
Kabar tentang Mirza yang baru sadar dari komanya itu jelas membuat Lidia sangat bahagia. Wanita itu segera menghubungi suaminya untuk datang sekarang juga ke rumah sakit. Sementara dirinya akan diperbolehkan masuk menemui Mirza setelah menunggu hasil pemeriksaan dari dokter lainnya yang ikut menangani Mirza.
Setelah melakukan pemeriksaan secara menyeluruh dan keadaan Mirza memang sudah membaik, akhirnya Lidia diperbolehkan masuk. Hanya saja dokter melarang Lidia untuk mengajak Mirza bicara terlalu banyak. Pasien juga masih membutuhkan waktu untuk istirahat.
Air mata bahagia Lidia tak henti-hentinya mengalir saat melihat Mirza sedang berbaring dengan mata yang sudah terbuka. Ingin sekali ia memeluk erat tubuh anak bungsunya itu. tapi Lidia menahannya. Ia ingat dengan saran dokter baru saja.
“Mirza, anakku!” lirih Lidia menghampiri Mirza.
Mirza langsung menoleh ke sumber suara. Wanita paruh baya yang tak pernah surut memberikan kasih sayang padanya itu sedang berdiri di sampingnya. Mirza mengulas senyum tipis ke arah sang Mama yang sangat ia rindukan.
“Mama!” sahut Mirza dengan lirih.
“Sayang, Mama sangat senang akhirnya kamu sadar juga. bagaimana keadaan kamu? Apa ada yang sakit?” tanya Lidia khawatir.
Mirza menggeleng lemah dengan seulas senyum tipis. Karena memang tubuhnya tidak merasakan sakit lagi. hanya ia butuh waktu untuk adaptasi setelah beberapa waktu koma.
Lidia mengusap lembut lengan Mirza. Wanita itu tak henti-hentinya mengucap syukur dalam hatinya atas anugerah Tuhan yang telah memberikan anak-anaknya kesempatan hidup setelah kejadian mengerikan menimpanya.
“Mama sudah menghubungi Ayah. Sebentar lagi akan datang. kami semua sangat merindukanmu, Za. Cepatlah pulih, agar kita bisa berkumpul lagi seperti dulu.” Ujar Lidia memberi semangat pada Mirza.
Mirza kembali mengukir senyumnya. Ada satu hal yang ingin dia tanyakan pada Mamanya. Kenapa Mamanya hanya memberitahu sang Ayah saja kalau dirinya sudah bangun dari koma. Lantas kemana kakaknya.
“Kak Kavi dimana, Ma?” tanya Mirza akhirnya.
__ADS_1
“Kak Kavi jelas di kantor lah. Membantu Ayah. Kalau Mama menghubungi Ayah dan kakak kamu untuk ke sini, nanti siapa yang berada di kantor? nanti kakak kamu pasti ke sini kok.” Jawab Lidia tidak ingin membahas masalah Mirza dan Kavi lebih dulu.
Mirza hanya mengangguk. Hatinya juga cukup lega, ternyata keadaan kakaknya baik-baik saja. sebanranya banyak hal yang ingin Mirza tanyakan pada Mamanya. Tapi sayangnya kepalanya masih sedikit berdenyut dan belum boleh banyak pikiran dulu seperti yang dikatakan oleh dokter tadi.
Beberapa waktu Lidia bersama Mirza yang baru sadar dari komanya, tak lama kemudian Sean datang. pria itu juga tak kalah bahagianya saat melihat anak bungsunya sudah bisa tersenyum saat menyambut kedatangannya.
Sama halnya seperti Lidia, Sean juga menanyakan keadaan Mirza saat ini. apakah masih ada rasa sakit yang dikeluhkan oleh anaknya itu setelah bangun dari komanya. Sean pun merasa lega setelah mendapat jawab dari Mirza yang keadaannya baik-baik saja.
