
“Apa..apa kamu yakin kalau orang yang menyelamatkan kamu itu adalah orang yang membuatmu jatuh cinta pada pandangan pertama, Rin?” Tanya Kavi dengan suara terbata.
“Iya, Kak. Bahkan sampai aku sadar saat berada di rumah sakit, laki-laki itu lah yang masih setia menemaniku. Dan dia adalah Mirza. Dewa penyelamatku.” Jawab Karin dengan mengulas senyum mengingat perjalanan cintanya dengan Mirza. Karin masih belum menyadari perubahan raut wajah Kavi.
Sedangkan Kavi hanya mampu terdiam setelah mendengar jawaban Karin baru saja. jadi, Karin menganggap kalau orang yang menyelamatkannya saat kecelakaan itu adalah Mirza. Padahal itu dirinya. Namun tidak mungkin juga Kavi mengatakan yang sejujurnya kalau dirinyalah yang yang menyelamatkan Karin. Apalagi Karin sudah memantapkan hatinya pada sang adik. Lagipula, kenapa dia harus meluruskan hal itu. memangnya akan ada efeknya buat Karin setelah mengetahui kenyataan yang sebenarnya.
“Kenapa sih, Kak?” tanya Karin menatap heran pada Kavi yang masih diam.
“Nggak. Maaf, maaf.. ya sudah aku antar kamu pulang.” jawab Kavi mengalihkan pembicaraan.
Kavi terdiam sambil memegang kemudinya. Dia memang sudah menganggap Karin seperti adiknya sendiri. Namun dalam hatinya dia salut pada sosok Karin yang sifatnya sangat dewasa. Tapi bukan berarti ia suka dengan perempuan itu. apalagi sampai merusak hubungannya dengan Mirza.
Memang selama ini Kavi tidak pernah dekat dengan seorang wanita manapun. Tapi dia juga tidak terlalu bodooh jika mengenai perasaan. Mungkin perasaannya pada Karin hanya sebuah kekaguman yang tidak pernah ia lihat dari seorang wanita manapun.
Tak lama kemudian mobil Kavi sudah berhenti tepat di rumah kontrakan Karin. dia mengucapkan terima kasih pada Karin atas waktunya yang baru saja diluangkan untuk dirinya demi mencari tahu tentang pekerjaan Mirza.
Kavi kini sudah sampai rumah. rumah milik kedua orang tuanya yang begitu besar, namun hanya dirinya seorang yang menempatinya.
Pikiran Kavi akhir-akhir ini sangat penat. Selain masalah pekerjaan, masalah dengan Mirza cukup membuatnya stress. Entah dengan cara apa lagi agar bisa bicara baik-baik dengan adiknya itu. sebagai seorang kakak, tentu dia masih menginginkan yang terbaik buat adiknya. Sebelum sang ayah yang turun tangan.
__ADS_1
Sesampainya di dalam kamar, Kavi bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya sebelum istirahat. Mungkin malam ini dia akan langsung tidur, dan mengabaikan sejenak pekerjaan kantor yang masih menumpuk.
Ternyata rencana tinggal rencana. Pasalnya, setelah ia mandi dan hendak tidur. Tiba-tiba saja ponselnya berdering. Ada panggilan dari seseorang yang sangat dia rindukan. Siapa lagi kalau bukan Mamanya.
Mungkin wanita yang paling dekat dengan Kavi selama ini adalah Mamanya. Meskipun dia mempunyai kakak tiri perempuan, tetap saja tidak bisa sedekat seperti mamanya. Cukup lama anak dan ibu itu bicara melalui sambungan telepon. Lidia juga hanya fokus menanyakan keadaan Kavi. Tidak ada yang lain, juga bukan masalah pekerjaan.
Bukan karena Lidia tidak sayang dengan Mirza, hanya saja wanita paruh baya itu berusaha bersikap adil dengan semua anak-anaknya. jik ia saat ini menghubungi Kavi, tentu saja yang dibahas tentang kabar Kavi. Entah besok atau lusa, Lidia akan bergantian menghubungi Mirza.
Setelah cukup lama bicara dengan Mamanya, hati Kavi sedikit menghangat karena malam ini mendapatkan siraman rohani dari sang Mama. dan yang membuatnya lebih bahagia lagi yaitu Mama dan Ayahnya akan pulang beberapa hari lagi. Kavi jelas senang, karena pekerjaan kantor sedikit berkurang. Entahlah masalahnya dengan Mirza, besok atau lusa adiknya itu pasti akan datang lagi ke kantor. mau sekesal apapun Kavi dengan Mirza, dia tidak akan setega itu dan membiarkan adiknya tidak pulang sama sekali.
Dia sudah terbiasa dengan sifat Mirza yang sedari kecil memang keras kepala dan egois. Apa karena dia anak yang paling terakhir, dan selalu dimanja oleh Ayah dan Mamanya. Namun Kavi rasa tidak seperti itu. karena sejak dulu kedua orang tuanya selalu berbuat adil pada anak-anaknya.
***
Mirza kemarin juga sudah datang lagi ke kantor, meskipun sikapnya pada sang kakak masih cenderung dingin. Ditambah lagi saat Kavi mengatakan kalau Ayah dan Mamanya akan pulang. sepertinya membuat Mirza sedikit khawatir dan takut dengan ayahnya.
Setelah beberapa saat menempuh perjalanan, Kavi sudah sampai di bandara. Ia menunggu Mama dan Ayahnya di kursi tunggu. Tanpa sengaja ternyata ia bertemu dengan Anna.
“Kav, ngapain kamu di sini?” tanya Anna penasaran.
__ADS_1
“Anna? Aku lagi jemput orang tuaku. Kamu sendiri?”
Kavi dan Anna yang sudah akrab, tampak berbincang santai sambil menunggu orang-orang yang mereka jemput. Ternyata Sean dan Lidia sudah tiba dan langsung menghampiri Kavi, tanpa sepengetahuan pria itu.
Lidia menyenggol lengan suaminya kalai melihat anak laki-lakinya sedang bicara dengan seorang perempuan cantik, dan terlihat sangat akrab.
“Duh, saking asyiknya ngobrol sampai nggak sadar kalau yang dijemput sudah datang?” celetuk Lidia membuat Kavi dan Anna terkejut.
“Mama, Ayah? Maaf, Kavi nggak tahu. Kenalkan teman Kavi, Ma, Yah!” jawab Kavi lalu mengenalkan kedua orang tuanya pada Anna.
Lidia tersenyum tipis menyambut uluran tangan Anna. Wanita itu cukup pandai menilai tentang Anna. Sepertinya juga cukup baik untuk menjadi calon menantunya.
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Happy Reading!!