
“Sebenarnya apa yang terjadi, De? Kenapa kamu sampai mendapat luka seperti ini?” tanya Mirza yang kini sedang duduk di samping brankar Deo.
Sejak tadi Mirza duduk menunggu Deo istirahat. Dia tidak mungkin tega meninggalkan temannya dalam keadaan seperti itu. terlebih Deo mendapat luka yang masih ada hubungannya dengan dirinya.
“Tadi tiba-tiba ada orang yang menyerangku. Aku juga tidak tahu dia siapa. Sepertinya orang yang iri dengan pekerjaan kita.” Jawab Deo menahan rasa nyeri di wajahnya.
“Maksud kamu?” Mirza belum sepenuhnya paham dengan apa yang diucapkan oleh Deo.
Pasalnya tadi saat berbincang melalui sambungan telepon, Deo hanya mengatakan kalau pihak perusahaan yang akan mengirim barangnya membatalkan memakai jasanya secara sepihak. Sedangkan beberapa dokumen sudah dibuatkan oleh Deo.
“Tadi aku datang ke pelabuhan. Karena aku mencurigai sesuatu. Ternyata perusahaan yang membatalkan kerjasama dengan kita, sudah tiba di pelabuhan dengan barang-barang yang siap bongkar. Tiba-tiba saja, ada seseorang yang menyerangku.” Jawab Deo.
Mirza menghembuskan nafasnya kasar. Dia tidak menyangka kalau akan ada kejadian seperti ini. apalagi sampai mengorbankan Deo.
“Za, bolehkah aku meminta sesuatu padamu?” tanya Deo.
“Apa? Katakan saja!”
“Bisakah kamu fokus dengan bisnis yang sudah kita rintis bersama ini? maaf, bukannya aku tidak mampu menanganinya sendiri, tapi aku tetap butuh tenaga dan pikiran kamu.” Ucap Deo membuang pandangannya.
Mirza terdiam. Akhirnya kalimat ini meluncur juga dari bibir Deo. Padahal Mirza berusaha mencegah agar Deo tidak sampai mengatakan hal ini. jadilah Mirza saat ini dirundung dilemma besar. Apakah dia harus melepas bisnisnya ini dan diserahkan semuanya pada Deo, lalu ia fokus dengan perusahaan. Atau sebaliknya?
“Aku tahu posisi kamu memang sangat sulit, Za! Tapi apakah kamu rela melepas usaha yang sudah kamu rintis dari nol itu? kamu sudah banyak berkorban. Mulai dari materi, tenaga, dan juga waktu. Coba kamu pikirkan matang-matang. Dan maaf, kalaupun kamu memilih mementingkan perusahaan Papa kamu, tetap posisi kamu tidak akan bisa mengalahkan kakak kamu.” Lanjut Deo.
***
__ADS_1
Semenjak mendengarkan ucapan Deo beberapa saat yang lalu di rumah sakit, semenjak saat itu Mirza kembali fokus pada bisnisnya. Dan selama itu juga ia memilih tinggal di apartemen milik Ayahnya yang sudah lama tidak ada yang menempati.
Mirza belum siap bicara dengan kakaknya. Di kantornya juga sedang sangat sibuk. Dia juga memilih menonaktifkan ponselnya sementara demi menghindari sang kakak. Bahkan Mirza juga tidak memberi kabar pada Karin.
Sementara itu Kavi yang saat ini sedang sibuk di kantor, setiap waktu dia menghubungi Mirza. Banyak sekali pekerjaan yang membutuhkan bantuan Mirza. Namun sudah tiga hari ini adiknya tak pernah menunjukkan batang hidungnya.
Kemarin, sepulang dari kantor, Kavi menyempatkan diri datang ke apartemen. Namun sayangnya Mirza tidak ada di sana. Kalau sudah seperti ini, rasa kesal dan jengkel kembali menghampiri hati Kavi.
Drt drt drt
Tiba-tiba saja ponsel Kavi bergetar. Ternyata ada panggilan dari Ayahnya. Dia tahu, pasti Ayahnya menanyakan tentang proyek kerjasamanya dengan perusahaan asing yang baru sebulan lalu mereka jalin. Dan hari ini juga Kavi harus meeting dengan rekan bisnisnya itu.
“Ya, Ayah?” tanya Kavi setelah panggilannya tersambung.
“…..”
“…..”
“Iya. sudah Kavi siapkan semuanya.”
Kavi menghembuskan nafasnya pelan. Dia terpaksa berbohong pada Ayahnya saat Sean menanyakan keberadaan Mirza. Tidak mungkin juga ia mengatakan yang sebenarnya. Apapun kesalahn Mirza, dia tidak akan tega jika adiknya itu mendapat kemarahan dari Ayahnya.
Akhirnya Kavi sendiri yang akan meeting dengan rekan bisnisnya itu. sedangkan pekerjaannya yang belum selesai, terpaksa akan ia bawa pulang dan dilanjutkan setelah meeting nanti.
Cukup lama Kavi meeting dengan kliennya. Hingga waktu menunjukkan pukul sembilan malam, dia baru saja keluar dari restaurant tempat mereka bertemu. Dia menghembuskan nafasnya lega, karena tidak ada kendala apapun dalam meeting tadi. semuanya berjalan dengan lancar, tidak ada hambatan sama sekali. Tinggal melakukan peninjauan proyeknya saja.
__ADS_1
Kavi melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sesekali pria itu memijit keningnya yang terasa sangat penat. Entah sampai kapan dia selalu disibukkan dengan pekerjaan seperti ini. terlahir dari orang tua yang memiliki banyak materi, ternyata tak lantas membuat hidupnya bahagia sepenuhnya. Apalagi perusahaan sang Ayah yang ada dimana-mana, membuat dia terpaksa harus ikut terjun langsung dan berkecimpung di sana.
Sebenarnya bukan terpaksa. Sejak dulu memang Kavi sendiri yang sudah tertarik untuk terjun di dunia bisnis seperti ini. tapi, saat pikirannya sedang penat seperti sekarang ini, pikiran buruk selalu melintas dalam benaknya. Namun ia berusaha membuang jauh itu semua.
Tin… tin…
Kavi menekan klason mobilnya saat tidak sengaja melihat seorang perempuan yang dia kenal tengah berjalan seorang diri di trotoar. Apalagi saat ini sudah menujukkan pukul setengah sepuluh malam.
“Karin! masuklah!” ucap Kavi sembari menurunkan kaca mobilnya.
“Kak Kavi? Tidak perlu, Kak! Aku jalan kaki saja.” tolak Karin.
Kavi menghentikan mobilnya. Ia keluar, lalu menghampiri Karin. dia menarik tangan Karin sedikit memaksa lalu membawanya masuk ke dalam mobil.
“Kamu ini perempuan. Dan ini sudah malam. tidak baik berjalan sendirian seperti ini.” gerutu Kavi lalu menutup pintu mobil. Setelah itu dia juga masuk dan melajukan mobilnya menuju rumah kontrakan Karin.
.
.
.
*TBC
Happy Reading!!
__ADS_1