Perseteruan 2 Calon Pewaris

Perseteruan 2 Calon Pewaris
38. Ucapan Perpisahan


__ADS_3

“Aku sangat merindukan Kak Kavi!”


Kavi menajamkan pendengarannya. Benarkah yang diucapkan Karin baru saja. perempuan itu juga merindukannya.


“Rin? Coba katakan sekali lagi!” pinta Kavi memegang kepala Karin agar menghadap ke arahnya.


Karin menganggukkan kepalanya lalu menyunggingkan senyum manisnya. Kavi mendadak speechless. Kalau Karin merindukannya, apakah itu tandanya Karin menerima cintanya.


“Kalau kamu merindukan aku, apakah kamu…-“


“Iya. aku juga mencintai Kak Kavi.” Sahut Karin dengan cepat.


Kali ini giliran Kavi yang menarik Karin dalam pelukannya. Hatinya benar-benar bahagia akhirnya Karin membalas cintanya. Dia berjanji dalam hatinya akan terus membuat Karin bahagia dan tidak akan pernah mengukir luka di hati Karin.


“Terima kasih. Terima kasih Karin, kamu sudah membalas cintaku.” Gumam Kavi dengan mencium kepala Karin dengan lembut.


Kedua insan yang sedang jatuh cinta itu cukup lama berada di ruang meeting. Lebih tepatnya mereka berdua masih betah melakukan adegan berpelukan. Bahkan Karin sampai melupakan tuganya untuk membereskan meja dari sisa makanan.


“Kak! Ini sudah malam. aku harus segera membereskan semua ini dulu. Nanti manager restaurant akan memecatku kalau pekerjaanku tidak beres.” Ucap Karin melepas diri dari pelukan Kavi.


“Biarkan saja dia memecatmu. Aku justru akan sangat bersyukur. Dengan begitu kamu bisa ikut aku pulang dan kembali tinggal di kota yang sama denganku.” Jawab Kavi tanpa beban.


Karin diam tak menyahut ucapan Kavi. Tangannya masih sibuk meletakkan piring kotor di atas nampan. Lalu mengelap meja yang terlihat kotor. Tapi tidak dipungkiri kalau ucapan Kavi baru saja membuatnya bimbang. Tinggal kembali di kota yang pernah ia hindari demi mengobati luka hatinya. Tapi untuk tinggal di sini terus juga bukan solusi terbaik. Terlebih setelah cintanya saling berbalas.


“Sudah, Karin! jangan dilanjutkan lagi. aku akan menemui manager hotel agar segera memecatmu.” Ucap Kavi menghentikan aktivitas Karin.


“Kak, kamu ini bilang apa sih? Aku sedang bekerja.” Karin kembali melanjutkan pekerjaannya.

__ADS_1


Kavi semakin dibuat gemas. Akhirnya ia menarik tangan Karin dan membawanya keluar dari ruang meeting. Karin hanya bisa pasrah saat Kavi membawanya keluar dari restaurant yang entah akan pergi kemana.


Kavi mengajak Karin berkeliling kota. Kavi sejak tadi menggenggam tangan Karin. sesekali mengulas senyum dan melirik ke arah Karin. hatinya sungguh sangat bahagia. Ternyata seperti ini rasanya jatuh cinta. Sungguh sangat konyol kedengarannya. Di usianya yang ke dua puluh tujuh, baru kali ini Kavi merasakan indahnya jatuh cinta.


“Kenapa sih, Kak? Sejak tadi senyum-senyum terus?” tanya Karin memberanikan diri.


“Aku sangat bahagia malam ini. akhirnya cintaku terbalaskan.” Jawab Kavi kembali tersenyum menatap mata indah Karin.


Blush


Wajah Karin seketika memerah saat melihat tatapan Kavi. Apalagi senyum pria itu yang begitu menawan.


**


Kavi memang ada pekerjaan di kota ini. tapi dia tidak bisa berlama-lama. Besok dia harus pulang karena ada pekerjaan penting yang tidak bisa ditinggalkannya. Dan malam ini juga ia akan membujuk Karin agar ikut pulang bersamanya.


“Rin, besok aku harus pulang. urusanku di sini sudah selesai.” ucap Kavi dengan memegang lembut tangan kekasihnya.


“Iya, Kak. Aku tahu kalau Kak Kavi seorang pengusaha yang tentunya sangat sibuk.” Jawab Karin mencoba terlihat baik-baik saja.


“Bukan itu maksudku, Rin. Aku ingin kamu ikut aku pulang juga. aku akan mencarikan tempat tinggal yang baru untukmu di sana nanti. jujur, aku tidak bisa jauh dari kamu.” Lanjut Kavi dengan tatapan penuh permohonan.


“Tapi aku di sini juga bekerja, Kak!” tolak Karin.


“Yakin kamu hanya bekerja di sini? bukannya kamu datang ke kota ini karena ingin menyembuhkan luka hati kamu. Lantas, apa hati kamu belum sembuh setelah ucapan cinta kamu tadi?” tanya Kavi namun kali ini tatapan mata Kavi penuh kekecewaan.


Kavi beranjak dari duduknya. Mungkin Karin masih mengingat masa lalunya itu. sedangkan dirinya yang masih penghuni baru dalam hati Karin, harus lebih banyak bersabar menghadapi situasi seperti sekarang ini.

__ADS_1


“Baiklah. Aku tidak memaksa kamu untuk ikut pergi. Aku tahu tentang yang pikirkan saat ini. ya sudah, ayo aku antar pulang! ini sudah malam. aku besok pagi juga harus tiba di bandara.” Lanjut Kavi lebih dulu menuju mobilnya meninggalkan Karin yang masih duduk.


Selama perjalanan pulang keduanya saling terdiam. Sungguh aneh sekali. Beberapa saat yang lalu mereka sama-sama bahagia. Namun sekarang berbanding terbalik. Kavi yang tidak ingin berjauhan dengan kekasihnya, sedangkan Karin menolak ikut pulang karena bayangan masa lalunya masih membekas di hatinya.


“Cepatlah istirahat! Ini sudah malam. oh iya, tadi manager restaurant tidak jadi memecatmu. Tenang saja. tapi kamu besok diminta untuk libur sebagai gantinya hari ini.” Ucap Kavi saat sudah tiba di depan rumah Karin.


Karin hanya mengangguk tanpa banyak berkata. Setelah itu Kavi berpamitan kembali ke hotel dengan meninggalkan kecupan singkat di kening kekasihnya.


“Sampai ketemu lagi, Karin! aku sangat bahagia malam ini. aku usahakan akan sering datang ke sini untuk menemui kamu.” Ucap Kavi.


Grep


Karin memeluk erat tubuh Kavi. Dia benar-benar sedih mendengar ucapan perpisahan dari Kavi. Dia juga tidak rela jika harus berpisah lagi denagn pria itu.


“Apakah masih bisa memesan tiket pesawat untuk penerbangan besok, Kak?”


.


.


.


*TBC


Happy Reading!!


Sabar ya guys kalau alurnya masih slow. Apalagi babnya masih banyak tentang Kavi dan Karin. Nanti akan ada waktunya sendiri bab yang penuh ketegangan. Hehehe….😁😁

__ADS_1


__ADS_2