Perseteruan 2 Calon Pewaris

Perseteruan 2 Calon Pewaris
Extra Part 3 (Last)


__ADS_3

Bukannya mendorong kepala suaminya, Karin justru semakin menekannya agar Kavi melakukannya lebih dalam lagi. rasanya perempuan itu sudah kehilangan urat malunya karena berhasil dibuat tak berdaya oleh suaminya sendiri. Kavi pun tersenyum dalam hati saat melihat reaksi istrinya yang sangat menikmati tiap sentuhan yang ia berikan.


Karin merasakan ada sesuatu yang bergejolak dalam dirinya dan ingin segera dilepaskan. Namun sayangnya Kavi tiba-tiba menghentikan kegiatannya itu. Karin sedikit kecewa tapi tidak berani protes. Apalagi dia sangat malu saat melihat Kavi mengelap bibirnya yang basah setelah bermain-main pada intinya beberapa detik yang lalu.


Kavi melepaskan celananya hingga menampakkan benda kokoh besar dan berurat. Karin yang baru melihatnya dibuat shock. Ternyata sebesar itu milik suaminya. rasa nikmat yang sejak tadi ia rasakan kini berubah sedikit takut saat membayangkan jika senjata milik suaminya itu memasuki intinya.


“Sayang kenapa, hem?” bisik Kavi dengan memberikan kecupan basah pada telinga istrinya.


“Kak, apakah itu bisa masuk?” tanya Karin ragu.


“Tentu saja. aku akan melakukannya dengan pelan. Nanti kamu tahan sebentar ya? Karena untuk pertama kalinya memang sedikit sakit.” Jawab Kavi berusaha membuat tenang istrinya. Karena ini juga pertama kali bagi dirinya dan juga Karin. walau secara teori Kavi mungkin sudah lulus. Tapi sama sekali belum pernah praktik secara langsung.


Karin mengangguk samar. Tiba-tiba saja tangannya menyentuh senjata milik suaminya itu. pikir Karin, dia akan merematnya pelan agar ukurannya bisa sedikit berkurang, jadi masuknya tidak sulit dan juga tidak sakit.


Sshhhh….


Kavi justru mengerang tertahan saat jari jemari istrinya nenyentuh senjatanya. Dia juga tidak menyangka kalau Karin akan berani menyentuhnya. Tapi bukannya ukurannya berubah, justru semakin keras, membesar dan ingin segera masuk ke dalam sangkarnya.


“Sayang, ini nikmat sekali!” gumam Kavi saat Karin semakin menaik turunkan genggamannya. Karena wanita itu masih berpikir keras kenapa belum berkurang. Justru kepalan tangannya semakin tidak muat saat memegang senjata pamungkas suaminya itu.


Kavi yang sudah tidak tahan lagi, ia menghentikan kegiatan istrinya. Setelah itu mencium bibir Karin dengan lembut dan kembali menjilai putt_ingnya sekilas.


Kavi membuka paha istrinya. Dia mengusap ujung kepala senjatanya sebentar sebelum mengantarnya ke lembah nirwana.


“Kak!!” pekik Karin tertahan saat merasakan perih di bagian intinya.


Kavi berusaha tidak peduli. Ia harus segera menyelesaikan misinya. Lagi pula rasa sakit itu hanya sebentar dan akan berganti dengan rasa nikmat.

__ADS_1


Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya dengan sekali hentakan senjata Kavi berhasil melesak penuh ke inti istrinya. Dan hal itu dibarengi dengan pecahnya selaput dara Karin hingga mengeluarkan darah keperawanannya.


Kavi mengecupi bibir istrinya sambil mengusap air matanya sebelum mulai memaju mundurkan senjatanya.


Akhirnya pagi itu adalah pagi yang penuh dengan perjuangan dan kenikmatan pada pasangan pengantin baru yang sedang dimasuk asmara. Kavi melakukannya hanya dua kali saja, karena ini masih pertama buat istrinya. Kalau sudah terbiasa, mungkin lebih dari dua kali pelepasan akan mereka lakukan tiap kali bertempur.


***


Satu tahun kemudian.


Di sebuah ballroom hotel saat ini tengah dilangsungkan pernikahan megah dari pasangan Mirza dan Devina. Akhirnya mantan sahabat itu berakhir bahagia di pelaminan menjadi pasangan suami istri.


