
Mirza kini tampak sedang tersenyum puas setelah mendapat informasi dari teman Samuel yang baru saja berkunjung ke Lapas. Meskipun dia berada di dalam Lapas, ternyata sangat mudah untuk membalaskan dendamnya pada mantan sahabatnya.
Ya, orang yang beberapa hari yang lalu datang menemui Deo untuk menawarkan kerjasama dengan untung besar adalah orang suruhan Samuel. Tentu saja itu perintah dari Mirza.
Mirza sudah merencanakan sesuatu untuk Deo. Setidaknya dengan melalui teman Samuel, ia bisa memantau langsung bagaimana dan apa saja yang dilakukan oleh Deo selama ini. ternyata Deo sampai saat ini masih menyelundupkan barang-barang illegal melalui kapal yang memakai jasanya untuk pengiriman barang ke luar negeri.
“Terima kasih banyak, Sam! Aku tidak sabar melihat reaksi Deo jika saatnya nanti tiba. Ternyata orang yang bekerjasama dengannya adalah aku. bodohh sekali dia bisa semudah itu masuk dalam perangkap musuh.” Ucap Mirza.
“Tentu saja kita harus bermain cerdik. Aku tahu bagaimana liciknya teman kamu itu.” sahut Samuel.
“Bukan temanku lagi si berengsek itu. tapi musuhku.” Ujar Mirza meralat ucapan Samuel.
***
Malam ini tampak seorang perempuan sedang berjalan seorang diri. Perempuan itu merasakan lelah di seujur tubuhnya setelah seharian bekerja. Apalagi hari ini restaurant sangat ramai, hingga membuatnya pulang sedikit lebih malam dari biasanya.
Padahal sudah sering Karin lembur kerja seperti ini. tubuhnya juga baik-baik saja. lelah pun justru membuat dia bersemangat bekerja. Setidaknya rasa lelah itu tergantikan dengan uang yang sengaja memang menjadi tujuan hidupnya. Tapi kenapa hari ini terasa sangat berbeda.
Bukan tubuh Karin saja yang merasa lelah. Tapi hatinya juga. entahlah semenjak pertemuannya yang terakhir dengan Kavi, dua bulan yang lalu. Dimana Kavi mengungkapkan perasaan cintanya, lalu pria itu dengan mudahnya berpamitan pergi begitu saja tanpa ingin tahu kalau perasaannya tidak baik-baik saja.
__ADS_1
Karin sungguh bingung dengan perasaannya sendiri. Hampie setiap hari dilanda kegelisahan karena memikirkan ucapan Kavi saat itu. bagaimana mungkin pria yang sudah ia anggap sebagai kakaknya sendiri menyatakan cinta padanya. Apalagi pria itu adalah kakak dari mantan kekasihnya.
Sampai saat ini Karin masih bertanya-tanya, apakah benar Kavi mencintainya? Lalu sejak kapan? Secepat itukah rasa cinta pria itu terhadapnya. Atau memang sejak dulu Kavi sudah memiliki perasaan itu.
“Kenapa jadi seperti ini?” teriak batin Karin.
Karin memilih duduk di bangku taman sejenak. Hubungannya dengan Kavi sampai saat ini masih baik-baik saja. meskipun hanya melalaui udara. Namun sayangnya semenjak ungkapan cinta Kavi padanya, selama itu juga jika Kavi berkirim pesan pada Karin sama sekali tidak membahas tentang perasaan. Dan anehnya justru membuat Karin semakain gelisah.
Kehadiran Kavi yang hanya beberapa hari saja dua bulan yang lalu ternyata sudah berhasil membuat hati Karin tak karuan. Kilatan bayangan dimana dirinya sedang berada di pantai dan bersandar pada pundak pria itu, jujur membuat Karin sangat nyaman. Dan kini dia ingin mengulangi lah itu lagi. dengan begitu, apakah itu tandanya Karin sudah berhasil move on dari Mirza. Dan kini berpindah ke lain hati yaitu pada kakaknya Mirza.
Karin membuka ponselnya. Tidak ada pesan masuk dari siapapun. Biasanya hampir setiap hari Kavi akan mengirim pesan padanya. Meskipun hany pesan singkat yang berisi kalimat motivasi mengawali hari, tapi itu sukses membuat Karin terbawa perasaan. Dan sudah tiga hari ini Kavi tidak mengirim pesan padanya. Ingin mengirim pesan lebih dulu, tapi Karin takut. Atau kemungkinan pesannya tidak akan dibalas.
Akhirnya Karin memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. Dia masih malas untuk pulang. yang ada dia akan menemui kehampaan lagi. dan dengan duduk di bangku ini sambil melihat pemandangan jalan, sudah cukup membuatnya bahagia.
Ting
“Kalau selesai kerja langsung pulang dan istirahat! Tidak baik seorang perempuan berdiam diri di pinggir jalan malam-malam.”
Karin membelalakn matanya saat membaca pesan dari Kavi. Seketika itu dia mengedarkan pandangannya ke sekitar. Apa mungkin saat ini Kavi sedang berada di kota ini dan sedang memantaunya.
__ADS_1
“Tidak ada siapapun.” Gumam Karin setelah tidak menemukan keberadaan Kavi.
“Siapa juga yang berdiam diri di pinggir jalan. Ini aku mau tidur.” Balas Karin berbohong.
“Sudah, cepat pulang sana! Kamu tidak pandai berbohong, Karin!”
Karin akhirnya beranjak dari duduknya. Dia tidak lagi membalas pesan Kavi yang seeolah tahu kebaradaannya. Atau memang pria itu mengirim seorang mata-mata untuk mengintainya. Tapi untuk apa juga.
Keesokan paginya Karin bangun tidur masih dengan rasa remuk di sekujur tubuhnya. Beruntungnya hari ini libur. Jadi ia bisa bermalas-malasan sambil rebahan. Tiba-tiba saja ia teringat dengan pesan aneh yang dikirim Kavi semalam. Dan pagi ini Kavi tidak mengirim pesan lagi. sungguh Karin semakin tak mengerti dengan hatinya.
Setetes air mata tiba-tiba saja turun tanpa diminta. Kenapa sepagi ini hatinya tiba-tiba rapuh. Kenapa dia seperti berharap kehadiran Kavi di sisinya saat ini juga. sungguh Karin sangat tersiksa.
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Happy Reading!!