
Beberapa saat kemudian mobil Kavi sudah memasuki halaman rumahnya. Tangan Karin mendadak dingin, disertai perasaan gugup yang sudah naik level dari sebelumnya.
“Kak! Apa nggak sebaiknya lain kali saja makan malamnya?” tanya Karin dengan gugup.
“Hei, tenanglah Sayang! Kamu ini mau bertemu calon mertua. Bukan bertemu malaikat. Jadi jangan takut, ok?” jawab Kavi menggenggam lembut tangan Karin.
“Tapi, ak,-hmmppp”
Kavi tiba-tiba saja membungkam mulut Karin dengan bibirnya. kedua bibir yang saling bertemu itu terdiam beberapa detik, hingga akhirnya Kavi mulai meluumatnya dengan lembut. Berharap dengan begitu ia bisa menenangkan perasaan Karin yang sejak tadi gugup karena ingin bertemu kedua orang tuanya.
“Ish, Kakak ih…!”
Karin mendorong tubuh Kavi saat ia hampir saja kehabisan pasokan oksigen. Tapi entah kenapa, dia juga sangat menikmati ciuman yang diberikan oleh Kavi baru saja.
“Gimana? Apa sekarang sudah lebih rileks?” tanya Kavi dengan senyum menggoda dan terus menatap bibir Karin.
“Apaan sih. Sama sekali nggak!” jawab Karin dengan jutek. Padahal saat ini degupan jantungnya tak beraturan. Dia memilih pura-pura membenai penampilannya.
“Kalau nggak rileks, itu tandanya kurang lama dan kamu juga harus ikut membalasnya. Mau coba lagi?” tanya Kavi menggoda dan ia mulai mendekatkan tubuhnya pada Karin.
“Sudah ah, Kak! Yuk buruan masuk!” lagi-lagi Karin mendorong tubuh Kavi.
Kavi hanya terkekeh melihat sikap Karin yang salah tingkah seperti itu. kemudian ia mengusap bibir basah kekasihnya itu dengan jarinya. Kini giliran Kavi yang susah payah menahan hasrattnya agar tidak kembali mengulangi perbuatannya.
**
Kini Kavi sudah mengajak masuk Karin ke rumahnya. Tepat di ruang tengah mereka mendengar suara Sean dan Lidia yang sedang ngobrol ringan. Sepertinya memang mereka sedang menunggu kedatangan Kavi dan Karin.
“Malam, Ma, Ayah!” ucap Kavi sontak membuat kedua orang tua itu menoleh ke sumber suara.
__ADS_1
Karin yang sejak tadi tangannya digendeng oleh Kavi, dengan cepat ia melepasnya lalu menunduk hormat pada Sean dan Lidia.
“Malam Om, Tante!”
“Malam juga! ayo sini duduk dulu! Mama sejak tadi menunggu kalian loh.” Jawab Lidia mempersilakan Kavi dan Karin agar segera bergabung.
Karin mendekati Sean dan Lidia. Mencium tangan mereka berdua dengan takzim. Sungguh Sean dan Lidia sangat tersentuh dengan sikap sopan santun Karin. perempuan sederhana yang sselalu mengutamakan adab kesopanan pada orang yang lebih tua.
Kini Karin sudah duduk di samping Kavi. Dia bingung mau bicara apa. Mengingat sudah lama tidak pernah bertemu dengan Sean dan Lidia. Apalagi sekarang situasinya sudah berbeda.
Lidia yang paling cepat peka melihat kegugupan Karin, dengan cepat ia membuat suasana menjadi hangat. Dia sama sekali tidak membahas masa lalu Karin dengan Mirza dulu. Justru dia mengucapkan rasa empatinya atas kejadian buruk yang menimpa Karin beberapa waktu yang lalu.
Karin sangat bahagia saat ada orang tua yang sangat memperhatikan dirinya. Tidak seperti orang tuanya yang entah bagaimana kabarnya. Bahkan untuk menanyakan kabar Karin saja tidak pernah. Jujur saja dia iri melihat keluarga Kavi yang begitu harmonis.
Cukup lama mereka berempat berbincang-bincang. Hingga akhirnya Lidia mengajak untuk menuju ruang makan.
Sean dan Lidia saling lirik dan mengulas senyum tipis saat melihat keromantisan Kavi dan Karin. mereka juga ikut bahagia. Terlebih pada Kavi yang selama ini tidak pernah sekalipun menjalin hubungan dengan seorang perempuan.
Saat makan malam itu pembicaraan hanya didominasi oleh Lidia dan Karin. kedua perempuan itu membahas masalah masakan. Sepertinya memang mereka sangat cocok. Sama-sama suka memasak. Sedangkan Kavi dan Sean yang sebagai penonton dan pendengar setia hanya tersenyum menanggapi obrolan Lidia dan Karin.
“Permisi, Tuan! Maaf, ada telepon dari Tuan Wilson.” Tiba-tiba saja seorang ART datang dan memberitahu Sean tentang seseorang yang baru saja menghubunginya melalui telepon rumah.
Kavi dan Mamanya saling lirik. Ada apa Tuan Wilson malam-malam begini menghubungi Sean. Tuan Wilson adalah salah satu pengacara Sean yang diminta untuk menangani kasus Mirza. Ada apa dengan Mirza?
“Baiklah. Sebentar lagi aku akan menghubunginya.” Jawab Sean dengan santai tanpa berminat meninggalkan ruang makan saat sedang makan malam.
Mereka berempat kembali melanjutkan maan malamnya setelah ART itu pergi. Karin yang sama sekali tidak tahu apa-apa tampak biasa saja. namun tidak dengan Kavi. Entah kenapa perasaannya mendadak cemas saat pengacara Mirza menghubungi Ayahnya.
“Ya sudah, Ayah ke ruang ketja dulu. Kalian lanjutkan saja obrolannya!” Pamit Sean setelah selesai makan malam.
__ADS_1
Kavi mengajak Karin bersantai di depan teras rumahnya. Sedangkan Lidia memilih masuk ke kamarnya. Atau lebih tepatnya sengaja memberikan waktu pada Kavi dan Karin untuk berduaan.
“Oh iya, aku sudah mendapatkan lowongan kerja buat kamu, Rin. Aku yakin kamu sangat suka dengan pekerjaan ini.” ucap Kavi.
“Benarkah, Kak? Dimana?” Tanya Karin antusias.
“Di PT. All Celular. Kebetulan Anna bekerja di sana. Dan katanya ada lowongan pekerjaan di bagian operator. Kamu mau kan?” jawab Kavi.
Karin mengangguk lemah. Apalagi saat mendengar nama Anna. Perempuan yang pernah ia temui sedang bersama Kavi dulu.
“Ya sudah, besok pagi ikut aku bertemu langsung dengan Anna.” Ucap Kavi.
“Ayah, mau kemana?” tanya Kavi tiba-tiba saat melihat Sean hendak pergi.
“Ayah ada urusan penting dengan Tuan Wilson yang menangani kasus Mirza.” Jawab Sean dengan tangan sibuk mengoperasikan ponselnya.
“Memangnya ada apa lagi, Yah? Ada apa dengan Mirza?” Tanya Kavi dengan cemas.
“Kata Tuan Wilson, Mirza akan mendapat remisi hukuman.”
.
.
.
*TBC
Happy Reading!!
__ADS_1