
Mirza langsung menolak panggilan itu karena tidak ingin membuat ayahnya marah. Apalagi di hari pertamanya di kantor cabang.
“Iya, Yah. Ayah tenang saja.” jawab Mirza.
Sean diam saja, setelah itu langsung keluar dari ruang kerja Mirza. Entahlah, pria paruh baya itu sedikit merasa ada yang aneh dengan Mirza. Dia juga tidak ingin ikut campur urusan anaknya di luar kepentingan perusahaan. Namun saat melihat gelagat aneh Mirza menolak panggilan yang entah itu dari siapa, Sean merasa curiga.
Usai Ayahnya keluar, Mirza segera menghubungi Samuel. Perasaannya mendadak cemas saat mengingat ia menolak panggilan temannya tadi. bukan apa-apa. Mirza ingat dengan ucapan Joshua tempo hari yang mengatakan kalau harus siap kapan saja saat ada panggilaan pekrjaan mendadak dari pria itu.
Dua kali panggilan tak kunjung diangkat oleh Samuel. Mirza tidak putus asa. Ia kembali menghubungi temannya itu, hingga akhirnya di panggilaan keempat barulah Samuel menerimanya.
“Sorry, Sam! Aku tadi sedang di kantor.” ucap Mirza.
“…..”
“Terima kasih sebelumnya. Ada apa kamu menghubungiku? Apa ada hal penting?”
“…..”
“Baiklah. Nanti malam kita bertemu.” Pungkas Mirza setelah itu ia menutup panggilannya.
Mirza mengembangkan senyumnya saat baru saja mendapat informasi dari Samuel bahwa nanti malam temannya itu akan mengaajak bertemu dengan Deo.
Mirza sudah lama tidak tahu kabar temannya yang sudah berhianat itu. Bahkan Deo sendiri tidak tahu kalau dirinya sudah bebas dari penjara.
“Aku sudah tidak sabar ingin bertemu denganmu nanti malam, Kawan.” Gumam Mirza dengan menyeringai.
__ADS_1
Kini Mirza kembali lagi ke pekerjaan kantornya. Bagaimana pun juga ia harus tetap fokus dengan peusahaan cabang. Mengembalikan nama baiknya setelah mendapat gelar narapidana.
***
Sementara itu Kavi yang saat ini sedang di ruangan CEO kantor pusat, ia sejak tadi tidak bisa bekerja dengan tenang. Meskipun Karin tadi sudah meyakinkan kalau perempuan itu berjanji tidak akan meninggalkannya, tetap saja Kavi tidak tenang. Dia merasa seperti orang jahat. Yaitu merebut kekasih adiknya. Padahal kalau dipikir dengan logis, sah-sah saja jika Kavi menjalin hubungan dengan mantan kekasih adiknya. Dan tidak ada hak jika nanti Mirza nanti marah dengannya.
Drt drt drt
Di tengah-tengah kegelisahan hati yang sedang melanda, tiba-tiba saja Kavi mendapat pesan dari Karin. pesan itu berisi tentang ajakan makan siang. Tentu saja Kavi senang. Memang Karin lah obat satu-satunya dari semua rasa yang sejak tadi mengganjal pikirannya.
Kavi membalas setuju dengan ajakan kekasihnya itu. hanya saja Karin mengatakan akan langsung menunggu di restaurant yang dijanjikan.
Sedangkan Karin cukup senang kalau Kavi menerima ajakannya. Karena memang selama ini mereka berdua jarang sekali menghabiskan waktu untuk makan siang bersama. Mengingat Kavi adalah seorang pengusaha, tentunya pria itu tidak punya cukup waktu luang walau sekadar makan siang.
Karin menatap sebuah brosur yang ada di tangannya. itu adalah sebuah brosur perkuliahan. Ya, Karin memutuskan untuk kuliah. Dan baru saja ia mendapat brosur dari Anna. Brosur perkuliahan yang sesuai dengan jurusan yang ia inginkan sejak dulu.
Rencanya Karin nanti mengajak Kavi makan siang memang untuk memberi kabar itu. dia berharap Kavi akan mendukung keputusannya itu.
Karin sangat bersyukur memilikiteman baik seperti Anna. Perempuan itu lah yang selama ini dekat dengan Karin. terlebih sejak Karin berkerja di perusahaan yang sama dengan Anna.
Dulu Karin hampir saja dibuat cemburu oleh sikap Anna yang sangat akrab dengan Kavi. Namun ternyata ia salah paham. Bahkan dia sudah menceritakan semuanya pada Anna tentang awal mula ia menjalin hubungan dengan Kavi.
“Hai, Rin? Bagaimana? Apa Kavi mendukungmu kalau kamu akan melanjutkan studi kamu?” tanya Anna yang tiba-tiba menghampiri Karin karena ingin meminta salinan data informasi penting yang sangat ia butuhkan.
“Aku belum mengatakan. Rencananya nanti siang aku akan mengajak Kak Kavi makan siang sekaligus memberitahu kabar ini.” jawab Karin.
__ADS_1
“Wah, kamu so sweet banget sih. Jadi iri deh!” seloroh Anna.
“Kamu ini bisa saja. hanya makan siang biasa, kok. Ya sudah, ada apa kamu datang ke sini? apa butuh sesuatu?” tanya Karin mengalihkan pembicaraan.
Akhirnya Anna mengatakan maksudnya datang menemui Karin. lagi pula ini masih jam kerja. Kalau ia buat ngegosip yang ada nanti akan mendapatkan surat peringatan dari atasannya.
**
Kini jam makan siang pun hampir tiba. Karin sudah sedang dalam perjalanan menuju restaurant dimana ia akan bertemu dengan Kavi. Tak lupa brosur yang akan ditunjukkan pada Kavi sudah ia bawa.
Beberapa saat kemudian taksi yang ditumpangi Karin sudah tiba di restaurant. Setelah membayar ongkosnya, Karin segera masuk. Memilih tempat duduk yang cukup nyaman. Baru lah ia mengirim pesan pada Kavi kalau sudah sampai.
Cukup lama menunggu Kavi, namun yang ditunggu tak juga datang. mungkin pria itu sedang sibuk atau sedang ada meeting. Akhirnya Karin memutuskan untuk memesan minuman saja terlebih dulu. Karin berdiri hendak memanggil salah satu pelayan untuk memesan minuman. Tiba-tiba saja ada suara seseorang yang memanggilnya.
“Karin!”
.
.
.
*TBC
Happy Reading!!
__ADS_1