya. Sampai Karin keluar dan memilih duduk di bangku taman seorang diri.
Sebenarnya Kavi ingin menghampiri Karin dan memeluk perempuan itu. namun sayangnya dia tidak bisa. Kavi takut jika bertemu dengan Karin justru akan membuatnya sulit untuk melepas perempuan yang masih mempunyai tempat istimewa di hatinya.
“Maafkan aku, Karin! ini jalan yang terbaik untuk kita berdua. Aku harap dengan perlahan kamu bisa melupakan aku. selamat tinggal!” lirihnya sebelum pergi meninggalkan rumah sakit.
**
Lidia yang baru saja menerima panggilan dari suaminya, kini kembali ke ruangan Mirza. Namun ia terkejut saat melihat dokter dan seorang perawat baru saja keluar dari ruangan anaknya.
“Apa yang terjadi dengan anak saya, dok?” tanya Lidia khawatir.
“Pasien sudah bangun dari komanya, Nyonya!”
.
.
.
__ADS_1
*TBC
Happy Reading!!