Perseteruan 2 Calon Pewaris

Perseteruan 2 Calon Pewaris
52. Bertemu Samuel


__ADS_3

Malam ini Mirza pergi ke suatu tempat untuk bertemu dengan Samuel. Tadi sore teman sesama napi’nya itu membalas pesan yang ia kirim dan meminta Mirz akan datang ke suatu tempat.


Mirza malam ini perasaannya sangat lega bisa menghirup udara luar di malam hari. Selama di dalam Lapas, dia sangat merindukan momen seperti ini. apalagi dulu ia sering sekali menghabiskan malamnya bersama Karin. perempuan pujaan hatinya.


Sejenak Mirza teringat dengan Karin. bagaimana kabar perempuan itu saat ini. apakah selama ini dia hidup dengan sangat baik. Atau justru sebaliknya? Karena tidak bisa melupakan dirinya.


Mirza bertekat akan segera mencari Karin setelah bertemu dengan Samuel dan menyusun rencana balas dendamnya pada Deo.


Beberapa saat kemudian mobil Mirza sudah sampai di depan rumah megah, namun dijaga ketat oleh beberap pria berbadan kekar.


“Anda siapa?” tanya saah seorang pria mendekati mobil Mirza.


“Saya ingin bertemu dengan Samuel.” Jawab Mirza.


Pria itu kemudian mempersilakan Mirza membawa masuk mobilnya ke dalam halaman rumah itu. Mirza benar-benar takjub dengan rumah megah di hadapannya ini. Mirza sangat yakin kalau rumah ini adalah rumah milik bos Samuel yang sering dia ceritakan padanya. Yaitu Bang Jo.


Akhirnya Mirza masuk ke dalam rumah itu dan ternyata sudah disambut oleh Samuel.


“Apa kabar kamu, Za? Senang akhirnya kita bisa berjumpa lagi dalam kondisi yang lebih baik.” Tanya Samuel sambil menepuk punggung Mirza.


“Aku sangat baik. Aku juga sangat senang kita bisa bertemu lagi seperti sekarang ini.” jawab Mirza.


Setelah cukup berbasa-basinya, Samuel mengajak Mirza masuk ke ruang tengan dimana seseorang sudah menunggunya.


Di sana terihat seorang pria yang berusia sekitar tiga puluh lima tahun, dengan raut wajah tampan namun terlihat sangat bengis. Pria itu tampak fikus dengan ponsel dan rokoknya.


“Bang Jo! Ini temanku yang aku ceritakan pada Bang Jo waktu itu.” ucap Samuel.


Pria bernama Joshua yang akrab dipanggil Bang Jo itu mengalihkan tatapannya pada sosok Mirza yang sudah berdiri di hadapannya.

__ADS_1


Mirza mengangguk sopan pada Joshua. Sedangkan Joshua menanggapinya dengan senyuman yang tak terbaca.


Samuel mengajak Mirza duduk. Sedangkan Joshua masih sibuk membalas pesannya. Setelah itu barulah ia ngobrol dengan Mirza.


Sebenarnya Joshua sudah pandai menilai seseorang dari pertama kalinya menatap mata Mirza. Dia cukup senang melihat sorot mata Mirza yang penuh ambisi. Tidak ada salahnya Samuel berteman dengan Mirza. Memang orang-orang seperti Mirza lah yang sangat ia butuhkan.


“Aku sudah menceritakan semuanya pada Bang Jo, Za. Termasuk rencana balas dendam kamu pada sahabatmu yang bernama Deo.” Ucap Samuel.


“Tentu saja kami siap membantu kamu, asal kamu mau ikut bekerja bersama kita.” Lanjut Samuel.


“Bekerja apa kalau aku boleh tahu?” tanya Mirza penasaran.


“Apa saja. pekerjaan yang kami lakukan adalah pekerjaan illegal. Seperti yang akan kamu lakukan pada mantan sahabatmu itu. itu keahlian kami.” Ujar Samuel menjelaskan.


Mirza sebenarnya sudah tahu kalau Joshua adalah seorang mafia. Dia bertanya seperti itu hanya memastikan saja. agar misi balas dendamnya pada Deo membuahkan hasil.


Sementara Joshua masih terus menatap Mirza saat Samuel menjelaskan tentang pekerjaannya. Lagi-lagi Joshua sangat senang melihat reaksi Mirza. Pria itu benar-benar Tangguh dan pantang menyerah.


“Kenapa kamu bertanya seperti itu. harusnya kamu sudah tahu jawabannya, karena aku sudah tidak sabar untuk membalaskan dendamku pada Deo.” Jawab Mirza.


Seketika itu Joshua bertepuk tangan. Pria itu mengulas senyum. Senyum yang selalu ia tunjukkan jika ia merasa senang dengan seseorang.


“Permisi Tuan, ini minumannya!” ucap seorang wanita paruh baya yang tiba-tiba datang dengan membawa nampan berisi minuman.


Prangggg


Joshua tiba-tiba berdiri lalu menendang nampan yang yang berisi minuman panas itu ke lantai, dan jelas mengenai pembantunya.


Mirza sangat terkejut. Dia hendak bangun dan ingin membantu wanita itu yang sedang meringis karena terkena siraman kopi panas, namun Samuel dengan cepat mencegahnya.

__ADS_1


“Siapa yang menyuruhmu membuatkan kopi, hah?” bentak Joshua pada wanita paruh baya itu.


Wanita itu gemetar ketakutan. Dengan melupakan rasa panas pada kulitnya, ia membersihkan pecahan cangkir yang berserakan di lantai itu.


Mirza mencoba menahan diri. Jujur saja ia sangat iba melihat wanita itu. tapi dia juga tidak berani melakukan apapun.


“Kamu bisa melakukan pekerjaan apapun. Asal kamu tidak melupakan pekerjaan dariku. Kamu harus siap setiap waktu jika aku membutuhkanmu. Lalu untuk urusan kamu dengan baj***an yang bernama Deo itu, aku sudah memberitahu pada Samuel.” Ucap Joshua sebelum akhirnya pria itu meninggalkan ruang tengah.


***


Setelah pulang dari kediaman Joshua, Mirza mengemudikan mobilnya menuju sebuah alamat dimana dulu ia sering datang ke sana. Yaitu rumah kontrakan Karin.


Mirza sudah tiba di depan rumah kontrakan Karin. namun rumah itu terlihat sangat sepi dan gelap. Seperti tidak berpenghuni.


Cukup lama Mirza mengetuk pintu itu, tapi tidak ada jawaban sama sekali. Lalu kemana Karin sekarang.


“Mas nyari siapa?” tanya seseorang yang kebetulan lewat di depan rumah kontrakan Karin.


“Saya mencari orang yang tinggal di rumah ini.” jawab Mirza.


“Oalah Mas, rumah itu sudah lama tidak ada yang menempati. Terlebih sejak suami dari wanita yang tinggal di rumah ini meninggal dunia.” Ucap orang itu lalu bergegas pergi meninggalkan Mirza.


.


.


.


*TBC

__ADS_1


Happy Reading!!


__ADS_2