Perseteruan 2 Calon Pewaris

Perseteruan 2 Calon Pewaris
15. Dua Jagoan


__ADS_3

Karin hanya tersenyum kaku menanggapai ucapan Mirza. Dia juga sangat terkejut saat kekasihnya itu dengan gamblang mengatakan rencana pertunangannya di depan kedua orang tua Mirza.


Begitu juga dengan Kavi. Dia tidak menyangka kalau adiknya sudah serius dengan Karin. namun Kavi segera menepis pikiran buruk dalam hatinya. Lagi pula apa salahnya jika Mirza segera meresmikan hubungan itu. mereka berdua juga sudah lama menjalin asmara.


Berbeda dengan Lidia. Entah kenapa mendengar Mirza ingin mengabulkan keinginannya, ia justru berharap yang bicara seperti itu adalah Kavi. Mengingat usia Kavi lebih tua daripada Mirza. Dan harusnya Kavi dulu yang menikah, bukan Mirza.


“Apa kamu yakin, Za?” tanya Sean yang sejak tadi memilih diam.


“Tentu saja, Yah. Kenapa aku nggak yakin? Bukannya niat baik itu harus disegerakan. Lagipula Ayah dan Mama sendiri tahu kalau aku dan Karin sudah lama saling mengenal. aku cinta pertama Karin, Karin juga cinta pertamaku.” Jawab Mirza dengan percaya diri.


Mungkin bagi Mirza perkara menikah itu sangat mudah. Jika keduanya sudah saling mencintai, dan secara materi, Mirza sudah mampu. Lalu apa lagi yang menjadi pertimbangan jika tidak harus disegerakan.


“Terserah kamu saja. yang penting anak-anak Mama semua bahagia dengan pasangan masing-masing. Dan buat Kavi dan Anna, Mama juga berharap segera mendengar kabar baik.” Ucap Lidia melirik Kavi dan Anna bergantian.


Uhuuk..


Anna langsung tersedak. Sejak awal dia sudah merasa tidak nyaman dengan undangan makan malam dari kedua orang tua Kavi. Dan saat mendengar pembicaraan di meja makan, Anna semakin tidak tertarik untuk mendengarnya. Dia pun tadi sempat melirik Kavi yang sepertinya malas dengan pembicaraan kedua orang tuanya. Lalu kenapa sekarang dirinya diikut campurkan dalam pembahasan ini. hubungannya dengan Kavi hanya teman, walau ia akui kalau Kavi adalah tipe orang yang asyik untuk diajak bicara.


“Pelan-pelan, An! Maaf!” Ucap Kavi dengan menyodorkan segelas air putih pada Anna.


Melihat interaksi Kavi dan Anna, membuat Lidia tersenyum penuh arti.


“Ya sudah, lebih baik kita lanjut makannya. Nanti keburu dingin karena sejak tadi terlalu banyak obrolan.” Ucap Sean.

__ADS_1


Usai makan malam, Anna meminta Kavi untuk segera diantar pulang. mungkin perempuan itu merasa tidak nyaman berada di tengah-tengah keluarganya. Akhirnya Kavi pamit keluar rumah lebih dulu untuk mengantar Anna.


Sedangkan Karin sejak tadi terus memperhatikan Kavi dan Anna, sepertinya memang kedua orang itu memiliki hubungan special. Karena terlihat dari perhatian yang ditunjukkan Kavi pada Anna tadi. Karin merutuki dirinya sendiri karena sempat dibuat baper oleh kakak kekasihnya itu. dia pun segera menyadarkan dirinya sendiri agar tidak terlalu berpikiran yang macam-macam.


***


“An, sorry sudah membuat kamu merasa tidak nyaman di acara makan malam tadi.” ucap Kavi saat sedang dalam perjalanan mengantar Anna pulang.


“Nggak apa-apa. Anggap saja aku tadi membantu kamu. Ya, aku akui sih kalau tadi sempat terkejut saja dengar omongan Mama kamu.”


“Ya, Mama memang seperti itu orangnya. Sejak dulu selalu memintaku untuk membawa perempuan ke rumah untuk dikenalkan.”


“Ya, aku paham kok. Oh iya, tunggu dulu deh, maaf nih ya Kav! Tadi aku sempat melihat cewek yang duduk di sebelah adik kamu tuh,-“


“Iya. tapi dia sejak tadi perhatiin kamu terus loh. Jangan-jangan…”


“Lebih baik kamu turun deh, An! Tuh sudah sampai.” Usir Kavi.


Anna hanya mencebik kesal. Meskipun memang benar kalau mobil Kavi sudah berhenti di depan apartemennya, tapi dia sebenarnya masih penasaran dengan perempuan yang bernama Karin tadi. sedangkan Kavi yang tidak ingin membahas Karin, merasa beruntung saat mobilnya sudah berhenti di depan apartemen Anna.


“Thanks ya, An atas bantuannya!” ucap Kavi tanpa turun dari mobil.


“Ok. Sama-sama. Thanks juga buat undangan makan malamnya.” Jawab Anna dan segera masuk meninggalkan Kavi.

__ADS_1


***


Hari pun berganti dengan cepat. Seperti biasa rutinitas Kavi selalu disibukkan dnegan pekerjaan kantor. begitu juga dengan Mirza. Semenjak kepulangan Ayahnya dari luar negeri, dia setiap hari datang ke kantor. bahkan Mirza rela meninggalkan bisnisnya sementara agar tak membuat Ayahnya marah.


Siang ini Kavi dan Mirza diminta Ayahnya untuk ikut hadir meeting di perusahaan. Kedua kakak beradik itu tidak tahu menahu apa alasan Ayahnya meminta untuk ikut meeting. Karena memang setiap meeting mereka berdua tidak selalu harus hadir. Apalagi Sean sudah pulang dari luar negeri.


Kavi masuk lebih dulu ke ruang meeting. Di sana sudah ada beberapa petinggi perusahaan dan staff penting. Tak berselang lama, Mirza pun menyusul masuk ke ruangan itu.


Kavi dan Mirza duduk di samping kanan dan kiri Sean. Mereka saat ini berada di posisi terdepan. Tak lama kemudian Sean membuka meeting itu dengan menyapa beberapa petinggi perusahaan dan karyawan lainnya. Setelah itu Sean menyampaikan maksudnya mengadakan meeting siang hari ini.


“Di sini saya ingin menyampaikan hal penting pada kalian semua. Saya sudah memutuskan untuk bekerja di balik layar saja. tentunya jabatan saya akan digantikan oleh dua anak saya yang sangat tampan ini.” ucap Sean dengan diiringi gurauan.


“Mereka berdua ini, dua jagoan saya. Kavi dan Mirza, yang nantinya akan menjadi pewaris semua kerjaan bisnis saya. untuk itu, saya akan menyerahkan perusahaan pusat dipimpin oleh Kavi. Dan perusahaan cabang dipimpin oleh Mirza.” Ucap Sean cukup membuat Kavi dan Mirza terkejut.


.


.


.


*TBC


Happy Reading!!

__ADS_1


 


__ADS_2