
Lidia berusaha menyembunyikan kesedihannya pasca keberangkatan Kavi ke luar negeri. meskipun dia tidak ikut mengantarnya ke bandara, tapi hatinya masih sesak membayangkan anaknya memilih jalan hidup seperti itu.
Sekarang Lidia sudah berada di rumah sakit. Mirza tidak boleh tahu kalau dirinya sedang bersedih. Mau bagaimana pun juga Lidia tidak sampai hati jika menyalahkan Mirza atas kepergian kakaknya. Biarlah suatu saat nanti Mirza bisa merenungi kesalahannya. Terlebih setelah tahu tentang kepergian kakaknya. Karena Kavi melarang Mamanya untuk mengatakan tentang kepergiannya itu pada Mirza.
Cklek
Lidia membuka pintu kamar Mirza dimana saat ini Mirza sedang duduk bersandar sambil menonton acara televisi. Pandangan Mirza teralihkan saat mendengar suara pintu terbuka.
“Mama? Mama datang sendiri?”
“Iya. maaf, Mama agak terlambat datang. bagaimana keadaan kamu? Sudah makan siang?”
“Aku sudah sangat baik, Ma. Dokter bilang nanti sore akan visit terakhir. Kalau hasilnya baik, sore ini juga Mirza sudah boleh pulang.”
“Syukurlah. Mama juga sangat mendengarnya.” Ujar Lidia lalu duduk di samping brankar Mirza.
“Kak Kavi kemana sih, Ma? Aku sudah bangun dari koma dan sampai sekarang Kakak tak kunjung datang.” tanya Mirza dengan resah.
Mirza ingat saat masih koma, dia sempat merasakan kehadiran kakaknya. Meskipun matanya terpejam dan tidak mampu bangun, tapi di alam bawah sadarnya dia mendengar semua perkataan kakaknya. Maka dari itu saat dirinya sudah sadar, dia ingin bertemu dengan kakaknya dan ingin meminta penjelasan tentang apa yang dikatakan Kavi saat itu.
Mirza ingat dengan jelas dimana kakaknya mengatakan akan merelakan semuanya pada dirinya. Termasuk wanita yang sejak dulu dicintainya. Dalam hati Mirza dipenuhi penyesalan mendalam maka dari itu ia ingin bertemu langsung dengan kakaknya dan akan meminta maaf secara langsung.
“Kakak kamu sedang berada di luar kota. Mama juga sulit menghubunginya akhir-akhir ini. kata Ayah memang perusahaan di sana sedang sangat sibuk.” Jawab Lidia terpaksa berbohong.
__ADS_1
Mirza hanya menghembuskan nafasnya pelan. Entah kenapa perasaannya tidak enak. Tapi dia sendiri tidak bisa mengungkapkannya.
***
Sore itu, setelah dokter melakukan pemeriksaan terakhir terhadap Mirza, akhirnya dia sudah diperbolehkan pulang. Sean pun segera menjemputnya ke rumah sakit.
Dalam perjalanan pulang, Mirza tampak diam dan membuang pandangannya ke luar. Begitu juga dengan Lidia yang masih memikirkan kepergian Kavi siang tadi.
Sesampainya di rumah, Mirza segera masuk ke dalam kamarnya. Ada rasa yang tidak bisa digambarkan saat memasuki rumah yang sempat meninggalkan banyak kenangan manis di dalamnya. Dan kenangan itu seolah sudah tidak ia dapatkan lagi setelah ini. entahlah, dia merasa seperti tidak akan bertemu dengan kakaknya lagi.
“Za, jangan lupa nanti obatnya tetap diminum!” ujar Lidia sebelum Mirza menaiki lantai dua dimana kamarnya berada.
“Iya, Ma. Terima kasih.”
Mirza segera naik ke lantai dua. Tepatnya menuju kamarnya. Kamar yang bersebelahan dengan kamar kakaknya. Hanya saja kamar itu sedang dalam keadaan tertutup, karena penghuninya tidak ada.
“Kak, maafkan aku!” lirihnya.
Mirza benar-benar merutuki kebodohannya yang dengan mudah dimanfaatkan oleh Samuel selama ini. perselisihan yang terjadi dengan kakaknya mengenai jabatan di perusahaan, semua itu memang pengaruh dari teman-temannya. Awalnya Deo, dan setelah itu Samuel. Bahkan yang membuat Mirza tidak menyangka, dia telah diperalat oleh Samuel untuk membunuh perempuan yang bernama Shahnaz. Yang tak lain adalah Karin.
Mengingat nama Karin. kemana perempuan itu sekarang. terakhir sebelum ia bangun dari komanya, Mirza sempat merasakan kehadiaran Karin menjenguknya.
Sungguh betapa bodohnya dirinya sampai berseteru hebat dnegan kakak kandungnya sendiri hanya demi tahta dan wanita. mungkinkah masih ada pintu maaf untuk dirinya untuk memperbaiki semua kesalahan itu.
__ADS_1
***
Kabar tentang Mirza yang sudah bangun dari komanya sudah sampai ke telinga Karin. karena Kyler dan Sean sudah berhubungan baik semenjak tahu kalau Sean ikut andil dalam penyelamatan dirinya dari musuhnya. Dan Sean memberitahu Kyler kalau Mirza sudah sadar dan kini sudah pulang.
Malam ini Kyler beserta istri dan anaknya datang berkunjung ke rumah Sean untuk menjenguk Mirza. Bagaimana pun juga Kyler dan Hanna sudah tahu banyak tentang hubungan Karin dan Mirza di masa lalu. Kedua orang tua Karin tetap ingin menjalin hubungan baik dengan Sean, meskipun sudah tidak ada lagi hubungan diantara Karin dan Mirza.
Termasuk hubungan Karin dan Kavi. Kyler dan Hanna sudah mengetahui semuanya. Hanya saja mereka tidak ingin ikut campur terlalu dalam. Biarlah Karin menentukan kebahagiaannya sendiri.
Sean dan Lidia sangat senang dengan kedatangan tamu dari keluarga Karin. namun ada rasa sedih dalam diri Lidia saat melihat Karin yang pernah manjalin hubungan dengan kedua anak laki-lakinya.
“Karin, apa kabar?” tanya Lidia sambil memeluk Karin.
“Baik, Tante.”
Setelah cukup berbasa-basi, Sean mempersilakan tamunya masuk. Sedangkan Lidia memanggil Mirza untuk ikut bergabung di ruang tamu.
Saat Mirza baru saja memasuki ruang tamu, tatapannya bertemu dengan Karin yang juga sedang menatapnya. Ada rasa bahagia dalam diri Mirza saat bisa melihat kembali perempuan yang sampai saat ini masih dicintainya. Namun rasa bahagia itu perlahan hilang saat menyadari bahwa tatapan Karin tampak biasa saja. tidak seperti dulu sewaktu mereka masih menjalin hubungan spesial.
.
.
.
__ADS_1
*TBC
Happy Reading!!