
Perjalanan Kavi menuju sebuah hutan yang ada di pulau terpencil membutuhkan waktu sekitar dua hari. Kavi pergi ke sana ditemani oleh orang-orang yang sudah sangat ahli di bidangnya. Maxim juga ikut dalam perjalanan itu, hanya saja ia menunggu di tempat yang sudah ditunjuk oleh Kavi. Karena Maxim menggunakan helikopternya untuk membantu Kavi jika terjadi hal buruk.
Dalam perjalanan, Kavi sibuk dengan Macbook di tangannya. ia ingin melacak keberadaan sebuah rumah yang ada di tengah hutan itu. sekaligus ingin meretas beberapa alat teknologi yang terpasang sepanjang jalan menuju hutan.
Jika orang biasa yang masuk ke hutan itu, mereka pasti akan kehilangan sinyal dan tidak bisa berkomunikasi dengan siapapun. Tapi tidak dengan Kavi. Dengan teknologi bantuan dari Ayahnya, ia bisa berkomunikasi dengan siapapun dan dengan mudah juga. termasuk dengan Maxim.
Perhitungan waktu yang diperkirakan Kavi untuk tiba di hutan itu sesuai. Perjalanan selama dua hari akhirnya sudah membawanya masuk ke tengah hutan yang cukup mengerikan. Pasalnya hutan itu masih liar, dan tentunya jarang dijamah manusia karena banyak binatang buas di sana.
Kavi bersama tiga orang anak buahnya kini masih berhenti. Ia mencari suatu petunjuk untuk mengantarnya menemukan rumah yang diduga sebagai tempat menyekap kedua orang tua Karin.
“Tuan, saya menemukan sebuah kabel kecil yang tertanam di dalam tanah.” Ucap salah satu anak buah Kavi.
“Hati-hati! Pastikan kabel itu bukan jebakan yang sengaja dipasang untuk mencelakai orang yang masuk ke hutan ini.” ucap Kavi waspada.
Kavi kembali mengoperasikan Macbooknya. Ia melihat sinyal, ada sebuah mobil juga baru saja memasuki hutan ini. namun setelah diteliti, ia seperti mengenali mobil itu. yang tak lain mobil salaah satu anak buah Ayahnya.
Kavi menghembuskan nafasnya pelan. Ternyata diam-diam ayahnya menyuruh beberapa orang untuk mengikutinya. Kavi pun tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
Cukup lama Kavi berdiam diri di dalam mobil. Ia sudah berhasil menghapus beberapa rekam jejak kedatangannya masuk ke hutan ini. karena dia yakin kalau orang yang menyekap kedua orang tua Karin sudah memasang beberapa alta canggih.
“Bagaimana? Apa kabel itu memang berbahaya?” tanya Kavi pada salah satu anak buahnya.
__ADS_1
“Sepertinya tidak, Tuan. Kabel itu justru petunjuk yang akan membawa kita menuju rumah itu.” jawabnya dengan yakin.
Akhirnya Kavi mengikuti saran yang diberikan oleh anak buahnya. Walau agak sulit karena mobil yang ia kendarai tidak bisa masuk lebih dalam lagi. jadi mereka terpaksa berjalan kaki dan mengikuti petunjuk dari kabel yang tertanam di dalam tanah itu.
Kavi dan ketiga anak buahnya berjalan dengan hati-hati dan waspada jika tiba-tiba ada serangan dari binatang buas di sekitarnya. Dan setelah menempuh perjalanan kaki selama kurang lebih tiga puluh menit, Kavi benar-benar menemukan sebuah rumah yang persis berada tepat di tengah hutan.
Rumah kecil dengan bangunan kokoh itu sangat sulit dipercaya karena bisa dibangun di tengah hutan. Dari jauh saja Kavi bisa melihat kalau di sekeliling rumah itu sudah dilengkapi beberapa teknologi canggih yang tentunya tidak mudah dimasuki oleh sembarangan orang. Namun Kavi akan tetap masuk ke dalam rumah itu.
Kavi sangat yakin kalau rumah itu tidak ada penjaganya. Hanya dijaga oleh teknologi canggih dan pastinya akan membahayakan orang asing yang ingin masuk ke sana.
“Tuan, jangan pergi dulu!” cegah salah satu anak buah Kavi.
Benar saja, anjing itu langsung menggonggong. Kavi dan ketiga anak buahnya mundur dan mencari tempat persembuanyian. Lalu orang yang baru keluar dari rumah itu kembali masuk. Dan kembali keluar dengan menuntun tiga anjing pelacak lagi. jadi total ada empat anjing pelacak. Dan tidak menunggu lama, keempat anjing itu dilepas ke tengah hutan untuk mencari orang asing yang berniat memasuki rumah itu.
Sontak saja Kavi dan ketiga anak buahnya kalang kabut. Apalagi salah satu anak buah Kavi yang kini sudah berlari dikejar anjing itu. sedangkan Kavi langsung memanjat pohon dan dengan cepat menghubungi Maxim untuk bersiap terbang menuju titik keberadaannya.
Kedua anak buah Kavi yang lainnya berlari menjauhi rumah itu dengan senagaj, agar dikejar anjing-anjing pelacak tadi. bahkan anak buah Sean juga ikut memancing anjing pelacak itu agar bisa memberi kesempatan pada Kavi untuk bisa masuk ke dalam rumah.
Jadi kini Kavi hanya berhadapan dengan satu orang yang diduga penjaga rumah itu. Kavi tidak gentar walau hanya menghadapi satu orang berbadab kekar itu.
“Hei, siapa kau?” teriak orang itu dengan menodongkan senjata laras panjangnya.
__ADS_1
Kavi menghentiak langkahnya. Dia tahu kalau sekali menarik pelatuk senjata itu, nyawanya akan melayang begitu saja. dia masih diam sambil mengangkat kedua tangannya. orang itu masih menodongkan senjatanya tepat ke arah Kavi.
Beruntung sekali Maxim datang tepat waktu. Meskipun orang itu mendengar suara sebuah helicopter, namun ia tetap menembak Kavi.
Dor
Kavi berhasil tiarap saat peluru itu berhasil lepas. Kemudian Maxim yang baru saja mendarat, langsung melempar tembakan gas air mata pada pria itu. sontak saja senjatanya langsung terlepas. Dan Maxim yang sudah memakai pelindung segera mendekati pria itu dan menghajarnya.
Kavi pun memanfaatkan kesempatan untuk masuk ke dalam rumah itu. rumah yang hanya terdiri dua kamar saja. dan tepat saat membuka salah satu kamar, Kavi melihat sepasang suami istri yang sedang duduk santai di kursi.
“Jangan mendekat! Kursi ini akan meledak jika kamu nekat ke sini.” ucap pria yang sedang duduk itu.
.
.
.
*TBC
Happy Reading!!
__ADS_1