Perseteruan 2 Calon Pewaris

Perseteruan 2 Calon Pewaris
70. Bersimbah Darah


__ADS_3

Mirza melihat beberapa foto yang ada dalam amplop itu. entah siapa pengirimnya. Namun yang pasti, semua foto itu menunjukkan beberapa pose dan adegan dari dua orang yang sama. Yaitu foto kebersamaan Kavi dan Karin.


Mirza melihat ada foto Kavi sedang memeluk Karin di depan kantor polisi. Dia mengingat dengan jelas moment itu. dimana saat dirinya ditangkap polisi atas kasus yang telah menjeratnya. Dan beberapa foto lainnya, Kavi sedang jalan berdua dengan Karin. lalu foto yang terakhir, darah Mirza semakin mendidih saat Kavi sedang berciuman dengan Karin.


Tangan Mirza terkepal kuat. Amarahnya semakin memuncak. Dia tidak menyangka kalau selama ini kakaknya menusuknya dari belakang. Ternyata sudah sejak lama Karin berselingkih darinya. Tapi kenapa dulu saat ia memutuskan Karin, perempuan itu tampak tidak rela putus darinya. Sebenarnya siapa dulu yang memulai ini semua. Namun Mirza tetap membenci kakaknya. Kavi yang telah merebut perhatiannya dari sang Ayah, mendapatkan posisi paling tinggi di perusahaan, dan kini menjalin hubungan dengan mantan kekasih yang masih ia cintai.


Mirza tidak ingin menyerang Kavi sekarang juga. ia harus menyusun strategi untuk menghancurkan kakaknya itu. kemudian ia merebut kembali Karin untuk menjadi kekasihnya.


Benar saja. setelah mendapat kiriman beberapa foto kemesraan kakaknya dengan Karin, saat itu juga Mirza sudah memberi sedikit pelajaran pada Kavi.


Mirza tahu kalau akhir-akhir ini Kavi jarang pulang ke rumah. entah ada urusan apa, dia tidak tahu. Menurut informasi dari Mamanya kalau Kavi sedang sibuk perjalanan bisnis ke luar kota bersama Ayahnya. Jadi, kesempatan itu Mirza gunakan untuk membuat sedikit kekacauan di perusahaan pusat yang sedang dipimpin oleh Kavi.


“Tunggu saja kehancuranmu setelah ini.” gumam Mirza.


Sedangkan Kavi yang selama beberapa hari ini sibuk melakukan pencarian terhadap kedua orang tua Karin, tiba-tiba saja ia mendapat panggilan dari Ayahnya. Sean sampai marah-marah melalui sambungan teleponnya, dan meminta Kavi agar segera datang ke kantor pusat.


“Bagaimana semua ini bisa terjadi, Kav? Untung saja Orion segera mengetahui masalah ini. kalau tidak, semua investor pasti angkat kaki dari dari perusahaan kita. Karena mereka telah kita rugikan.” Ujar Sean marah.


Kavi memang baru kali ini melihat kemarahan Ayahnya. Apalagi kemarahan itu dialah yang menyebabkan. Namun ia berusaha untuk tetap tenang dan tidak ikut tersulut emosi. Dia sendiri juga masih belum tahu pasti apa penyebab semua masalah itu.


“Maafkan Kavi, Yah. Kavi akan segera mengatasinya.” Jawab Kavi dengan menundukkan kepalanya.


Sean mengusap wajahnya dengan kasar. Dia sadar betul karena telah memarahi Kavi. Dia ingat dengan kemarahannya waktu itu dengan Mirza. Sean pun segera mengontrol emosinya agar tidak lagi membuat anak-anaknya membenci dirinya. Namun melihat reaksi Kavi seperti ini, ada rasa salut pada anaknya itu, karena Kavi berani mengakui kesalahannya dan berusaha memperbaiki semuanya.


“Selesaikan secepatnya! Ayah akan ke kantor cabang dulu untuk memastikan kalau di sana tidak ikut terdampak.” Ucap Sean kemudian.

