
Kavi mengajak Karin berhenti dulu demi menghindari pria itu. ia kembali menyalakan ponselnya. Karena memang setelah menghapus jejak keberadaannya, ia harus menonaktifkan ponsel itu sementara. Itu salah satu trik yang dulu sempat dapat dari Om-nya yaitu Fredy.
Kini Kavi kembali mengoperasikan ponselnya. Setelah itu ia melirik ke arah pria yang sedang berdiri tak jauh darinya. Terlihat jelas kalau pria itu sedang membawa ponsel Karin. itu tandanya pria itu sekarang sudah mendapat foto wajah Karin maupun dirinya melalui ponsel itu.
Beruntungnya dalam ponsel Kavi ada dua nomor sim card. Dan salah satunya yang biasa ia gunakan berkomunikasi dengan Karin sudah dinon aktifkan sejak tadi. sekarang ia sedang menghubungi seseorang agar memberikan bantuan secepatnya.
“Kak, penerbangan kita lima belas menit lagi!” ucap Karin dengan perasaan cemas dan pandangan tertuju pada pria yang sedang memegang ponselnya.
“Iya. tunggulah sebentar! Tepat jam keberangkatan, kita langsung masuk.” Jawab Kavi dengan tenang.
Dan waktu itu pun tiba. Kavi menggandeng tangan Karin menuju pesawat yang akan ia tumpangi. Dia berjalan dengan santai dan penyamaran yang cukup aman. Namun tetap saja, pria itu baru saja ia lewati tampak menaruh curiga terhadapnya. Kavi dan Karin semakin mempercepat langkahnya setelah check in. ternyata pria itu terus mengikutinya tanpa dicegah oleh security.
Tepat saat memasuki lapangan dimana peswat yang akan mereka tumpangi, Kavi mengajak Karin berlari. Sontak saja pria tadi semakin yakin kalau Kavi dan Karin lah targetnya. Namun ternyata bukan pesawat yang Kavi tuju, melainkan sebuah helicopter yang baru saja mendarat dan sengaja menjemput Kavi dan Karin.
Beberapa saat kemudian, Kavi dan Karin sudah berada di dalam helicopter. Sedangkan pria yang tadi mengejarnya tampak mengumpat kesal karena berhasil dikelabuhi oleh Kavi.
Karin yang masih shock dengan situasi yang sedang tejadi pada dirinya kini lebih memilih menutup matanya untuk istirahat sejenak. Tubuhnya benar-benar lelah. Apalagi tadi sempat berlari jauh demi kejaran orang-orang yang mengincarnya.
“Tenanglah! Selama aku masih ada di sisi kamu, aku akan selalu melindungimu.” Ucap Kavi berusaha menenangkan kekasihnya.
Kavi sekarang mulai mencari cara bagaimana menyelamatkan Karin dan juga kedua orang tuanya yang diperkirakan masih hidup. Tapi, sebelumnya ia harus menyelidiki dulu siapa kedua orang tua Karin sebenarnya.
Setelah memastikan Karin benar-benar tidur, Kavi menghampiri pilot helicopter yang sedang ia tumpangi saat ini. dia adalah Maxim, putra dari Fredy anak buah Sean.
Beruntung sekali tadi Kavi menghubungi Maxim dan pria itu langsung bisa membantunya. Entah apa yang akan terjadi kalau dirinya berhasil ditangkap oleh pria tadi.
__ADS_1
“Thanks, Max! You’d saved my life.” Ucap Kavi pada pria bule yang sedang menjalankan helicopter itu.
“It’s Ok. If I can, I’ll help you for anything, Brother!”
Kavi menanggapinya dengan tersenyum. Maxim memang sudah lama tinggal di luar negeri. walaupun Papanya berasal dari Indonesia, namun kalau berbicara dengan Bahasa Indonesia, masih kurang lancar.
Kavi dan Karin malam hari baru tiba. Maxim menurunkan mereka di rooftop sebuah apartemen. Kavi tadi sudah bercerita banyak tentang Karin pada Maxim. Jadi untuk sementara waktu Karin akan tinggal apartemen milik Maxim yang sudah lama tidak pernah ia tempati. Karena tidak mungkin Kavi membiarkan Karin tetap tinggal di apartemennya di saat wajah dan alamatnya sudah berhasil diketahui orang jahat yang mengincar Karin.
“Kamu sementara tinggal di sini, ya? Aku jamin kamu akan aman di sini. dan untuk sementara waktu kamu jangan bekerja dulu atau pergi kemana-mana. Besok aku akan ke sini lagi membawakan semua keperluan kamu.” Ucap Kavi pada Karin.
Karin menganggukkan kepalanya. Sebenarnya dia sangat takut kalau sendirian di tempat asing seperti ini. namun ia mencoba tetap percaya pada kekasihnya.
Setelah itu Kavi berpamitan pulang. ia harus pulang dan membicarakan semua ini pada Ayahnya untuk meminta bantuan.
Kavi tiba di rumah jam sepuluh malam. tepat saat ia masuk ke dalam rumah, Mirza justru akan pergi.
“Baru pulang, Kak?” sapa Mirza yang terlihat sedang terburu-buru.
“Hemm… kamu mau kemana, Za?”
“Aku ada urusan penting. Ya sudah, aku pergi dulu, Kak!” pamit Mirza kemudian.
Setelah kepergian Mirza, Kavi masuk dan segera menemui Ayahnya. Meskipun tubuhnya lelah, apalagi dengan kejadian yang tidak pernah ia sangka sebelumnya, namun secepatnya ia harus menyelesaikan masalah ini.
“Baru pulang kamu, Kav?” tanya Lidia yang baru saja keluar kamar untuk mengambil minum.
__ADS_1
“Iya, Ma. Apa Ayah ada?”
“Ada. Sejak tadi masih di ruang kerjanya. Memangnya ada apa?” tanya Lidia penasaran.
“Maaf, Ma. Kavi ingin bertemu dengan Ayah dulu. Nanti Kavi akan menceritakan pada Mama.” jawab Kavi dan bergegas masuk ke ruang kerja Ayahnya.
**
Mirza saat ini sudah sampai di sebuah rumah kosong dimana ia menyekap Deo selama beberapa hari. Setelah Deo berhasil diamankan oleh orang suruhan Samuel saat itu, Mirza sengaja menyekap Deo di sebuah rumah kosong selama beberapa hari sebelum pria itu menanti ajalnya.
Tak lama setelah Mirza datang, Samuel juga ikut menyusul. Dia ingin menyaksikan sendiri dengan mata kepalanya kalau Mirza berhasil menghabisi mantan sahabatnya. setelah yakin, barulah ia memberikan tugas selanjutnya pada Mirza.
“Kamu mau tunggu di sini atau ikut masuk?” tanya Mirza pada Samuel.
“Tentu saja aku ingin menyaksikan jiwa psikopat kamu saat menghabisi Deo.” Jawab Samuel dengan menyeringai.
.
.
.
*TBC
Happy Reading!!
__ADS_1