Beberapa waktu yang lalu tepatnya saat Mirza mengungkapkan perasannya pada Devina, perempuan itu tidak langsung menjawabnya. Meskipun dari awal Devina yang lebih dulu jatuh cinta pada Mirza, dia masih takut kalau akan dijadikan Mirza sebagai pelariannya saja. mengingat rasa cinta Mirza terhadap kakak iparnya yang begitu besar.


Dan ternyata istilah “Usaha tidak akan menghianati hasil” itu benar adanya. Semenjak saat itu Mirza selalu berusaha meyakinkan Devina tentang perasaannya yang sesungguhnya, dan bukan hanya pelarian semata. Mirza membuktikan kesungguhannya terhadap Devina, hingga pada akhirnya perempuan yang bergelar dokter spesialis kandungan itu menerima pinangan Mirza.


“Akhirnya malam-malamku tidak sendiri lagi dan tidak ditemani oleh gambar wanita cantik saja, melainkan realnya.” Ucap Mirza pada Devina di mana saat ini keduanya sudah duduk di pelaminan.


“Gambar wanita cantik siapa maksud kamu?” tanya Devina dengan sinis.


“Tentu saja kamu dong, Sayang. Kamu tahu sendiri kan selama ini aku tidak bisa tidur sebelum melihat foto kamu yang cantik.” Jawab Mirza.


“Ternyata kamu pandai sekali nge’gombal ya Za!” ujar Devina sambil menghadiahi cubitan di perut suaminya.


“Kalian ini kenapa heboh sendiri di sini?” seru seseorang yang baru saja datang.


Mirza dan Devina langsung menoleh ke arah seseorang yang baru saja menaiki pelaminan. Bukan seseorang sih sebenarnya. melainkan dua orang. Yaitu Kavi dan Karin yang baru saja datang. sebelumnya Kavi juga sudah mengatakan kalau ia akan datang terlambat karena akhir-akhir ini kandungan istrinya yang sudah menginjak usia sembilan bulan sering rewel. Padahal di awal kehamilannya sampai trimester kedua baik-baik saja. jadi, Kavi merelakan waktunya untuk datang paling akhir di hari bahagia adiknya demi istrinya.

__ADS_1


“Kak Kavi! Apa Karin sudah baik-baik saja?” tanya Mirza yang ikut khawatir pada kakak iparnya.


“Ehm!!”


Mirza langsung merangkul pinggang istrinya. Sepertinya Devina cemburu saat ia perhatian dengan kakak iparnya. Padahal tidak ada maksud apapun. Sedangkan Kavi sendiri bisa maklum. Dia sangat percaya pada adiknya.


“Apa kamu mau aku mencium bibirmu dan meluumatnya di sini sekarang juga agar kamu yakin kalau aku sudah tidak lagi menyimpan rasa pada Karin, hem?” bisik Mirza tepat di telinga Devina.


Devina menjawab dnegan gelengan kepala. Dia percaya dengan ucapan suaminya.


Setelah itu Kavi dan Karin memberikan selamat pada Mirza dan Devina secara bergantian. Doa baik dan tulus tercurahkan untuk sepsanga pengantin baru itu. bahkan Kavi dan Mirza berpelukan cukup lama. Keduanya seolah sama-sama menyadari atas kesalahan yang telah dilakukan selama ini.


Tak jauh dari pelaminan, Sean dan Lidia yang sedang duduk berdua kini sedang melihat anak-anaknya. mereka sangat bahagia akhirnya anak-anaknya sudah hidup bahagia dengan pasangan masing-masing. Doa baik selalu diberikan untuk perjalanan rumah tangga anak-anaknya.


“Sekarang anak-anak kita sudah bahagia dengan pasangannya masing-masing. Tugas kita sebagai orang tua sudah selesai, kecuali hanya bisa mendoakan. Marilah kita jalani masa tua kita yang penuh makna, Sayang!” ujar Sean sambil menoleh ke arah Lidia dan menggenggam lembut tangan wanita itu yang sudah mulai keriput. Lidia pun menjawabnya dengan senyuman. Senyuman bahagia dan penuh rasa syukur karena selama ini telah diberi Tuhan sosok suami seperti Sean.


.


.


.


*THE END


Happy Reading!!


Lanjut ke novel author yang masih On Going dong guys!! Ceritanya juga tak kalah seru dan juga penuh keringat 😂😂✌

__ADS_1


 


__ADS_2