__ADS_1


Sepeninggal Ayahnya, Kavi segera memanggil Orion. Hari itu juga ia menyelesaikan kekacuan di kantor pusat. Kavi lebih dulu memeriksa beberapa dokumen yang menjadi sumber masalah itu.


“Kamu dapat semua ini dari mana?” tanya Kavi pada Orion yang saat ini juga berada di ruang kerjanya.


“Saya dapat dokumen itu melalui email yang dikirim Nona Eva, Tuan.” Jawab Orion.


Kavi pun mulai mencocokkan data-data yang sangat rumit itu dengan file asli yang ia miliki. Berulang kali mengeceknya dan hasilnya sama. Namun ia tidak menyerah. Ia kembali menelitinya. Ternyata ada satu kesalahan fatal yang tidak ia ketahui dan telah menyebabkan kekacauan itu.


Kavi segera menghubungi Eva yang bekeja sebagai sekretasris Mirza. Namun ia menghubungi perempuan itu menggunakan ponselnya. Bukan telepon kantor. entah apa yang sedang direncanakan oleh Kavi hingga ia tidak mau menggunakan telepon kantor.


Cukup lama Kavi berbicara dengan Eva membahas data yang dikirim perempuan itu pada Orion. Cukup mendengar penjelasan dari Eva, Kavi sedikit menangkap sebuah kejanggalan. Sepertinya kekacauan di kantor pusat ada oknum yang sengaja melakukannya.


Malam ini Kavi terpaksa harus lembur demi mengatasi masalah itu. dia tidak sempat mendatangi Karin. begitu juga menghubungi orang-orang yang ia suruh untuk mencari keberadaan orang tua Karin.


Malam ini Kavi memang ditemani oleh Orion untuk menyelesaikan masalah kantor. mereka berdua bekerja dengan fokus. Dan Kavi telah menemukan siapa penyebab dari kekacauan itu.


“Ada apa, Tuan? Apa anda butuh bantuan?” tanya Orion penasaran.


Kavi hanya menggelengkan kepalanya. Ia sendiri juga masih tidak percaya kalau Mirza lah yang telah melakukan semua ini. untuk apa juga Mirza menjatuhkan perusahaan yang jelas-jelas milik keluarganya juga. namun Kavi lebih memilih untuk menyelesaikannya dulu daripada mempermasalahkan orang yang telah menyebabkan kekacauan itu.


Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Kavi terpaksa mengakhiri pekerjaannya. Walaupun sudah berhasil diatasi, namun ia harus terus memantaunya. Kemungkinan besok akan selesai semuanya. Tentunya ada dampak yang ditimbulkan.


Kavi keluar ruangannya bersama Orion. Mereka juga sama-sama menuju basement. Hanya saja Orion pulang lebih dulu, karena ia membawa motor.


“Saya pulang dulu, Tuan!” pamit Orion.

__ADS_1


“Iya. hati-hati di jalan. Terima kasih banyak sudah membantuku.” Jawab Kavi.


Suasana basement sangat sepi. Hanya ada mobil Kavi saja. namun di luar tetap dijaga oleh satpam selama dua puluh empat jam.


Kavi mengehmebuskan nafasnya pelan sebelum masuk ke dalam mobilnya. Tiba-tiba ia teringat dengan Karin. akhirnya ia memilih untuk menghubungi kekasihnya itu dulu baru pulang.


Mata Kavi tak sengaka melihat bayangan seseorang melalui pantulan mobilnya. Dan orang itu terlihat akan menyerangnya. Beruntung dia segera menghindar saat orang tak dikenalnya itu hendak menusukkan pisau ke arahnya.


Bruk


Setelah Kavi berhasil menghindar dari tikaman pisau, dia segera menendang pri itu sampai jatuh tersungkur. Ternyata orang itu tidak sendiri. Dari belakang tiba-tiba ada yang memukul tengkuk Kavi, dan orang yang memegang pisau tadi segera berdiri dan menikamnya lagi.


Jlebb


“Hei, siapa kalian?” teriak seseorang dari jauh. Sedangkan Kavi sudah jatuh tersungkur bersimbah darah.


.


.


.


*TBC


Happy Reading!!

__ADS_1


__ADS_2