Perseteruan 2 Calon Pewaris

Perseteruan 2 Calon Pewaris
59. Kabar Duka


__ADS_3

Setelah dua hari dirawat di rumah sakit, keadaan Karin sudah jauh lebih baik. Dokter menyarankan pada Karin agar tetap menjaga pola makannya. Kavi pun ikut lega mendengarnya. Meskipun dia masih diliputi rasa bersalah, lantaran penyebab Karin sakit adalah karena dirinya.


Selama dirawat di rumah sakit, Kavi juga yang setia menunggu Karin. sekaligus untuk menebus kesalahannya. Dan untuk rencana kuliah, Karin sudah mengatakan pada Kavi. Tentu saja Kavi mendukung, selama itu masih dalam hal posistif dan tidak membuat Karin terbebani.


Jadi Karin akan mulai mendaftar kuliah lusa. Dia akan mengambil kuliah jam khusus untuk karyawan, yaitu pada hari sabtu dan minggu.


**


Saat ini Kavi sedang makan malam bersama Karin di sebuah restaurant. Mungkin ini adalah weekend terakhir untuk mereka sebelum Karin mulai aktif menjalani perkuliahannya minggu depan.


Meskipun di saat weekend nanti waktu Karin digunakan untuk kuliah, namun Kavi akan tetap mengupayakan untuk memiliki waktu berdua. Mungkin selain weekend, mereka bisa bertemu.


“Apa Kak Kavi sudah mengatakan pada Mirza tentang hubungan kita?” tanya Karin setelah menyelesaikan makannya.


“Belum. Aku masih butuh waktu untuk mengatakan itu semua. Apalagi aku lihat akhir-akhir ini Mirza sangat sibuk dan sering pulang malam.” jawab Kavi.


“Ya sudah terserah Kakak saja. Apa Mirza masih menjalankan bisnisnya dulu?”


“Sepertinya tidak. Perusahaan sekarang sedang sibuk sekali. Apalagi kantor cabang yang saat ini dpegang Mirza.”


“Syukurlah kalau Miorza sudah tidak lagi menjalankan bisnisnya dulu.”


“Kamu mengkhawatirkannya? Kamu masih mencintainya?” protes Kavi tak terima mendengar Karin membahas Mirza.


“Astaga, Kak! Bukan seperti itu maksudku. Aku hanya tidak ingin dia terjerat kasus seperti dulu lagi. bukannya itu juga telah mencoreng nama baik keluarga Kakak?”


Kavi hanya mengangguk samar. Dia malas membahas masalah Mirza dengan Karin. yang ada akan membuatnya cemburu.


Usai makan malam, Kavi dan Karin memutuskan untuk pulang. seperti biasa, Kavi akan mengantar Karin ke apartemen dulu.


Beberapa saat kemudian Kavi sudah tiba di apartemen Karin. kali ini ia mengantar Karin sampai ke unit apartemennya. Karin juga tidak banyak bertanya, karena biasanya kalau mereka sudah pulang malam, Kavi hanya mengantar sampai basement saja.

__ADS_1


Kavi duduk di sofa setelah Karin menutup pintu. Entah dia sedang sibuk berbalas pesan dengan siapa, Karin tidak ingin ikut campur. Namun tiba-tiba saat Karin hendak masuk ke kamar mengganti pakaiannya, Kavi langsung menarik tangan Karin hingga jatuh ke dalam pangkuannya.


“Kak, hmmppp”


Kavi langsung membungkam mulut Karin dengan ciuman. Ciuman yang sangat berbeda dari biasanya. Kavi menelusupkan lidahnya ke dalam mulut Karin dan mulai mengeksplor setiap rongga mulutnya. Karin yang sudah dibuat mabuk kepayang dengan ciuman yang tiba-tiba itu akhirnya ia ikut membalas ciuman Kavi.


Suara decapan bibir yang sedang baradu meraih kenikmatan itu memenuhi kesunyian ruang tengah unit apartemen Karin. perlahan tangan Kavi mulai menelusup ke balik baju Karin, hingga ia bisa merasakan langsung halus kulit tubuh Karin.


“Kak!”


Dengan nafas tersengal dan bibir yang sedikit membengkak, Karin melepas ciuman Kavi dengan paksa. Ia tidak mau melakukan hal itu kelewat batas sebelum ada ikatan resmi diantara keduanya.


“Maaf! Maafkan aku, Sayang!” sesal Kavi yang hampir saja tidak bisa mengontrol diri.


Kavi segera menurunkan Karin dai pangkuannya. Kemudian ia menarik perempuan itu ke dalam pelukannya.


“Aku janji tidak akan mengulanginya lagi sebelum status kita sah.” Ucap Kavi.


“Setelah pekerjaanku selesai, secepatnya aku akan melamar kamu.” Lanjut Kavi menjawab kebingungan Karin.


Senyum terbit dari bibir Karin setelah mendengar pernyataan Kavi baru saja. jelas saja dia sangat bahagia. Tapi kenapa dulu saat Mirza mengatakan hal yang sama seperti ini, hatinya sama sekali tidak terlihat bahagia. Apakah itu pertanda kalau memang Mirza bukan untuknya, dan ia lebih percaya dengan Kavi.


“Kenapa diam? apa kamu tidak mau?” tanya Kavi.


“Aku mau. Aku akan sabar menanti hari bahagia itu tiba. Aku sangat mendengarnya.” Jawab Karin dengan tersenyum manis menatap mata Kavi.


Sungguh Kavi tidak tahan melihat senyum menawan Karin seperti ini. dia sebenarnya ingin secepatnya meresmikan hubungannya dengan Karin. andai saja pekerjaannya sedang tidak padat. sedangkan untuk urusannya dengan Mirza, secepatnya juga ia akan memberitahu adiknya tentang hubungannya.


“Aku pulang dulu, ya? Kamu baik-baik!” pamit Kavi yang sebenarnya masih ingin berlama-lama di samping kekasihnya. Namun sayangnya waktu sudah malam.


Sedangkan Karin yang melihat wajah masam Kavi justru dia tersenyum. Dia tahu kalau Kavi tidak rela berpisah. Padahal hampir setiap hari mereka bertemu.

__ADS_1


“Sudah, Kakak buruan pulang sana! Ini sudah malam.” usir Karin sambil mendorong pelan tubuh Kavi.


“Hei, kamu mengusirku?” protes Kavi tak terima.


Drt drt drt..


Karin terdiam saat ada panggilan dari ponselnya. Panggilan dari nomor baru. Entah kenapa hatinya mendadak cemas seperti ini.


“Kenapa?” tanya Kavi heran.


“Angkat saja, siapa tahu penting.” Ucap Kavi saat mengetahui yang menelepon Karin adalah nomor baru yang tidak tersimpan dalam kontaknya.


“Halloooo…!” ucap Karin dengan pelan.


“…...”


“Apaa??”


“…..”


“Tidakkk!!!”


Tangis Karin pecah. Bersamaan dengan tubuhnya luruh ke lantai saat mendengar kabar duka dari Ibunya kalau beberapa menit yang lalu Ayahnya meninggal dunia.


.


.


.


*TBC

__ADS_1


Happy Reading!!


__ADS_2