
Mirza masih terus berusaha menghajar Kavi. Amarahnya suduah memuncak. Kesabarannya sudah habis setelah selama ini cukup diam saat mengetahui hubungan Kavi dengan Karin. wanita yang sangat dicintainya. Mirza harus membunuh Kavi sekarang juga karena pria yang berstatus sebagai kakak kandungnya itu sudah tidak lagi pantas dianggap menjadi kakak.
Mirza yang sudah kalap terus menghajar Kavi. Kavi terus menghindar dan tidak ingin membalas setiap serangan adiknya. Ia berharap Mirza berhenti dan bisa diajak bicara baik-baik. Namun rupanya Mirza sudah terbakar emosi.
Mirza bahkan sampai lupa tujuan utamanya datang ke rooftop hotel ini. dia tidak sadar kalau sudah dimanfaatkan oleh Samuel. Ya, Samuel menyuruh Mirza menghabisi wanita yang bernama Shahnaz. Mirza tidak tahu kalau perempuan yang ingin dia bunuh adalah Karin. dan saat baru saja ia sampai rooftop, darahnya mendidih saat melihat kakaknya melamar wanita yang dia cintai.
“Za, berhenti! Kamu jangan gila!” ucap Kavi yang sangat terkejut saat Mirza mengeluarkan sebilah pisau dari saku jaketnya.
“Kau takut mati rupanya? Takut kehilangan Karin? justru itu yang aku inginkan. Kamu harus mati agar Karin hanya bisa aku miliki.”
Kavi benar-benar sudah tidak mengenali sosok di hadapannya itu. Mirza sudah berubah. Bukan seperti adiknya yang selama ini sangat baik dan selalu rukun.
Sedangkan Karin masih ketakutan. Dia tidak berani meminta tolong, karena tidak ada siapapun di sana. Tubuhnya bergetar hebat dan hanya bisa berteriak supaya perkelahian sengit antara kakak dan adik itu segera berakhir.
Mirza yang amarahnya sudah memuncak sejak tadi, ia segera mendekati Kavi dan berusaha menancapkan pisau itu pada kakaknya sendiri. Kavi terus menghindar. Dia terpaksa memberikan serangan pada Mirza sampai pisau itu terlepas dari genggaman Mirza. Namun sayangnya Mirza dengan cepat mengambilnya.
Bugh
Bugh
Kavi dengan gesit menendang tubuh Mirza sampai tersungkur. Sebenarnya dia tidak tega melakukan itu semua. Sedangkan Mirza sendiri pantang menyerah. Dia bangun lagi dengan menggenggam pisau di tangannya. dengan langkah tegap dan pasti, Mirza mendekati Kavi yang terus berjalan mundur.
Jleb
Arghhh
__ADS_1
Kavi meringis saat pisau itu berhasil menembus perutnya. Darah pun bercucuran membasahi kemeja putihnya. Sedangkan Karin semakin histeris saat menyaksikan itu semua.
“Za, berhentilah! Aku.. aku akan melepas Karin untukmu! Aku ikhlas.” Ucapnya dengan menahan rasa sakit akibat tusukan Mirza.
“Tidak semudah itu berengsek! Kamu pantas mati!”
Mirza menarik pisau itu lagi dan hendak menusukkan kembali ke dada Kavi yang tepat pada jantungnya. Tubuh Kavi menuburuk dinding yang setinggi pinggangnya. Dengan sekali dorongan saja, pasti nyawanya melayang karena terjun bebas. Namun Kavi berhasil menahan pisau itu. hingga mata pisau tepat berada di atas mata Kavi.
Tatapan Kavi nanar tertuju pada mata Mirza yang penuh kebencian. Akankah ia merelakan nyawanya di tangan adiknya sendiri demi seorang wanita. sungguh dia merasa gagal menjadi seorang kakak bagi Mirza yang sejak dulu selalu manja padanya. Bahkan sejak dulu juga ia selalu mengalah pada Mirza. Mata Kavi berair. Seiring dengan darah yang terus mengalir dari perutnya. Mirza sendiri masih menahan pisau itu. entah apa yang sedang dipikirkannya saat ini. namun yang pasti ia harus tetap membunuh Kavi.
