
Kavi melirik ke arah Karin yang sedang menundukkan kepalanya. Pria itu sangat peka dengan perasaan kekasihnya saat ini. Karin salah paham dengannya.
“Kav! Ditanyain bengong terus sih? Bagaimana kalau weekend besok kita jalan?” tanya Anna.
“Oh, maaf An! Aku tidak bisa.” Jawab Kavi bingung. Apakah ia harus mengenalkan Karin sebagai kekasihnya. Tapi nanti bagaimana reaksi Anna saat tahu bahwa kekasih adiknya sekarang telah menjadi kekasihnya. Ah, masa bodohhlah dengan semua itu.
“Yaa.. padahal aku bosan sekali di apartemen sendirian.” Keluh Anna merasa kecewa.
“Ya bagaimana lagi, aku juga ada janji dengan cewekku.” Jawab Kavi seketika Karin mengangkat kepalanya.
“Serius kamu, Kav?” Anna sangat terkejut mendengarnya.
Kavi mengangguk tersenyum. Kemudian ia melirik Karin dan meraih tangan perempuan itu dengan lembut untuk ditunjukkan pada Anna kalau Karin lah kekasihnya.
“Iya. dia adalah orangnya.” Ucap Kavi tersenyum hangat memandang Karin.
“Apa? Kamu serius, Kav? Bukankah dia itu,-“
“Iya. Karin sekarang kekasihku.” Sahut Kavi dengan singkat tanpa memberi penjelasan lebih pada Anna. Mungkin lain kali dia akan menceritakan semuanya pada Anna.
Anna masih terkejut sekaligus merasa bersalah. Karena sejak tadi ia terus mengajak Kavi ngobrol tanpa mempedulikan Karin yang terus diam menundukkan kepalanya. Dia yakin pasti Karin sudah menilai tentang dirinya yang tidak-tidak.
“Maaf. Karin, maafkan aku. aku tidak tahu kalau kamu kekasih Kavi. Kamu jangan salah paham tentang hubunganku dan Kavi. Kami hanya berteman baik saja. tidak lebih dari itu.” ucap Anna.
Karin hanya mengangguk tersenyum. Beruntunglah kalau memang hubungan Kavi dan Anna hanya sebatas teman baik saja. dia tidak perlu khawatir ataupun cemburu.
Setelah cukup lama mereka menghabiskan waktu seputar lowongan pekerjaan untuk Karin, kini mereka bertiga memutuskan untuk pulang. lebih tepatnya kembali bekerja, karena jam makan siang sudah habis.
__ADS_1
Karin mengucapkan banyak terima kasih pada Anna atas informasi lowongan pekerjaan tadi. Karin juga sangat senang akhirnya ia mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan keinginannya sejak dulu.
Memang sejak masih mengenyam pendidikan di sekolah menengah atas, Karin ingin sekali melanjutkan kuliah jurusan komunikasi. Karena masalah biaya dan juga tidak ada dukungan sama sekali dari orang tuanya, membuat Karin harus mengubur dalam cita-citanya itu. mungkin suatu saat nanti ia akan mewujudkan cita-citanya itu jika sudah mampu membiayai dirinya sendiri dan juga kuliahnya.
**
Kavi mengantar Karin pulang ke apartemennya. setelah itu ia kembali ke kantor untuk melanjutkan beberapa pekerjaannya yang belum selesai.
“Aku kembali ke kantor dulu, ya?” pamit Kavi.
“Iya, Kak. Hati-hati di jalan! Terima kasih banyak untuk hari ini.” jawab Karin.
Mereka berdua saling memberikan salam perpisahan, setelah itu Kavi mulai menjalankan mobilnya menuju kantor.
Karin masuk ke dalam unit apartemennya. dia mengambil ponselnya yang ada di dalam tas. Ternyata di sana ada sebuah pesan.
Karin menghembuskan nafasnya pelan. Dadanya sungguh sesak membaca pesan dari Ibunya. Pesan yang sama yang selalu dikirim oleh sosok wanita yang disebut Ibu. Dan Karin sama sekali tidak pernah membalasnya. Percuma saja. pasti setelah dibalas, ponsel Ibunya pasti tidak aktif. Tapi entah kenapa kali ini Karin ingin menghubungi Ibunya. Ingin mendengar langsung suara Ibu dan Ayahnya untuk sekadar melepas rindu, walau tidak bisa bertemu.
Dengan memberanikan diri, Karin mulai menghubungi nomor ponsel Ibunya. Aneh sekali. Ponsel itu aktif. Tidak seperti biasanya. Hanya saja dia harus menunggu lama sampai akhirnya dijawab oleh seseorang yang selama ini sangat Karin rindukan.
“Halo, Ib-“
“Karin jangan menghubungi Ibu, Nak! atau kamu dalam bahaya. Maafkan Ibu dan Ayah.”
Panggilan itu terputus begitu saja dengan meninggalkan seberkas rasa penasaran sekaligus ketakutan yang mendalam di hati Karin. pasalnya baru saja ia mendengar suara gemetar dari Ibunya. Wanita itu seperti sedang ketakutan. Apa yang sebenarnya terjadi. Apa lebih baik ia pulang saja ke rumah orang tuanya saja untuk menanyakan langsung tentang sesuatu yang seperti sedang disembunyikan kedua orang tuanya.
Karin mencoba menghubungi nomor Ibunya. Kini sudah tidak Aktif lagi. dia semakin khawatir. Tapi bingung tidak bisa berbuat apa-apa.
__ADS_1
**
Sesuai janjinya kemarin, hari ini Karin datang ke kantor dimana Anna bekerja. Karin melakukan interview dan tidak butuh waktu lama akhirnya dia diterima kerja.
Karin sangat senang menjalani pekerjaannya kali ini. apalagi semenjak bertemu dengan Anna, dia jadi mempunyai teman dekat yang sering diajaknya bicara. Bahkan keduanya juga sering curhat bersama di waktu luang. Anna pun juga sudah tahu mengenai hubungan Karin yang sudah putus dengan Mirza lalu ia menjalin hubungan dengan Kavi.
***
Waktu berlalu begitu cepat. Kabar tentang Mirza yang mendapat remisi hukuman waktu itu ternyata benar adanya. Sebenarnya Mirza akan bebas dari penjara tiga bulan lagi. berhubung selama menjalani masa tahanannya, Mirza berperilaku baik, akhirnya ia mendapatkan remisi hukuman dua bulan. Dan hari ini juga ia dinyatakan bebas.
Sean, Lidia, dan juga Kavi saat ini sedang menunggu Mirza keluar dari lapas. Lidia sudah tidak sabar ingin memeluk anak bungsunya itu. tak lama kemudian keluarlah sosok yang sejak tadi ditunggu-tunggu.
“Mirza, anakku!” tangis Lidia pecah saat melihat Mirza sudah bebas dari penjara.
Mirza juga tidak bisa lagi membendung air matanya. dia memeluk erat tubuh Mamanya. Bahkan ia sampai duduk bersimpu dan mencium kaki Lidia.
Sementara Kavi yang menyaksikan keharuan antara Mama dan adiknya juga ikut bahagia. Tapi di satu sisi perasaannya sangat cemas.
.
.
.
*TBC
Happy Reading!!
__ADS_1