Perseteruan 2 Calon Pewaris

Perseteruan 2 Calon Pewaris
66. Angkat Kaki


__ADS_3

Saat ini Kavi fokus dengan keselamatan Karin. walau kepentingan perusahaan juga tidak bisa diabaikan begitu saja. namun, mengenai hubungannya dengan Karin, Kavi menunda dulu untu memberitahukan pada Mirza. Bukan apa-apa, dia tidak ingin terjadi hal yang tidak-tidak setelah Mirza mengetahui semuanya. Terlebih masalah keluarga Karin belum clear.


Setelah dari apartemen yang ditempati Karin, Kavi pun segera kembali ke kantor. mulai saat ini juga ia harus waspada. Karena orang-orang yang mengincar Karin sudah mengenali wajahnya, atau bahkan sudah mendapatkan identitasnya.


Sesampainya di kantor, Kavi langsung masuk ke ruangannya. Hari ini ia cukup disibukkan dengan pekerjaan kantor yang begitu padat. beruntungnya tadi pagi-pagi sekali ia dan Ayahnya sudah lebih dulu mencari dan menangani masalah Karin. meskipun masih belum jelas titik terang yang ditemukan oleh Sean.


Sementara itu hari ini juga Mirza sibuk di kantor cabang. Apalagi hari ini adalah pertama kalinya ia memimpin meeting penting yang sebelumnya dijadwalkan dipimpin langsung oleh Sean. Karena ada suatu hal yang Mirza sendiri tidak tahu, akhirnya dirinya lah yang menggantikan sang Ayahh. Namun di luar dugaan. Meeting itu berakhir cukup kisruh. Pasalnya terjadi perbedaan pendapat dari beberapa anggota meeting, dan Mirza sama sekali tidak bisa mengambil keputusan yang tepat. Justru ia dinilai beberapa peserta meeting lainnya, kalau keputusan Mirza terkesan berat sebelah dan dianggap tidak adil. Akhirnya Mirza terpaksa menutup meeting itu dengan situasi yang masih memanas.


Padahal pengalaman Mirza di dunia bisnis sudah cukup mumpuni. Terlebih ia juga pernah memiliki bisnis sendiri hasil jerih payahnya bersama Deo. Ditambah lagi, dulu dia sudah ikut berkecimpung di perusahaan pusat membantu kakaknya. Tapi kenapa hari ini Mirza sama sekali tidak menunjukkan kompetensinya dalam memimpin meeting. Ada apa dengannya.


Mirza saat ini sedang berada di ruangannya. Ia meneliti ulang hasil meeting beberapa waktu yang lalu. Ia memijit keningnya yang berdenyut. Mirza tidak menyangka kalau hari ini adalah hari buruknya. Niat hati ingin menarik simpati para petinggi dan karyawan perusahaan, justru berakhir seperti ini.


Cklek


Pintu ruangan Mirza tiba-tiba terbuka tanpa diketuk terlebih dulu. Siapa lagi kalau bukan Sean. Mirza juga ikut terkesiap saat melihat kemunculan Ayahnya yang mendadak. Bahkan raut wajahnya tampak menyeramkan, seperti ingin menelan orang hidup-hidup.


“Yah,-“


“Apa yang kamu lakukan, Za? Kenapa meetingnya berakhir kisruh seperti ini?” sahut Sean dengan cepat dan menyalahkan Mirza.

__ADS_1


“Maaf, Yah,-“


“Kesalahan yang kamu lakukan ini tidak cukup hanya dengan permintaan maaf, Za! Bukankah kamu sudah cukup berpengalaman dengan hal seperti ini? kenapa justru kamu membuatnya runyam? Kamu ini selalu tidak bisa berpikir jernih seperti Kakak kamu sebelum memutuskan sesuatu.”


Lagi-lagi Sean memotong ucapan Mirza. Pria paruh baya itu jelas marah bercampur kesal setelah mendapat informasi langsung dari Eva tentang meeting beberapa waktu yang lalu. Sedangkan Mirza yang sejak tadi diam menunduk takut melihat amarah Ayahnya, kini ia menatap ayahnya dengan tajam setelah dirinya dibandingkan dengan sang Kakak.


“Cukup, Yah! Iya, memang aku bodooh dan tidak becus menangani perusahaan. Masih lebih pandai dan berpengalaman Kak Kavi. Anak kebanggaan Ayah yang tidak pernah melakukan kesalahan di mata Ayah. Sudah cukup selama ini Ayah terus membandingkan Aku dengan Kak Kavi. Mulai hari ini juga Aku akan angkat kaki dari perusahaan sekarang juga. Biar anak kesayangan Ayah yang mengurus semuanya.” Ucap Mirza penuh amarah.


Sean terkejut mendengar makian dari anak bungsunya. Bagaimana bisa Mirza berpikiran seperti itu. dia tidak pilih kasih kepada semua anaknya. Sean mengatakan semua itu agar Mirza bisa memperbaiki kesalahannya dengan melihat kakaknya.


“Mau kemana kamu, Za?” cegah Sean dengan nada suara melemah.


“Bukankah sudah aku katakan, Yah? Silakan Ayah memanggil anak kesayangan Ayah untuk menyelesaikan ini kekacauan ini.” jawab Mirza dengan tatapan penuh kebencian pada Ayahnya. Setelah itu ia segera keluar dari ruangannya dengan menutup pintu cukup keras.


Sean tidak bisa begini terus. Ia harus secepatnya menangani masalah perusahaan dulu yang memang lebih penting. Setelah itu meluruskan kesalah pahaman antara dirinya dan Mirza.


Malam hari Sean baru pulang dari kantor cabang. Beruntungnya semua kekacauan itu sudah berakhir. Walaupun harus membuatnya lembur.


“Kenapa baru pulang? aku sejak tadi menghubungimu tapi ponsel kamu tidak aktif.” Ucap Lidia menyambut kedatangan suaminya.

__ADS_1


“Aku sangat lelah. Bisakah kamu membuatkan aku kopi dulu?” pinta Sean sebelum nanti ia menceritakan masalahnya dengan Mirza.


Lidia hanya mengangguk. Setelah itu menuju dapur membuatkan kopi untuk suaminya. Lidia juga melihat raut wajah kelelahan suaminya. namun tidak hanya itu saja. menurut Lidia, Sean seperti sedang mempunyai masalah berat.


“Minumlah!” Lidia menyodorkan kopi buatannya pada Sean.


Saat ini mereka berdua sedang di ruang tengah. Rumah juga sedang sepi. Kavi sedang berada di apartemen Karin, sedangkan Mirza entah pergi kemana, karena tidak bilang apapau pada Mamanya.


“Apa Mirza sudah pulang?” tanya Sean setelah meneguk kopinya.


“Belum. Bukankah dia bersama kamu? Harusnya kalian juga ulang bersama.” Jawab Lidia dengan perasaan cemas.


“Mirza marah denganku, dan memutuskan untuk keluar dari perusahaan.” Jawab Sean dengan wajah frustasi.


.


.


.

__ADS_1


*TBC


Happy Reading!!


__ADS_2