Perseteruan 2 Calon Pewaris

Perseteruan 2 Calon Pewaris
68. Sensasi Berbeda


__ADS_3

Hari ini, Kavi dan Sean akan terbang ke kota tempat tinggal mendiang kedua orang tua angkat Karin. Kavi sudah mempersiapkan segala sesuatunya untuk keberangkatannya nanti. dan rencananya mereka akan berangkat nanti malam. karena sekarang, Kavi masih sibuk menyelesaikan beberapa pekerjaannya yang sempat tertunda.


Begitu juga dengan Sean. Saat ini pria itu masih sibuk di kantor cabang. Semenjak kepergian Mirza, Sean menjadi sangat sibuk. Entahlah, kemana anak bungsunya itu pergi. Sean juga belum ingin mencarinya. Karena selain dilarang oleh Lidia, Sean juga ingin memberikan waktu untuk Mirza agar bisa berpikir dengan jernih.


Tok tok tok ….


Sean mempersilakan masuk seseorang yang mengetuk pintu ruang kerjanya. Dia adalah Eva.


“Permisi, Tuan! Tuan Mirza datang.” ucap Eva.


Sean yang temgah fokus dengan beberapa dokumen di tangannya tampak terkejut saat mendengar ucapan Eva.


“Kamu bilang apa?” tanyanya untuk memastikan.


“Tuan Mirza datang. beliau sekarang berada di ruangnnya, Tuan.” Jawab Eva.


Bukan tanpa alasan Eva memberitahu pada Sean tentang kedatangan Mirza ke kantor. Eva juga tahu kalau kurang lebih selama satu minggu ini Mirza tidak hadir ke kantor. jadi, setelah tahu kedatangan Mirza yang tiba-tiba, ia pun segera memberitahu Sean.


“Baiklah. Terima kasih atas informasinya. Kamu bisa kembali lagi ke ruanganmu.”


Setelah Eva keluar dari ruangannya, Sean pun segera beranjak untuk menemui Mirza. Tidak dapat dipungkiri, selain dia merasa bersalah atas ucapannya pada Mirza, Sean juga merindukan anak bungsunya itu.


Sean memasuki ruangan Mirza tanpa mengetuk pintu. Ia melihat Mirza sedang berdiri di tepi jendela dengan tatapan ke luar.


“Mirza! Akhirnya kamu kembali juga.” seru Sean menghampiri anak bungsunya itu.


Mirza menoleh ke arah Sean dengan mengulas senyum tipis. Bahkan ia menerima uluran tangan Ayahnya yang hendak memeluknya.


“Maafkan Ayah jika ucapan Ayah waktu itu menyakitimu.” Ucap Sean dengan memeluk erat Mirza. Tangannya menepuk pelan punggungnya.

__ADS_1


Sedangkan Mirza masih diam tak menunjukkan reaksi apapun. Sean pun mengurai pelukannya, karena merasa aneh dengan sikap anak bungsunya.


“Ayah tidak salah. Justru Mirza yang salah. Baiklah, mulai hari ini Mirza akan bekerja dengan serius.” Ucap Mirza meyakinkan.


Sean lega mendengarnya. Setelah itu ia meminta Mirza agar menghubungi Mamanya. Karena selama beberapa hari sejak kepergian Mirza, Lidia terlihat begitu sedih.


“Saat jam makan siang nanti Mirza akan pulang menemui Mama. sekarang, apa yang bisa Mirza kerjakan, Yah?”


Sean mengangguk. Ia salut dengan Mirza. Ternyata selama beberapa hari menghilang, Mirza sepertinya bisa merenungi kesalahannya dan menunjukkan keseriusannya pada perusahaan. Setelah itu Sean keluar dari ruangan Mirza dan akan memberi tahu pada Eva agar memberikan beberapa dokumen yang tadi belum selesai ia kerjakan pada Mirza.


**


Lidia sangat senang saat jam makan siang tiba-tiba mendapati kemunculan Mirza yang tiba-tiba. Napsu makan Lidia yang kurang baik semenjak kepergian anak bungsunya kini perlahan membaik saat ada Mirza di sampingnya.


