
Ini adalah hari kedua Kavi berada di luar kota. Tepatnya di kota yang sama dimana Karin tinggal. Selama bekerja dan mengadakan meeting beberapa kali, Kavi merasa bersemangat. Tentu saja hal itu ada penyebabnya. Orion, asistennya saja juga merasa aneh melihat sikap atasannya yang berbeda dari sebelumnya. Meskipun memang pembawaan Kavi yang humble, tetap saja Orion bisa melihat perbedaaan itu.
“Apa sudah tidak ada lagi dokumen yang aku periksa?” tanya Kavi pada Orion.
“Tidak ada, Tuan. Sepertinya hari ini jadwalnya tidak terlalu padat seperti kemarin.” Jawab Orion.
“Ya sudah kalau begitu aku keluar dulu. Kalau ada apa-apa kamu bisa menghubungiku.” Ucap Kavi segera keluar dari ruangannya tanpa menunggu tanggapan Orion.
Kavi keluar dari kantor dan kembali ke hotel. Lebih tepatnya dia ingin datang ke restaurant dimana Karin bekerja.
Suasana restaurant setelah makan siang tidak begitu ramai. Pandangan Kavi menelisik mencari sosok yang ingin ia temui. Sayangnya dia tidak menemukan keberadaan Karin.
Tak lama kemudian datang seorang pelayan menawarkan sesuatu yang ingin dipesan oleh Kavi. Kavi hanya memesan makanan ringan saja dan minuman dingin.
“Ehm, Mbak kalau bisa nanti minta tolong yang mengantar pesanan saya karyawan yang bernama Karin saja ya?” ucap Kavi.
“Karina maksud, Tuan?” tanya pelayang itu dan diangguki oleh Kavi.
“O maaf, Tuan. Kebetulan hari ini dan besok Karina jadwalnya libur.” Jawab pelayan itu.
Kavi hanya mengangguk saja dan membiarkan pelayan itu pergi membuatkan pesanannya. Pantas saja sejak tadi tidak melihat keberadaan Karin. ternyata dia sedang libur.
Sebuah senyuman kecil terbit dari bibir Kavi. Ia kemudian beranjak dari duduknya menuju kasir. Kavi membatalkan pesannya tadi tapi tetap membayarnya. Karena setelah ini ia akan datang ke rumah Karin.
Kavi hanya berjalan kaki menuju rumah Karin yang jaraknya dengan hotel tidak terlalu jauh. Dengan masih mengenakan setelan kerjanya, Kavi datang menemui Karin.
Kavi kini sudah tiba di depan rumah Karin. dengan mengetuk pintu sekali saja pintu itu sudah terbuka. Dan menampakkan seorang perempuan cantik yang sepertinya sangat terkejut.
“Kak Kavi? Kenapa Kak Kavi ke sini?” tanya Karin terbata.
“Apa kalau ada tamu kamu tidak mempersilakan masuk?” tanya Kavi mengabaikan pertanyaan Karin.
__ADS_1
“Oh, maaf. Silakan masuk, Kak!” ujar Karin mempersilakan.
Kavi sudah duduk di ruang tamu rumah Karin. rumah dnegan ukuran yang tidak terlalu besar itu terlihat sangat bersih dan juga nyaman. Karin datang dari dapur dengan membawakan minuman untuk Kavi.
Lagi-lagi Karin speechless jika berhadapan dengan Kavi seperti ini. lagian untuk apa juga pria itu datang menemuinya.
“Kalu libur kerja kamu di rumah saja seperti ini, Rin?” tanya Kavi membuka obrolan.
“Iya, Kak.” Jawab Karin dengan singkat.
“Ya sudah buruan gih kamu ganti baju, ayo ikut aku jalan!”
“Hah? Jalan? Kemana, Kak?” tanya Karin bingung.
“Sudah ganti saja, aku tunggu lima menit dari sekarang.”