“Mirza ingin secepatnya pulang, Ma.” Keluh Mirza merasa bosan.
“Sabar, tunggu dulu. Dokter juga harus melakukan observasi dulu sebelum memastikan keadaan kamu baik-baik saja.” jawab Lidia.
Menurut hasil observasi dokter secara keseluruhan keadaan Mirza sudah membaik. Hanya beberapa tulangnya saja yang masih meninggalakn cidera ringan. Sore ini juga Mirza dipindahkaan ke ruanga perawatan sampai luka cider aitu benar-benar sembuh baru diperbolehkan pulang.
Beberapa hari setelah dipindah ke ruangan perawatan, Mirza sudah tampak sehat. Makannya sudah normal seperti biasa. Dan kebetulan hari ini Lidia belum sempat datang ke rumah sakit setelah tadi pagi Sean berpamitan pulang karena ada pekerjaan penting. Jadi saat ini Mirza sedang sendirian di dalam kamar perawatan sembari menonton siaran televisi.
***
Sementara itu di kediaman Sean, tampak Lidia sedang menangis tergugu dengan adanya seseorang yang sedang bersimpuh di bawah kakinya. Sean pun juga berada di sana, hanya bisa diam menyaksikan anak dan istrinya sedang menangis haru.
Kepulangan Sean dari rumah sakit memang karena mendapat telepon dari Kavi untuk segera pulang. Kavi bilang ada hal penting yang ingin dia sampaikan padanya dan juga Mamanya.
Sean tidak menyangka kalau hal penting yang ingin disampaikan Kavi adalah tentang kepergiannya sebentar lagi. Ya, Kavi sudah memantapkan hatinya untuk pergi dari rumah. dia ingin mencari ketenangan hidup setelah beberapa masalah pelik menimpa keluarganya. Dan itu terjadi akibat ulahnya. Bahkan Kavi menyerahkan semua tanggung jawabnya pada sang adik.
__ADS_1
Bukan Kavi benci ataupun marah pada Mirza mengenai jabatan di perusahaan sang Ayah. Hanya saja Kavi sudah merelakan semuanya untuk sang adik. Sudah cukup selama ini ia mendapat jabatan tinggi di perusahaan Ayahnya. Kini Mirzalah yang pantas mendapatkannya.
“Mama tetap tidak mengijinkamu pergi! Sampai kapanpu Mama tidak rela kamu pergi!” Lidia terus menangis tidak peduli dengan Kavi yang masih bersimpuh di bawahnya.
“Semua ini bisa dibicarakan baik-baik, Kav! Mama yakin kalau adik kamu sudah bisa menerima semua itu dengan lapang dada. Kalian ini kakak adik. Tidak ada perebutan kekuasaan atau apapun.”
“Ma, bukan seperti itu maksud Kavi. Kavi hanya ingin menenangkan diri dulu sejenak. Kavi tidak membenci Mirza. Kavi janji akan kembali pulang.” ucap Kavi penuh permohonan.
Lidia masih terisak. dia tidak memberi jawaban apapun pada Kavi. Tapi dia cukup mengerti dengan perasaan anaknya itu. setelah itu Sean datang mendekati Kavi dan istrinya. Sean juga meminta Kavi duduk.
Sean membisikkan sesuatu pada istrinya. Entah apa yang dikatakan oleh pria itu, hingga membuat Lidia menatap sendu anak laki-lakinya itu.
“Baiklah. Mama akan mengijinkan kamu pergi menenangkan hati kamu seperti yang kamu katakan. Tapi Mama harap kamu secepatnya pulang.” ujar Lidia dengan hati yang sedikit tidak rela.
Siang itu juga Kavi berangkat. Dia pergi ke luar negeri, ke tempat tinggal kakak tirinya. Tidak ada pesan yang dititipkan Kavi untuk Mirza. Dia hanya mendoakan kesembuhan adiknya itu.
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Happy Reading!!