“Za, tidak ada orang tua yang salah dalam mendidik anak-anaknya. dan Ayah kamu sama sekali tidak pernah pilih kasih dengan semua anak-anaknya. mungkin kalian kemarin hanya salah paham. Asal kamu tahu, Za! Sejak dalam kandungan Mama, Ayah kamu justru memperlakukan kamu dengan istimewa. Bahkan sampai sekarang. Ayah kamu melakukan itu semua karena sangat menyayangimu.” Lidia memberi nasehat pada Mirza setelah selesai makan siang.


***


Sore ini Kavi sudah berada di apartemen Maxim. Lebih tepatnya ia mendatangi Karin untuk mengatakan rencana kepergiannya nanti malam ke kota tempat tinggal kekasihnya itu.


Karin jelas sangat khawatir mendengar kabar itu. dia takut terjadi sesuatu dengan Kavi. Apalagi dia sangat tahu kalau selama ini kedua orang tua angkatnya selalu berada di posisi tidak aman. Dan semua itu karena orang-orang jahat itu menginginkannya.


“Aku takut kalau mereka masih berada di sekitar rumah Ayah dan Ibu, Kak. Bagaimana kalau mereka menyerang kalian semua?” ucap Karin dengan cemas.


“Tenanglah! Aku sudah mempersiapkan semuanya. Aku dan Ayah harus segera mencari bukti di dalam rumah kamu agar bisa secepatnya menemukan keberadaan orang tua kamu saat ini.”


Karin mencoba percaya dengan ucapan Kavi. Namun tetap saja hatinya merasa cemas. Takut terjadi hal buruk pada kekasihnya itu. Karin juga sangat takut kehilangan Kavi.


Kavi memeluk tubuh Karin dengan erat. Dia tahu apa yang ada dalam pikiran perempuan itu. jujur, Kavi juga tidak ingin kehilangan Karin.

__ADS_1


Cukup lama mereka berdua terdiam saling memeluk. Usapan lembut tangan Kavi di kepala Karin membuatnya merasa cukup tenang. Kavi memang pria pilihan hatinya. Pria yang selalu bersikap lembut dan penuh perhatian. Bahkan Kavi rela melakukan apapun demi mengungkap identitas dan mencari keberadaan orang tuanya.


“Kak, terima kasih.” Ucap Karin mendongakkan kepalanya menatap mata Kavi.


“Aku sangat mencintai Kak Kavi. Jangan pernah tinggalkan aku, Kak. Berjanjilah.” Lanjutnya dengan mata berkaca-kaca.


Kavi tidak menjawab ucapan Karin. justru pria itu menjawabnya dnegan sebuah kecupan singkat pada bibir Karin. kecupan singkat namun mampu membuat perasaan Karin menghangat.


Ternyata kecupan itu tidak hanya sekali saja. justru Karin kini mulai membalasnya dengan kecupan juga. hanya saja, saat Karin hendak melepas kecupannya, Kavi menahan tengkuk Karin dan dia semakin memperdalam ciuman itu.


Kini mereka berdua sama-sama hanyut dalam kubangan kenikmatan di antara tautan bibir dan lidah yang saling membelit. Ciuman yang awalnya lembut itu berubah semakin menuntut. Keduanya sama-sama menginginkan lebih dari sekedar ciuman.


Tangan Kavi pun mulai bergerak nakal menyelinap ke balik kemeja Karin. meraih sesuatu yang sudah membangkitkan gai_rahnya saat tak sengaja menyentuh aset milik Karin. bahkan dengan bibir yang masih melu_mat, Kavi menyentuh milik Karin dengan penuh napsu.


Kavi mengangkat tubuh Karin. menggendongnya, membawanya masuk ke dalam kamar. bahkan kedua kaki Karin mencengkeram kuat pinggul Kavi dengan ciuman yang semakin panas.


Keduanya kini sudah jatuh di atas ranjang. Kavi melepas ciumannya dengan nafas tersengal. Kemudian mendaratkan bibirnya di atas aset berharga milik Karin. suara indah Karin pun keluar begitu saja saat merasakan sensasi berbeda yang selama ini belum pernah ia rasakan.


Ting tong….


.


.


.


*TBC


Happy Reading!!

__ADS_1


__ADS_2