Perseteruan 2 Calon Pewaris

Perseteruan 2 Calon Pewaris
80. Tidak Sanggup


__ADS_3

Hari ini Kavi sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit setelah seminggu lebih dirawat di sana. Dan selama itu pula Mirza masih berada di ruangan ICU. Dan sampai saat ini Mirza belum juga membuka matanya. Mirza masih koma.


Sebelum pulang, Kavi meminta ijin pada Mama dan Ayahnya untuk melihat keadaan adiknya sebentar. Sean mengangguk dan memberikan waktu pada Kavi untuk bicara dengan Mirza. Karena menurut dokter, meskipun kondisi pasien sedang koma, namun alam bawah sadarnya masih bisa mendengar suara-suara orang di dekatnya.


Kavi memasuki ruangan Mirza. Meskipun beberapa alat kesehatan sebagian sudah dilepas, namun wajah Mirza masih terlihat pucat dengan mata terpejam. Kavi duduk di samping brankar adiknya.


Tidak ada rasa dendam sedikitpun dalam hati Kavi saat melihat keadaan Mirza yang seperti sekarang ini. sampai kapanpun Mirza akan tetap menjadi adiknya. Adik kesayangannya. Bahkan Kavi sudah melupakan perseteruan sengit yang pernah terjadi dengan Mirza beberapa saat yang lalu sampai menyebabkan keduanya terluka. Karena bagaimanapun juga, menang atau kalahnya dalam sebuah perseteruan tidak akan ada manfaatnya.


“Za? Bangunlah, Za! Apa kamu nggak kasihan dengan Mama dan Ayah yang sangat sedih melihat keadaan kamu seperti ini?”


Kavi memegang tangan Mirza, mengusapnya lembut untuk memberi kekuatan pada adiknya agar segera bangun.


“Sampai kapanpun aku akan menyayangimu, Za! Kamu adikku satu-satunya. Aku sama sekali tidak menaruh dendam padamu, Za! Jadi kamu jangan takut denganku karena aku akan membencimu.” Lanjut Kavi.


“Katanya kamu sangat mencintai Karin? bangunlah! Kejarlah dia, raih kembali cintanya. Aku akan rela melepas Karin demi adik kesayanganku. Aku ikhlas, Za. Jadi kumohon bangunlah!”


Kavi menahan rasa sesak di dadanya saat mengucapkan kata-kata itu. terlebih bersangkutan dengan nama Karin. wanita yang sangat dicintainya. Tapi demi Mirza, Kavi ikhlas merelakan Karin dimiliki oleh Mirza.


“Aku pulang dulu. Semoga keadaan kamu segera membaik. Kami semua menantimu, Za!” pungkas Kavi lalu memberikan kecupan singkat pada pucuk kepala Mirza.


Setelah Kavi keluar dari ruangan Mirza. Tiba-tiba saja air mata Mirza keluar. Entah apa yang dirasakannya setelah mendengar semua ucapan kakaknya baru saja. namun dalam alam bawah sadarnya Mirza berusaha bangun dan membuka matanya ia sangat kesulitan.


***


Keadaan Kavi perlahan membaik setelah pulang dari rumah sakit. Seminggu setelah kepulangannya, ia sudah kembali lagi ke kantor untuk membantu sang Ayah yang selama ini sibuk sendiri dengan berbagai macam pekerjaan yang sangat padat dan menumpuk. Sedangkan Mirza berada dalam pantauan dokter. jika ada kabar terbaru, dokter akan mengabarkan. Karena Sean tidak bisa setiap hari menemani Mirza di rumah sakit. Begitu juga dengan Lidia.


Weekend ini Kavi berencana akan datang untuk bertemu dengan Karin. selama dirawat di rumah sakit, Kavi sama sekali tidak melihat kehadiran Karin di rumah sakit. Mungkin perempuan itu masih shock dengan kejadian yang menimpanya waktu itu.

__ADS_1


Dalam hati Kavi sangat merindukan Karin. namun ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk melepas Karin demi Mirza.


Waktu itu pun tiba. Kavi kini sudah berada di rumah kedua orang tua Karin. rumah mewah yang berada di kawasan perumahan elit dan tak jauh dari rumahnya.


