Perseteruan 2 Calon Pewaris

Perseteruan 2 Calon Pewaris
85. Undangan Pernikahan Mirza dan Karin


__ADS_3

Mirza masih belum percaya dengan jabatan baru yang kini diembannya. Terlebih setelah mengetahui kenyataan bahwa kakaknya telah pergi jauh. Ada rasa bersalah yang bercokol dalam hati Mirza terhadap kakaknya. Namun dia tidak bisa bertemu dengan Kavi untuk menyampaikan rasa penyesalannya itu. apalagi Ayahnya sudah mempercayakan semua ini pada dirinya dan membiarkan kakaknya pergi untuk menenangkan diri.


Mungkin ucapan Ayahnya ada benarnya. Mirza harus menghargai keputusan kakaknya. Tapi tidak dengan berbangga diri atas jabatannya sekarang. Mirza mungkin bisa saja mencari keberadaan kakaknya sekarang dimana. Namun dia tidak melakukannya. Dia tahu kalau kakaknya butuh ketenangan setelah beberapa kejadian pahita menimpanya. Apalagi hubungannya dengan Karin sudah berakhir.


Mirza bertekat dalam dirinya. Dia teringat dengan ucapan Karin. dia harus membuat bangga kedua orang tuanya. Jadi ia sekarang harus menerima jabatan yang diserahkan langsung oleh kakaknya. Dia akan membuktikan kesungguhannya dalam bekerja di perusahaan sang ayah. Mirza juga harus memberikan bukti pada kakaknya kalau ia juga seperti Kavi, yang mempunyai hati luas.


Mulai hari itu juga, Mirza bekerja dengan sungguh-sungguh di perusahaan pusat. Meskipun di hatinya masih diselimuti rasa penuh penyesalan pada kakaknya, tapi tidak ada cara lain selain bekerja dengan sungguh-sungguh.


Begitu juga dengan Karin. perempuan itu sudah kembali menata kehidpannya setelah kepergian Kavi dari hidupnya. Karin tidak mau lagi mendengar kabar tentang Kavi ataupun mencari tahu tentang mantan kekasihnya itu. yang ada hanya akan membuat dadanya semakin sesak. Kenapa? Karena sampai saat ini rasa cinta untuk Kavi masih tersimpan rapat dalam hatinya. Entah rasa itu akan menghilang secara perlahan atau terus bertahan di hatinya.


Karin juga akhirnya memutuskan untuk kuliah. Dia teringat saat dulu akan daftar kuliah dengan dukungan dari Kavi. Namun sekarang pria itu sudah tidak lagi bersamanya. Tapi hal itu tidak menyurutkan semangatnya untuk melanjutkan pendidikannya.


Kedua orang tuanya pun mencarikan universitas terbaik untuk Karin. namun masih berada di dalam negeri. Karin tidak ingin kuliah di luar negeri karena selain tidak mau jauh dari kedua orang tuanya, dia juga tidak ingin meninggalkan kenangan yang sempat dia ukir bersama Kavi di kota ini.


Sedangkan Kavi sendiri yang berada di luar negeri, pria itu juga tampak hidup dengan baik. Walau dari luarnya saja terlihat baik. Karena dalam hatinya tak ada seorang pun yang mengetahuinya. Kecuali dirinya sendiri.

__ADS_1


Selama di luar negeri, Kavi tinggal di salah apartemen milik Chandra, kakak tirinya. Dia juga bekerja di perusahaan sang kakak dengan jabatan rendah. Sama seperti karyawan lainnya. Msekipun Chandra sudah memaksanya untuk ditempatkan si posisi yang nyaman, tapi Kavi menolaknya. Dia ingin merasakan bekerja membangun karirnya dari bawah. Tidak seperti sebelumnya, yang langsung ditempatkan di posisi atas oleh Ayahnya, hingga terjadi kesenjangan sosial dengan adiknya sendiri.


Waktu berlalu begitu cepat. Selama tinggal di luar negeri, Kavi hanya sesekali bertanya kabar tentang kedua orang tuanya. Terkadang sama Mirza juga. Ya, hubungannya dengan Mirza memang baik-baik saja. tidak ada dendam di hati Kavi terhadap adiknya. Namun selama berkomunikasi dengan Mirza, Kavi hanya bertanya kabar saja. tidak lebih dari itu. bahkan jika Mirza mulai bertanya hal yang lebih jauh, Kavi selalu menghindar.


Selama bekerja di perusahaan kakaknya, Kavi juga masih berinteraksi dengan mantan asistennya yaitu Orion. Bahkan saat ini Orion menjadi asisten Mirza. Banyak sekali yang diceritakan oleh Orion tentang Mirza. Namun Kavi hanya menanggapinya dengan senyuman. Bahkan Orion sempat mengatakan kalau Mirza pernah jalan berdua dengan Karin. Kavi hanya biasa saja menanggapinya. Karena sedari awal ia sudah mengikhlaskan Karin untuk Mirza. Walau dalam hatinya sangat sesak.


***


Tanpa terasa Kavi sudah tinggal lama di luar negeri. sudah hampir tiga tahun ini dia tidak pulang sama sekali. Namun kedua orang tuanya lah yang datang. sedangkan Mirza sampai saat ini masih belum berani menemui sang kakak. Karena dia merasa belum cukup sukses dan belum ada yang ditunjukkan pada kakaknya kalau dia mampu seperti kakaknya.


Weekend ini Kavi memilih stay di apartemen saja. dia malas keluar jika untuk kegiatan yang tidak penting. Jadi dia memilih menghabiskan waktu di apartemen dengan main game.


Beberapa saat kemudian Kavi sudah berhenti dari game yang cukup menita banyak waktu itu. ia merasa perutnya lapar. Akhirnya ia memutuskan untuk keluar apartemen untuk pergi ke restaurant cepat saji.


Drt drt drt…

__ADS_1


Kavi mengurungkan niatnya untuk pergi saat ada notif pesan masuk ke ponselnya. Si pengirim pesan itu adalah Mirza. Sangat jarang sekali Mirza mengirim pesan padanya. Apalagi di jam seperti ini. karena penasaran, akhirnya ia pun membuka pesan itu.


“Kak, bulan depan pulanglah! Aku akan menikah dengan Karin. aku ingin kakak menjadi saksi di hari bahagiaku.”


Tubuh Kavi bergetar saat membaca pesan singkat yang dikirim oleh adiknya baru saja. pesan singkat yang secara tidak langsung berisi undangan pernikahan Mirza dan Karin.


Sebuah kenyataan pahit yang sekali lagi datang menghantam hati Kavi. Dan ternyata hari itu tiba. Hari dimana adiknya bahagia dengan wanita yang pernah ia cintai juga.


.


.


.


*TBC

__ADS_1


Happy Reading!!


 


__ADS_2