“Za, cepat habisi dia! Biar Shahnaz menjadi urusanku.” Ucap Samuel yang tiba-tiba datang.
Sejenak Mirza memandang ke arah Samuel yang langsung membawa paksa Karin. dia sangat terkejut saat ingat ucapan Samuel yang menyuruhnya membunuh perempuan bernama Shahnaz. Ternyata perempuan itu adalah Karin.
Karin memberontak ketakutan. Apalagi Samuel menodongkan pistol tepat di kepalanya. Dan kesempatan itu dimanfaatkan oleh Kavi. Ia segera mendorong tubuh Mirza yang sejak tadi berada di atasnya sambil menodongkan pisau di atas wajahnya. Sayangnya saat Kavi berhasil mendorong tubuh Mirza, justru tubuh Mirza terpelanting ke arah samping. Dimana tidak ada lagi dinding pembatas setinggi pinggangnya. Alhasil tubuh Mirza menggelantung dan hampir terjun bebas.
“Karin! Karin dan Shahnaz adalah orang yang sama.” Gumam Mirza penuh penyesalan.
“Za, ayo naiklah dengan pelan!” nafas Kavi tersengal karena menahan beban berat tubuh Mirza sekaligus menahan sakit pada lukanya.
Karin sudah berhasil dibawa pergi oleh Samuel. Namun Kavi sangat yakin, Tuan Kyler bisa mengatasinya. Karena Papa Karin saat ini pasti sedang menuju rooftop dan tentunya akan menyelamatkan putrinya. Sedangkan dirinya harus fokus dengan Mirza yang nyawanya juga di ujung tanduk.
Mata Mirza berair menatap wajah pucat kakaknya yang masih berusaha kuat menggenggam tangannya agar bisa naik. Kini Mirza baru merasa menyesal. Selama ini dia hanya dimanfaatkan oleh Samuel. Ternyata perempuan yang akan dibunuh oleh Jushua adalah Karin. harusnya Mirza melindungi Karin. bukan malah ikut melancarkan aksi Joshua. Apalagi dia juga telah menusuk kakaknya sendiri akibat cemburu buta.
“Za, cepatlah!” lirih Kavi dengan wajah yang semakin memucat. Genggaman tangannya juga semakin melemah.
__ADS_1
“Kak! Aku tidak pantas menjadi adik kamu. Akulah yang pantas mati, Kak! Maafkan aku, karena aku tidak ingin kehilangan Karin. aku cinta mati padanya, sampai harus melukai kamu seperti ini.”
“Cepatlah, Za! Ayo naik!” Kavi yang sudah tidak tahan lagi dengan lukanya. Ditambah lagi darahnya juga sudah keluar banyak sekali, akhirnya genggaman tangannya pada tangan Mirza terlepas begitu saja. bersamaan dengan matanya yang sudah terpejam rapat.
***
Beberapa jam kemudian.
Lidia tak henti-hentinya menangis di depan ruang operasi anak-anaknya. hatinya begitu sakit setelah mengetahui kabar perkelahian kedua anak laki-lakinya sampai bertaruh nyawa seperti ini.
Begitu juga dengan Sean. Pria itu benar-benar merasa gagal menjadi orang tua. Kenapa dirinya sampai tidak tahu menahu masalah yang sedang terjadi di antara anak-anaknya.
“Bagaimana keadaan Nak Kavi, Tuan Sean?” tanya seorang pria yang tiba-tiba menghampiri Sean dan Lidia.
Sejenak Sean menatap pria yang tengah berdiri di hadapannya itu. dia tahu kalau Tuan Kyler adalah Papa Karin. dari Tuan Kyler juga lah Sean tahu tentang kondisi anak-anaknya. di mana Mirza terjatuh dari rooftop hotel. Sedangkan Kavi pingsan tergeletak dengan perut yang bekas tusukan pisau dan hampir kehabisan darah.
“Saya juga masih menunggu jalannya operasi, Tuan.” Jawab Sean.
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Happy Reading!!