
Karin masih menyandarkan kepalanya pada bahu Kavi. Sungguh sangat ajaib yang dirasakan Karin saat ini. dengan bersandar seperti sekarang ini, semua beban dalam dirinya tiba-tiba musnah begitu saja dan berganti rasa nyaman yang tak pernah ia dapatkan.
Isakan lirih yang mengawali cerita tentang kehidupannya tadi sudah tidak lagi keluar dari bibirnya. Karin sangat menikmati posisi seperti ini. dia bahkan belum sadar dengan siapa dirinya kini bersandar. Atau justru sebaliknya. Karin tahu kalau pria di sampingnya adalah Kavi, tapi dia masih ingin menikmati kenyamanan ini.
Sedangkan Kavi hanya membiarkan saja Karin bersandar seperti ini. dia juga ingin waktu berjalan sangat lambat sebelum Karin sadar dengan posisinya. Kavi merasa bersyukur sepertinya Karin sudah tidak menangis lagi dengan mengingat beban di hidupnya. Dengan demikian, Kavi bertekat dalam hatinya akan membuat Karin bahagia selamanya. Entah itu sebagai apa.
Tanpa sadar tangan Kavi sebelah kiri terangkat ke atas mengusap lembut kepala Karin. dia ingin membuat Karin yakin kalau dirinya bisa menjadi seseorang yang bisa dipercaya untuk membuatnya bahagia. Karin pun sangat menikmati usapan lembut dari Kavi itu.
Tiba-tiba saja Karin menghentikan gerakan tangan Kavi. Dia sadar dengan siapa dirinya saat ini. jantung Karin pun tiba-tiba berdegup sangat cepat.
“Kak!” Karin menjauhkan tubuhnya dari Kavi.
“Maaf… aku.. maafkan aku telah lancang-“ ucap Karin dengan gugup sekaligus
“Nggak apa-apa. Tenang saja! bagaimana perasaan kamu sekarang? apa sudah lebih lega?” tanya Kavi tampak biasa saja.
Karin masih bingung dengan wajah yang masih memerah. Memang benar perasaannya sudah lebih lega dari sebelumnya. Hanya saja kini berubah menjadi aneh, apalagi beberapa saat yang lalu dengan tidak tahu malunya ia asyik bersandar pada bahu Kavi.
“Ehm, aku ingin pulang Kak. Ini sudah sore.” Jawab Karin mengalihkan pembicaraan, setelah ia ia langsung berdiri.
Kavi juga ikut berdiri dan dengan cepat menarik tangan Karin hingga tanpa sengaja Karin jatuh ke pelukannya.
“Kamu nggak perlu sungkan-sungkan kalau ingin curhat denganku lagi, Rin! Aku janji akan selalu ada di sisimu dan tidak akan membuatmu bersedih lagi. ya sudah ayo pulang!” ucap Kavi lalu segera mengurai pelukannya dan berjalan mendahului Karin.
__ADS_1
Karin berjalan menatap punggung Kavi. Dia sama sekali tidak mengerti dengan ucapan Kavi baru saja. apa maksudnya.
**
Setelah dari pantai, Kavi benar-benar mengantar Karin pulang. bahkan Kavi tidak mengajak Karin untuk berhenti makan. Entah kenapa juga semenjak dalam perjalanan tadi keduanya juga saling diam.
“Terima kasih, Kak!” ucap Karin setelah keluar dari mobil.
Kavi menjawanya dengan anggukan samar dan tersenyum tipis pada Karin. setelah itu ia kembali melajukan mobilnya menuju hotel.
Begitu sampai hotel, Kavi segera masuk ke kamarnya. Sejak tadi dia memilih diam karena bingung dengan perasaannya sendiri. Memang selama ini Kavi belum pernah sekalipun merasakan yang namanya jatuh cinta. Jadi dia bingung menyimpulkan perasaannya sendiri.
Apakah perasaannya yang aneh terhadap Karin itu adalah perasaan cinta. Lantas bagaimana jadinya jika ia benar-benar jatuh cinta pada mantan kekasih adiknya sendiri. Walau semua itu tidak masalah, tapi akan menjadi masalah jika diantara Karin dan Mirza masih saling mencintai.
“Pekerjaan apa yang ingin anda bahas, Tuan?” tanya Orion yang sejak tadi melihat Kavi diam setelah selesai makan malam.
“Apa kamu mempunyai kekasih?” jawab Kavi dengan pertanyaan.
“Punya, Tuan.” Orion menjawab dengan jujur walau belum mengerti kemana arah pembicaraan Kavi.
“Bagaimana dulu kamu bisa jatuh cinta dengan kekasihmu itu?” tanya Kavi lagi dan membuat Orion semakin terperangah.
Dalam hati Orion tersenyum tipis. Mungkin atasannya itu sengaja mengajak pergi jalan-jalan karena ingin curhat masalah perasaannya. Orion juga cukup tahu banyak kalau selama ini atasannya jarang sekali terlihat jalan dengan seorang perempuan. Dan sepertinya sekarang Kavi baru merasakan hal itu.
__ADS_1
“Saya dulu sangat nyaman jika sedang bersama calon kekasih saya, Tuan. Awalnya ada getaran aenh dalam hati saya. tidak ingin kehilangan dan selalu ingin membuatnya bahagia.” Jawab Orion sambil membayangkan masa-masa pdkt dengan kekasihnya dulu.
Sedangkan Kavi hany diam saja mencerna setiap kata-kata yang keluar dari mulut Orion. Dia juga merasakan hal yang sama seperti yang diceritakan oleh Orion. Jadi dia memang sedang jatuh cinta.
“Lalu, bagaimana saat itu kamu mengungkapkannya? Apa dia langsung mau? Maksduku menerima cinta kamu?” tanya Kavi sekali lagi.
“Perempuan itu sifatnya terlalu gengsi untuk mengakui perasaannya. Jadi, saat saya mengungkapkan perasaan saya dulu, saya tidak menginginkan langsung jawaban dari kekasih saya. yang paling penting saya sudah memberitahunya kalau saya mencintainya. Dan selalu berusaha menunjukkan kasih sayang dan perhatian saya. lama-lama perempuan itu membalas perasaan saya, Tuan.” Jawab Orion.
Kavi pun akhirnya paham. Tidak ada salahnya juga ia mengatakannya pada Karin. dia juga tidak peduli bagaimana reaksi Karin nanti. akan ditolak mentah-mentah atau justru digantung.
“Apa anda sedang jatuh cinta, Tuan?” tanya Orion takut.
Kavi menjawab hanya dengan mengendikkan bahunya. Pasalnya dia juga masih awam mengenai hal itu.
“Lebih segera ungkapkan perasaan anda itu, Tuan. Kita sebagai seorang laki-laki tentunya sudah dibekali jiwa dan hati yang kuat. Jadi tidak akan patah semangat begitu saja saat cinta kita ditolak. Semangat, Tuan!” ujar Orion memberikan dukungan.
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Happy Reading!!