Entah kenapa Karin menurut begitu saja dengan ucapan Kavi. Bahkan terlihat Karin seperti buru-buru mengganti pakaiannya agar tidak melebihi batas waktu yang diberikan oleh Kavi.
Tepat lima menit Karin sudah selesai berganti baju. Sedangkan Kavi hanya melepas jasnya dan menggulung kemeja lengan panjangnya yang berwarna navy itu sebatas lengan. Penampilan Kavi seperti itu tanpa sadar membuat Karin terpesona.
Karin tergagap dan salah tingkah saat tangannya digandeng oleh Kavi. Sesampainya di luar rumah, ternyata sudah ada sebuah mobil yang berhenti di sana. Ternyata Kavi menyewa mobil dari hotel untuk jalan-jalan.
Kini Karin dan Kavi sudah berada di dalam mobil. Kavi mulai melajukan mobilnya meskipun dia tidak tahu kemana akan mengajak Karin jalan.
“Kamu tahu tempat yang asyik untuk jalan-jalan nggak, Rin? Siapa tahu saja kamu sering ke sana.” Tanya Kavi masih fokus dengan kemudinya.
“Ehm, aku tidak pernah pergi kemana-mana Kak.” Jawab Karin benar adanya.
Kavi mengangguk saja. sebenarnya dia ikut merasa sedih dengan kehidupan Karin selama ini. tidak memiliki teman dekat, dan jauh pula dari keluarganya. Bolehkan Kavi egois. Dia ingin membuat perempuan di sebelahnya itu bahagia.
Akhirnya Kavi membawa Karin pergi ke sebuah pantai. Memang hanya itu tempat yang menurut Kavi paling nyaman. Karin dulu juga sangat menyukainya.
__ADS_1
Benar saja. Karin yang memang selama tinggal di kota ini tidak pernah sekalipun pergi ke pantai, terlihat sangat senang. Kesehariannya hanya diisi dengan kerja dan kerja.
“Apa kamu menyukai tempat ini?” tanya Kavi.
“Sangat suka, Kak.” Jawab Karin dengan anggukan antusias.
Kini mereka berdua duduk di sebuah gubug kecil tepi pantai. Terpaan angin semilir membuat rambut Karin sedikit berantakan. Kavi yang melihatnya berusaha untuk merapikan namun dengan cepat dicegah oleh Karin.
“Bolehkah aku tanya sesuatu tentang diri kamu, Rin? Maksudku tentang keluarga kamu?” tanya Kavi.
“Boleh, Kak.”
“Orang tua kamu masih ada?” tanyanya dujawab dengan anggukan oleh Karin.
“Kenapa kamu memilih tinggal di kota ini? tidak pulang saja ke rumah orang tua kamu?”
“Entahlah, Kak. Sejak aku baru lulus SMP dulu, kedua orang tuaku mengirimku sekolah yang ada asramanya. Ayah dan Ibu juga melarangku pulang, sampai saat ini. mungkin hanya setahun sekali aku bertemu dengan kedua orang tuaku. Itu pun kalau aku tidak memaksanya.” Jawab Karin dengan mata berkaca-kaca.
“Kata orang kedua orang tuaku adalah orang yang sangat baik. Tapi entah kenapa mereka seperti tidak mengharapkan kehadiranku.” Lanjutnya dengan air mata yang sudah tidak bisa dibendung lagi.
Kavi ikut merasakan kesedihan Karin. jadi selama ini memang hidup Karin sangat hampa. Tak ada satupun orang yang menyayanginya. dia ingat jelas kalau Mirza sejak dulu sangat mencintai dan menyayangi Karin. dan setelah hubungan mereka kandas, tentu saja hidup Karin tidak baik-baik saja.
“Kamu yang sabar, Rin! Mungkin ada alasan yang tidak kamu ketahui kenapa orang tua kamu bersikap seperti itu.” Kavi mencoba menenangkan Karin dengan memberikan bahunya untuk Karin bersandar.
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Happy Reading!!