Perseteruan 2 Calon Pewaris

Perseteruan 2 Calon Pewaris
30. Salah Mengira


__ADS_3

Sejak tadi Karin tampak cemas. Dia terus memperhatikan jam tangannya. entahlah, kenapa Kavi tadi ingin bertemu dengannya. susah payah pindah tempat tinggal dan kini berada di tempat baru, masih saja bertemu dengan seseorang yang ada hubungannya dengan masa lalunya. Apalagi bertemu dengan Kavi. Sosok laki-laki yang dulu menyelamatkan nyawanya, bahkan ia salah mengira kalau laki-laki yang telah membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama adalah Mirza.


Tidak. Karin sudah bertekat tidak akan menemui Kavi. Tidak ada gunanya juga. mungkin pria itu tadi hanya singgah di hotel ini saja sementara, dan tidak tinggal menetap di sini.


Kurang sepuluh menit lagi pekerjaan Karin selesai dan berganti shift dengan teman lainnya. Perempuan itu segera bersiap secepat mungkin keluar dari restaurant hotel ini agar tidak bertemu dengan Kavi.


“Rin? Tumben buru-buru banget pulangnya? Ini baru jam tujuh loh?” tegur teman kerja Karin. karena biasanya Karin memang tidak akan pulang tepat jam tujuh. Setidaknya dia akan istirahat sejenak bersama teman-temannya yang lain.


“Ah, iya nih. Aku capek banget hari ini. ingin segera pulang agar bisa istirahat.”jawab Karin beralasan.


“Kamu sakit?” Tanya teman Karin yang bernama Melia. Perempuan itu memegang kening Karin dengan punggung tangannya.


“Nggak. Hanya kecapekan saja. ya sudah, aku pulang duluan ya, Mel?” pamit Karin dan segera keluar dari restaurant itu lewat pintu belakang.


Karin memang sengaja pulang lewat pintu belakang. Karena akan mempercepat arah jalannya untuk pulang. selain itu juga ia menghindari Kavi yang pastinya sudah menunggu di dalam restaurant atau bisa jadi di depan hotel. Jadi kalau lewat pintu belakang, akan sangat dekat dengan jalan raya, dan dia tinggal pulang menuju rumah kontrakannya.


Karin berjalan dengan santai karena tidak mungkin Kavi tahu. Kini dia bisa menghirup udara lega.


“Capek banget ya, Rin seharian berkerja?”


Deg


Karin langsung menghentikan langkahnya saat di tepat di hadapannya ada seorang pria yang sedang duduk pada kursi taman pinggir jalan. Pria yang sejak tadi berusaha ia hindari kini justru ada di depan mata.


“Kak… Kak Kavi? Kenapa ada di sini?” tanya Karin bingung.

__ADS_1


“Aku nungguin kamu lah. Bukannya tadi pagi aku sudah bilang.” Jawab Kavi dengan santai.


“Oh… ehm, kenapa nunggunya di sini?”


“Maunya dimana? Di rumah kamu juga aku nggak tahu. Kalau di restaauran juga tidak mungkin. Pasti kamu juga pulangnnya lewat pintu belakang. Jadi aku nunggu di sini saja.” jawab Kavi dengan tipis tersungging dari bibirnya.


Karin terdiam sejenak. Bahkan dia sempat memperhatikan senyuman Kavi yang entahlah.. rupanya usahanya sia-sia. Berniat menghindari, justru bertemu di tempat tak terduga seperti ini.


“Kamu sudah makan?” tanya Kavi saat melihat Karin yang masih diam berdiri di hadapannya.


“Sudah, Kak.”


Kavi tergelak melihat ekspresi Karin. pasalnya perempuan itu menjawab sudah makan, tapi Bahasa tubuhnya menggelengkan kepala.


Belum sempat Karin menolak, tapi tangan Kavi sudah lebih dulu menariknya menuju tempat makan itu. akhirnya Karin diam saja diajak makan sama Kavi.


Sebenarnya Karin merasa heran, kenapa Kavi mengajaknya makan di tempat seperti itu. tempat yang kebanyakan orang kaya menganggapnya kurang higienis. Apalagi dulu saat masih bersama Mirza, mantan kekasihnya itu tidak pernah mengajak makan di tempat seperti ini. berbeda dengan Kavi.


Setelah sampai tempat makan itu, Kavi meminta Karin untuk mencari tempat duduk lesehan yang nyaman. Sedangkan dirinya memesan beberapa menu makanan dan minuman. Bahkan Kavi tanpa bertanya Karin dulu, makanan apa yang diinginkan oleh perempuan itu. Kavi menganggap kalau Karin akan makan apa saja yang dia pesan.


“Tunggu sebentar, ya?” ucap Kavi yang kini sudah duduk berhadapan dengan Karin.


Karin hanya menjawabnya dengan anggukan kepala. Setelanya dia bingung mau bersikap atau bicara apa dengan kakak mantan kekasihnya itu.


“Sudah berapa lama kamu tinggal di kota ini, Rin?” tanya Kavi mengawali obrolan.

__ADS_1


“Sekitar enam bulanan, Kak.”


“Kenapa kamu nggak bilang, Rin? Aku sempat mencari kamu di restaurant tempat kamu bekerja dan mendatangi rumah kontrakan kamu. Tapi teman kamu mengatakan kamu sudah resign. Sedang rumah kontrakan kamu, sudah ditempati orang baru. No ponsel kamu juga tidak aktif.” Tutur Kavi panjang lebar.


Karin diam terperangah mendengar kalimat yang terucap dari mulut Kavi. Kenapa pria di hadapannya itu mencarinya. Bahkan sampai mendatangi ke rumah kontrakan dan ke tempat kerja.


“Maaf, Kak. Aku rasa memang tidak penting juga aku memberitahu Kak Kavi. Bukankah aku dulu sudah mengatakan kalau-“


“Permisi! Silakan dinikmati, Mas Mbak!”


Belum smepat Karin melanjutkan kalimatnya, ada orang datang membawakan pesanan makanan mereka. Kavi pun mengangguk mengucapkan terima kasih. Setelahnya meminta Karin segera makan.


Sesekali Kavi melirik Karin yang sedang makan dengan menundukkan kepalanya. Sebenarnya dia juga tahu apa yang akan dikatakan oleh Karin tadi. bahkan alasan Karin pindah ke kota ini. hanya saja Kavi ingin tahu alasan pasti dari Karin selain ingin melupakan Mirza.


.


.


.


*TBC


Happy Reading!!


 

__ADS_1


__ADS_2