Perseteruan 2 Calon Pewaris

Perseteruan 2 Calon Pewaris
47. Lebih Baik


__ADS_3

Keesokan paginya Karin terjaga lebih dulu. Perempuan itu keluar kamar setelah mencuci mukanya. Keadaannya sudah lebih baik dari kemarin.


Karin sangat terkejut saat melihat Kavi tidur di sofa dengan posisi yang jauh dari kata nyaman. Apalagi kaki Kavi yang menggantung pada sofa.


“Kak, bangun!” Karin membangunkan Kavi dengan pelan sambil menepuk pipinya pelan.


Kavi merasa tubuhnya sakit-sakit dengan pelan ia bergerak dan membuka matanya. ternyata ada Karin yang sudah berdiri di sampingnya.


“Kenapa Kakak nggak tidur di kamar sebelah saja?” tanya Karin.


“Semalam aku ketiduran setelah mengecek beberapa email masuk.” Jawab Kavi berbohong. Karena ia tidak tega meninggalkan Karin meskipun masih berada di dalam unit apartemen.


“Aku masak buat Kak Kavi dulu. Kakak bisa siap-siap untuk ke kantor.” ucap Karin dan berlalu menuju dapur.


Kavi melihat keadaan Karin sepertinya sudah membaik. Dia pun lega. Kemudian ia segera masuk ke kamar mandi untuk bersiap ke kantor. kebetulan nanti jam sembilan dia ada meeting.


Usai mandi, Kavi langsung menghampiri Karin yang baru saja menyelesaikan masaknya. Dia tersenyum pagi-pagin sudah diberikan suguhan yang menyenangkan. Kavi membayangkan sudah hidup berumah tangga dengan Karin dan perempuan itu selalu menyiapkan sarapan untuknya sebelum pergi ke kantor.


“Bagaimana keadaan kamu pagi ini, Rin?” tanya Kavi setelah duduk di kursi ruang makan.


“Aku sudah lebih baik, Kak. Terima kasih dan minta maaf selama ini aku tidak pernah bercerita masalah ini pada Kakak.” Ujar Karin merasa bersalah.


“Sudah, jangan dibahas lagi. mulai sekarang kamu tidak usah bekerja di restaurant itu lagi. dan sementara ini kamu tidak aku bolehin bekerja. Nanti aku akan mencarikan pekerjaan untuk kamu.”


“Tapi, Kak!-“


“Menurutlah, Karin! dan ini buat kamu. Kamu bisa memakainya untuk beli apa saja yang kamu butuhkan.” Sahut Kavi dengan memberikan sebuah kartu pada Karin.

__ADS_1


Karin hendak menolaknya pun lagi-lagi Kavi tidak menerima penolakan itu. akhirnya dia pasrah. setelah itu Karin menyiapkan makanan untuk Kavi.


“Sebenarnya semalam aku ingin mengajak kamu makan malam di rumah. berhubung ada kejadian tidak menyenangkan itu, akhirnya batal.” Ucap Kavi.


“Apa? Kak Kavi mengajakku makan malam di rumah? lalu bagaimana dengan Om Sean dan Tante Lidia kalau tahu aku,-“


“Ayah dan Mama sudah tahu. Maaf, aku tidak menceritakan pada kamu. Semalam memang aku ingin memberikan surprise. Dan Mama sudah aku beritahu tentang kejadian yang menimpa kamu.” Sahut Kavi dengan cepat.


Karin benar-benar terkejut mendengarnya. Dan mendengar cerita Kavi baru saja seperti ada rasa lega dalam diri Karin tentang hubungannya dengan Kavi yang diterima oleh Sean dan Lidia.


“Maaf, Kak. Pasti Tante Lidia sudah menunggu.” Ucapnya dengan sedih.


“Nggak apa-apa. Justru semalam Mama dan Ayah ingin ke sini tapi aku larang, karena kamu butuh waktu untuk istirahat.” Jawab Kavi menenangkan Karin.


Karin mengangguk paham. Setelah itu mereka berdua menikmati sarapan pagi yang cukup romantis itu. Kavi juga tak henti-hentinya menatap Karin dengan binar bahagia.


Usai menyelesaikan makannya, Kavi berpamitan pada Karin untuk pergi ke kantor. Kavi juga berjanji akan pulang secepatnya dan datang ke sini lagi.


“Tapi aku sangat khawatir dengan keadaan kamu. Kamu janji ya jangan keluar dari apartemen dulu? Kalau ada apa-apa hubungi aku secepatnya.”


Karin hanya mengangguk. Setelah itu mengantar Kavi keluar dna tak lupa pria itu meninggalkan kecupan singkat di kening Karin seperti biasanya.


“Hati-hati, Kak!” ucap Karin.


Cup


Tiba-tiba saja Kavi mengecup singkat bibir Karin. sontak saja perempuan itu dibuat terkejut dan melongo sampai beberapa detik. Sedangkan Kavi yang merasa tak berdosa pun hanya tersenyum menatap wajah kekasihnya yang terlihat shock.

__ADS_1


“Apa mau lagi?” bisik Kavi tepat di telinga Karin.


“Ish, apaan sih Kak? Sudah sana cepat pergi! Nanti terlambat, Kakak dipecat loh.” Seloroh Karin tak masuk akal.


“Hei, aku bosnya. Mana ada aku memecat diriku sendiri.” Ujar Kavi dengan menepuk dadanya sendiri.


“Ya sudah sana, cepat pergi!” Karin mendorong tubuh Kavi.


***


Beberapa hari setelah kejadian yang menimpa Karin, sampai saat ini Karin masih belum diperbolehkan Kavi untuk bekerja. Padahal Karin sangat bosan dengan diam terus di apartemen. Ingin keluar mencari pekerjaan pun dia tidak berani melanggar aturan Kavi. Jika terjadi hal buruk lagi, tentunya akan merepotkan Kavi.


Hari ini Kavi pulang kantor lebih awal. Dia langsung menuju apartemen Karin karena akan menjemput kekasihnya itu untuk diajak makan malam bersama kedua orang tuanya.


“Sudah siap?” tanya Kavi pada Karin yang baru saja keluar dari kamar dengan penampilan yang sangat simple dan sopan. Namun tetap saja aura kecantikannya tidak hilang.


“Sudah, Kak.” Jawab Karin dengan gugup.


Kegugupannya itu karena akan bertemu dengan kedua orang tua Kavi. Meskipun Karin sudah mengenal Sean dan Lidia sejak lama, namun sekarang situasinya berbeda. Ada rasa minder sekaligus takut dalam dirinya. Dia takut dinilai orang buruk. Tidak dapat adiknya, justru mendapatkan kakaknya.


“Sudah jangan berlikir yang macam-macam!” ucap Kavi seolah mengerti yang sedang ada dalam benak Karin.


.


.


.

__ADS_1


*TBC


Happy Reading!!


__ADS_2