Kavi sedang ngobrol dengan kedua orang tua Karin di ruang tamu. Sedangkan Karin sendiri masih berada di kamarnya. Beberapa saat kemudian Karin sudah tiba di ruang tamu. Tuan Kyler dan istrinya memilih untuk pergi dan membiarkan Kavi dan Karin bicara berdua.


“Karin!”


“Kak Kavi!”


Mereka bicara bersamaan. Ada rasa rindu mendalam di hati keduanya. Namun mereka sama-sama merasa seperti ada penghalang besar yang membuat mereka tidak bisa mengungkapkan rasa rindunya.


“Kamu apa kabar?”


“Baik, Kak. Kak Kavi sendiri bagaimana? Maaf, aku belum sempat datang menjenguk Kak Kavi di rumah sakit.”


“Nggak apa-apa. Aku sudah sehat, kok.” Kavi berusaha bersikap biasa saja.


“Karin, ada yang ingin aku bicarakan dengan kamu.” Ucap Kavi setelah menarik nafasnya dalam.


“Bicara apa, Kak?” tanya Karin harap-harap cemas.


“Mirza koma.”


Deg


Karin mendongak menatap mata Kavi dengan tatapan tak percaya. Memang yang ia tahu dari Papanya kalau saat itu keadaan Kavi dan Mirza sama-sama kritis. Namun Karin tidak menyangka kalau Mirza akan koma.

__ADS_1


“Dia sangat mencintaimu, Karin. dia menanti kedatanganmu untuk membangunkannya dari tidur panjangnya.”


Karin sama sekali tidak megerti apa maksud ucapan Kavi baru saja. apa hubungannya Mirza dengan dirinya. Lalu kanap jika Mirza mencintai dirinya. Bukankah hubungan itu sudah lama berlalu. Bahkan dirinya sudah tidak memiliki perasaan apapun pada pria itu.


“Maafkan aku, Karin. aku tidak ingin kehilangan Mirza. Aku tidak ingin hubungan persaudaraanku dengan Mirza berakhir. Sampai kapanpun Mirza adalah adikku.”


“Apa maksud Kak Kavi bicara seperti itu?” Karin benar-benar tidak mengerti.


“Maafkan aku, sekali lagi maafkan aku. kumohon kembalilah pada Mirza. Dia sangat membutuhkanmu. Dia akan bangun kalau kamu datang dengan membawa cinta untuknya. Maafkan aku, lebih baik kita akhiri saja hubungan ini.” jawab Kavi dengan tenang.


Seketika air mata Karin luruh begitu saja. sungguh baik sekali hati Kavi yang tidak ingin hubungan persaudaraannya renggang dengan merelakan hubungannya yang sudah hampir setengah perjalanan. Lalu bagaimana dengan perasaaannya yang masih begitu besar pada Kavi. Karin bahkan tidak mau Kavi pergi begitu saja dari hidupnya.


“Karin, kumohon jangan menangis seperti ini? aku tahu ini sangat sulit untuk kita. Tapi aku tidak punya pilihan lain. Datangalah, temui Mirza. Setelah ini aku akan pergi, agar kalian bisa seperti dulu lagi. mungkin semua ini akulah penyebabnya. Aku yang hadir di antara kalian berdua.”


Karin menggelengkan kepalanya dengan cepat. Air matanya tak henti-hentinya mengalir.


“Kak Kavi tidak salah. Jangan salahkan diri kakak sendiri. Aku.. aku tidak sanggup jika Kak Kavi harus pergi dari kehidupanku. Tapi aku juga tahu kalau ini sangat sulit buat kakak.”


Kavi ingin sekali memeluk Karin untuk yang terakhir kalinya. Tapi ia menahannya. Dia tidak ingin perasaannya semakin sakit.


“Ini sangat berat buat aku, Kak. Tapi aku akan mengikuti keinginan Kakak. Aku akan datang menemui Mirza. Tapi bukan karena aku ingin membalas cinta Mirza. Tapi aku melakukannya karena aku mencintai Kakak.” Ucap Karin, setelah itu dia langsung berlari masuk meninggalkan Kavi yang masih diam termenung di ruang tamu.


.


.


.

__ADS_1


*TBC


Happy Reading!!


__ADS_2