
Mirza tertunduk lemah di depan jasad Deo yang baru saja mati akibat ulahnya. Nafasnya masih tersengal. Ada rasa kepuasan tersendiri dalam diri Mirza setelah berhasil membalaskan dendamnya pada Deo.
Mirza tidak menyangka kalau tangannya mampu membunuh seseorang yang telah menghianatinya. Orang yang dulu dia anggap seperti saudara, ternyata tega menusuknya dari belakang. Dan kini Deo pantas menerima balasan itu.
Mirza menatap jasad Deo yang terkapar besimbah darah. Sama sekali tidak ada rasa iba dalam diri Mirza saat melihat jasad itu. bahkan ia juga ingin membakar mayat Deo dengan tangannya sendiri.
Mata hazel itu menatap lekat jasad Deo. Khususnya tertuju bibir Deo. Bibir yang telah mengucapkan kalimat tak masuk akal sebelum ajalnya tadi tiba. Entah kenapa hati Mirza sedikit terusik dengan kalimat terakhir Deo. Sebenarnya apa yang pria itu ketahui tentang Karin? mengapa ia berani berkata seperti itu? meskipun Mirza tidak mempercayainya, tapi tetap saja seperti ada sesuatu yang mengganjal.
“Hei, cepatlah! Bawa jasad baj***an itu ke belakang dan bakar sekarang juga!” teriak Samuel pada beberapa anak buahnya.
Samuel mendekati Mirza yang sejak tadi masih tertunduk lelah setelah berhasil menghabisi nyawa Deo. Kemudian ia menyodorkan sebotol air mineral pada Mirza.
“Minumlah dulu!” ujar Samuel.
Dengan tangan yang masih berlumur darah dan tentunya menyisakan bau anyir, Mirza menerma botol minuman itu dan meneguknya sampai habis.
“Ini baru permulaan, Za. Tapi aku akui untuk seorang pemula, kemampuan kamu tak diragukan lagi. Bang Jo pasti sangat bangga denganmu.” Ucap Samuel dengan menepuk punggung Mirza.
Anak buah Samuel sudah membawa jasad Deo ke belakang dan membakarnya di sana. Sedangkan Mirza membersihkan tubuhnya sejenak sebelum pulang bersama Samuel untuk menemui Joshua.
Setibanya di rumah Joshua, Mirza sudah mendapatkan sambutan hangat dari Joshua. Pria itu sebelumnya diberitahu oleh Samuel bahwa Mirza melakukan tugasnya dengan sangat baik. Dan hal itu membuat Joshua semakin bangga.
“Terima kasih, Bang! Sudah membantu dalam membalaskan dendamku. Aku sangat puas bisa menghabisi Deo dengan tanganku sendiri.” Ucap Mirza.
__ADS_1
Joshua menganggukkan kepalanya dengan tersenyum miring yang entah apa makna dari senyuman itu.
“Kamu pantas menjadi anak buahku. Silakan tunggu tugas selanjutnya dariku, Za!” jawab Joshua.
Mirza sebenarnya ingin membahas tentang perintah Joshua tempo hari yang menyuruhnya mencari seseorang. Namun dia tidak ingin bertanya dulu, karena Joshua sendiri yang mengatakan untuk menunggu perintah selanjutnya. Jadi dia tidak ingin mencari orang itu terlebih dulu sebelum dapat perintah.
Usai bertemu dengan Joshua, Mirza pulang ke rumahnya. Waktu juga sudah menunjukkan pukul tiga dini hari. Namun sebelumnya ia harus memastikan dulu kalau di dalam tubuhnya tidak ada jejak yang mencurigakan.
Kini di rumah Joshua hanya ada Joshua dan Samuel. Pria itu duduk berhadapan setelah kepergian Mirza. Samuel sedikit heran dengan ucapan Joshua terhadap Mirza tadi.
“Bang, bukannya Bang Jo menyuruh Mirza mencari wanita itu?” tanya Samuel penasaran.
“Aku sudah menyuruh orang lain yang lebih kompeten daripada Mirza. Namun untuk membunuhnya, biarlah Mirza yang melakukannya. Tugas kamu hanya memerintahkan Mirza jika orang itu sudah menemukan musuhku itu.” jawab Joshua dengan menyeringai.
***
Keesokan paginya, Mirza bangun sedikit terlambat. Ia buru-buru masuk ke ruang makan untuk mengisi perutnya sebelum pergi ke kantor. namun sayangnya di ruang makan itu hanya ada Lidia saja.
“Pagi, Ma! Mama sendirian saja?” sapa Mirza.
“Pagi, Sayang! Iya. Ayah dan Kak Kavi ada urusan penting sejak pagi-pagi sekali.” Jawab Lidia.
Mirza terdiam sejenak. Lagi-lagi ucapan Deo kemarin terngiang di pikirannya. Namun buru-buru ia menepisnya. Karena hubungannya dengan sang Kakak baru saja membaik. Dia tidak ingin berpikiran yang macam-macam.
__ADS_1
“Kamu mau makan apa? Biar Mama ambilkan.” Tawar Lidia saat melihat Mirza sejak tadi diam.
“Apa saja, Ma. Terima kasih.”
Tidak membutuhkan waktu lama Mirza menghabiskan sarapannya. Setelah itu dia langsung pergi ke kantor, karena hari ini ada meeting penting.
Setibanya di kantor, Mirza tidak mendapati Ayahnya di sana. Karena memang sebelumnya Sean pasti berada di kantor cabang semenjak kepulangannya dari Lapas. Lalu apa alasan Ayahnya hari ini tidak datang ke kantor? mengingat ada meeting penting yang wajib dihadiri oleh Sean langsung.
“Permisi, Tuan!” ucap Eva, sekretaris Mirza.
“Hmm… ada apa?”
“Ini, saya tadi mendapat pesan dari Tuan Sean untuk menyampaikan pada anda agar memimpin meeting.” Ucap Eva sambil memberikan sebuah map berisi dokumen dan beberapa catatan kecil.
“Baiklah.” Jawab Mirza dan segera masuk ke ruangannya.
Mirza sangat heran dengan Ayahnya. Kenapa justru memberitahu Eva mengenai meeting nanti. kenapa Ayahnya tidak langsung mengatakan padanya. Sebenarnya ada urusan apa diantara Ayahnya dan juga Kavi. Mirza semakin bertanya-tanya. Bahkan sedikit menaruh curiga kalau memang Ayahnya pilih kasih terhadapnya dan juga sang Kakak.
.
.
.
__ADS_1
*TBC
Happy Reading!!