Perseteruan 2 Calon Pewaris

Perseteruan 2 Calon Pewaris
60. Jati Diri Karin


__ADS_3

“Karin kenapa? Siapa yang menghubungi kamu baru saja?” tanya Kavi.


Kavi sama terkejutnya dengan Karin. hanya saja dia belum tahu pasti tentang apa yang menyebabkan kekasihnya itu menangis sampai ponsel yang dipegangnya jatuh begitu saja.


“Ayah… Ayah meningal, Kak!” jawab Karin dengan air mata yang terus mengalir.


Kavi segera menarik Karin ke dalam pelukannya. Ia ingin menenangkan hati perempuan itu yang sedang berduka. Ia juga paham dengan suasana hati Karin saat ini. Meskipun sudah lama tidak pernah bertemu dengan kedua orang tuanya, namun mendengar kabar duka ini, sama saja itu pukulan berat untuknya. Bahkan Karin tidak bisa menemani saat-saat terakhir ayahnya.


“Ayo aku antar kamu pulang sekarang juga!” ucap Kavi.


“Tapi, Kak! Ibu… Ibu tadi mengatakan kalau aku harus hati-hati saat pulang. Ibu menyuruhku untuk menyamar saat pulang nanti.” ucap Karin dengan rasa ketidak mengertiannya.


Kavi juga tidak mengerti apa alasan Ibu Karin mengatakan hal itu. apa yang sebenarnya telah terjadi. Apakah Karin dalam bahaya selama ini. sepertinya memang ia harus ikut mengantar Karin pulang, demi keselamatan perempuan itu.


Kavi menghubungi kedua orang tuanya tentang kepergiannya malam ini untuk mengantar Karin pulang. dia juga mengatakan perihal kematian Ayah Karin. namun Kavi melarang Mama dan Ayahnya ikut pergi dan juga melarangnya untuk mengatakan hal ini pada Mirza.


Setelah itu Kavi menghubungi Orion untuk menghandle semua pekerjaannya, selama ia masih berada di luar kota.


Dan malam ini juga Kavi akan terbang ke kota kelahiran Karin. dia terpaksa mengambil jam penerbangan malam, karena Karin ingin segera pulang sebelum jasad Ayahnya dimakamkan esok hari.


Sepanjang perjalanan Karin tidak henti-hentinya menangis. Ia benar-benar terpukul dengan kabar ini. kenapa secepat itu Ayahnya pergi meninggalkan dirinya tanpa meninggalkan pesan apapun. Bahkan belum sempat ia membalas budi baik kedua orang tuanya yang sudah merawat dan mencintainya sejak kecil


Sementara Kavi hanya bisa memeluk Karin agar sedikit membuat hatinya lebih tenang. Namun ada satu hal yang mengganjal hati Kavi. Yaitu tentang keluarga Karin yang penuh dengan misteri. Sebanarnya apa yang telah terjadi dengan kehidupan Karin selama ini. meskipun ia sudah menyiapkan segala sesuatu untuk penyamaran Karin saat pulang nanti.


Perjalanan udara yang mereka tempuh kurang lebih selama satu setengah jam kini sudah membawa Karin dan Kavi ke tempat tujuan. Karin langsung memakai rambut palsu dan memakai topi. Tak lupa Kavi memberikan sedikit tanda pada pipi Karin yang menyerupai tahilalat.

__ADS_1


“Sudah, tenanglah! Aku juga tidak tahu apa maksud Ibu kamu menyuruh seperti ini. lebih baik kita segera pergi menuju alamat rumah kamu.” Ujar Kavi kembali menenangkan Karin yang tiba-tiba menangis.


Pukul dua dini hari Kavi dan Karin baru saja sampai di sebuah rumah sederhana dimana Karin dilahirkan. Di sana tidak ada sanak saudara yang berkumpul. Mungkin hanya beberapa tetangga saja yang duduk di teras rumah. Kavi juga tidak sengaja melihat dua orang pria sedang berdiri di ujung jalan dekat rumah Karin. pria itu seperti sedang mengawasi seseorang. Apakah mereka sedang mengincar Karin? Kavi juga tidak tahu.


“Apa kamu Karin?” tanya salah seorang yang sedang duduk di teras rumah. Karin menjawabnya dengan anggukan kepala.


“Ibu kamu sedang di dalam. Masuklah, Nak!” Lanjutnya.


Orang itu memang tidak pernah mengenal ataupun bertemu dengan Karin. yang ia tahu kalau Sofia dan Theo hanya memiliki seorang putri dan tinggal di luar kota.


“Ibu!” Karin berlari dan berhambur ke pelukan Ibunya yang sedang duduk di samping jenazah ayahnya.


Sofia juga ikut menangis memeluk Karin. wanita itu lega akhirnya bisa memeluk Karin lagi. meskipun dalam situasi seperti sekarang ini. tak lama kemudian Karin mengurai pelukannya dan menatap ke arah pria yang sudah terbujur kaku dengan wajah memucat. Tangis Karin kembali pecah di samping jenazah Ayahnya.


“Maafkan Karin, Yah! Karin belum pernah membahagiakan Ayah dan Ibu. Kenapa secepat ini Ayah pergi meninggalkan Karin?” Karin menangis terisak di samping jenazah Ayahnya.


Keesokan paginya jenazah Ayah Karin dimakamkan. Usai mengantar ke tempat peristirahat terakhir Theo, Karin, Kavi dan juga Sofia kembali lagi ke rumah.


“Ibu, memangnya selama ini Ayah sakit apa?” tanya Karin yang sejak kemarin masih penasaran tentang penyebab kematian Ayahnya. Pasalnya Sofia hanya mengatakan kalau suaminya hanya kelelahan bekerja dan terkena serangan jantung.


Sofia yang mendapat pertanyaan itu seketika terdiam. Akankah hari ini juga ia akan bicara dengan jujur tentang kematian suaminya, dan juga tentang jati diri Karin.


“Bu!” panggil Karin saat melihat Ibunya masih terdiam.


“Kamu siapanya Karin?” tanya Sofia menoleh pada Kavi, dan seolah mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


“Dia Kak Kavi. Kekasih Karin, Bu.” Sahut Karin.


“Nak Kavi, Ibu minta jagalah Karin dan lindungi dia. Ada orang jahat di luaran sana yang sedang mengancam keselamatan Karin.” ucap Sofia sontak membuat Karin dan Kavi terkejut.


“Apa maksud Ibu?”


“Karin, maafkan Ibu dan Ayah kamu, Nak! sebenarnya kamu bukanlah anak kandung kami.” Ucap Sofia dengan air mata yang sudah berderai membasahi pipinya.


Karin masih bingung mencerna ucapan Ibunya. Apa maksud semua itu. begitu juga dengan Kavi. Ternyata dugaannya benar. Pria yang sempat ia lihat kemarin kemungkinan besar masih ada hubungannya dengan Karin dan keluarganya.


“Ayah Theo adalah asisten Papa kamu. Sejak kamu masih bayi, kedua orang tua kamu menitipkan kamu pada kami, karena kamu sedang diincar oleh lawan bisnis Papa kamu, Karin.” Ucap Sofia.


“Lalu kemana Papa dan Mama Karin, Bu?” tanya Karin yang masih tidak percaya dengan semua ini.


“Papa dan Mama kamu,-”


Brakkkk


.


.


.


*TBC

__ADS_1


Happy Reading!!


__ADS_2