
Saat ini Kavi dan Karin sedang berada di pesisir pantai. Pantai yang belum dijamah banyak orang. Jadi pantai itu masih sangat sepi, kecuali penduduk sekitar yang menghuninya.
Bukan tanpa sebab Kavi membawa Karin ke pantai itu. selama perjalanan pulang dari rutan tadi, Karin tak henti-hentinya menangis. Namun Kavi sama sekali tidak tahu apa yang sedang terjadi dengan perempuan itu. akhirnya Kavi membawanya ke tempat ini. setidaknya mungkin itu bisa meredakan kesedihan yang tengah Karin rasakan.
Kedua orang itu sama-sama duduk di pesisir pantai. Duduk berdua dengan jarak yang tidak terlalu jauh dan juga tidak terlalu dekat. Pandangan mereka sama-sama tertuju pada laut lepas, namun dengan pemikiran yang berbeda.
Jika Kavi memikirkan tentang Mirza yang tiba-tiba menbencinya, berbeda dengan Karin yang saat ini merasakan hampa hatinya lantaran keputusan Mirza untuk mengakhiri hubungan mereka.
Sebagai seorang pria, jelas Kavi mampu berpikir logis. Sikap Mirza seperti tadi suatu saat akan berubah, dan akan kembali menjadi Mirza yang ia kenal. Namun bagaimana dengan Karin. menjalani hubungan yang sudah lama dijalin, mempertahankan hubungan itu sangatlah sulit. Tapi kenapa Mirza tega melakukan itu semua.
Kilatan kenangan manis yang pernah Karin dan Mirza lalui kini memenuhi pikiran Karin. sesakit itukah rasanya ditinggal oleh cinta pertama kita. Tanpa terasa air mata Karin kembali mengalir. Bahkan perempuan itu sampai menangis tergugu.
“Karin, kamu baik-baik saja? katakan, apa yang bisa aku bantu buat kamu?” Tanya Kavi yang jelas terkejut dan khawatir melihat Karin menangis seperti itu.
“Mirza! Kenapa kamu tega melakukan itu semua? Aku sangat mencintaimu, kenapa kamu tega mengakhiri hubungan kita?” Karin berteriak dengan suara lantang. Air matanya pun tak henti-hentinya mengalir.
Kavi hanya mampu terdiam melihat kondisi Karin. perempuan itu tidak lebay. Karena memang sangat sakit rasanya jika hubungan yang sudah lama dijalin tiba-tiba putus di tengah jalan. Dan Kavi yang belum pernah mengalaminya juga tidak bisa melakukan apa-apa.
“Minumlah, agar suasana hati kamu lebih tenang.” Kavi memberikan sebotol air meniral yang tadi sempat ia bawa.
Tanpa menjawab, Karin langsung menerima dan meminumnya. Perlahan isakannya mulai mereda. Tapi tidak dengan sakit di hatinya.
“Kamu yang sabar ya, Rin! Mungkin Mirza melakukan itu semua karena dia tidak ingin memberikanmu harapan palsu. Saranku lebih baik doakan saja yang terbaik buat dia. Kalau cinta kalian masih sama-sama besarnya, suatu saat pasti akan bertemu lagi di suasana yang berbeda.” Tutur Kavi panjang lebar.
__ADS_1
Karin hanya mengangguk samar. Walau memang tidak akan mudah menjalani kehidupannya setelah ini. dia tetap harus kuat. Bukankah Mirza tadi mengatakan kalau hubungan mereka masih baik. Hanya status saja yang membedakan.
Cukup lama Kavi dan Karin berada di pantai itu. hingga sore harinya Kavi mengajak Karin pulang.
“Terima kasih banyak, Kak. Kak Kavi sudah membawaku ke tempat ini. perasaanku sudah sedikit lebih lega sekarang.” ucap Karin saat mereka sedang dalam perjalanan pulang.
“Iya. aku ikut senang mendengarnya. Mulai dari sekarang lebih baik kamu fokus dengan pekerjaan kamu. Ingat dengan masa depanmu, Rin. Keputusan Mirza mengakhiri hubungan kalian, bukan juga akhir dari segalanya. Tetap semangat ya!” ucap Kavi dengan diakhiri tindakan yang membuat Karin bingung menanggapi situasi itu. Kavi mengusap pucuk kepalanya dengan lembut.
Drt drt…
Saat tengah fokus dengan kemudinya tiba-tiba saja ponsel Kavi bergetar ada panggilan masuk. Dan Karin yang tak sengaja melihatnya, di situ tertera panggilan masuk dari seseorang yang bernama Anna.
“Ka ada telepon tuh!” Ucap Karin memberitahu.
“Mungkin saja itu penting. Dari pacar Kak Kavi.” Ucap Karin.
Ckiittt
Kavi sedikit mendadak mengerem mobilnya. Bahkan Karin sampai terkejut. Untung saja jalanan sudah tidak terlalu padat. lalu Kavi menepikan mobilnya sebentar. Dia juga terkejut dengan ucapan Karin kalau ada panggilan dari pacar. Memang siapa? Lalu ia mengambil ponselnya dan Anna kembali menghubunginya setelah beberapa panggilan tak terjawab.
“Bentar ya, aku angkat telepon dulu!” ijin Kavi.
Karin hanya mengangguk samar. Ternyata perempuan yang diajak Kavi makan malam dan sempat bertemu di restaurant dulu memang benar kekasih Kavi.
__ADS_1
Karin tidak dengar jelas apa yang sedang dibicarakan oleh Kavi dan Anna. Yang Karin tahu dari mimik wajah Kavi terlihat senyum-senyum dan seperti menyanggupi sesuatu pada perempuan yang bernama Anna itu untuk bertemu.
“Maaf, jadi membuatmu menunggu.” Ucap Kavi merasa tak enak setelah mengakhiri obrolanya dengan Anna.
“Nggak apa-apa kok, Kak. Justru aku yang minta maaf. Karena aku, Kak Kavi sampai mengabaikan pacar Kakak.” Jawab Karin.
“Pacar? Anna itu-“
“Ayo lebih baik kita segera pulang, Kak.” Potong Akrin dengan cepat.
Kavi hanya mengangguk lemah. Setelah itu ia kembali menyalakan mesin mobilnya untuk mengantar Karin pulang. sebenarnya Kavi ingin menjelaskan pada Karin kalau Anna bukan kekasihnya. Tapi kenapa juga dia ingin mengatakan itu. entahlah, seperti ada yang mengganjal di hati Kavi saat ini.
“Terima kasih banyak, Kak. Maaf sudah merepotkan.” Ucap Karin saat mobil Kavi sudah berhenti di depan rumah kontrakan Karin.
“Sudahlah, Rin. Jangan bilang seperti itu. aku sama sekali tidak merasa kamu repotkan. Kalau kamu butuh bantuan apa-apa, bilang saja ke aku. ok! Aku pergi dulu ya?” pamit Kavi setelah Karin keluar dari mobilnya.
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Happy Reading!!