
Setelah berkata seperti itu, Sean langsung pergi begitu saja meninggalkan Kavi dan Karin yang masih terdiam. Mereka berdua sama-sama sedang memikirkan tentang Mirza. Bagaimana jika nanti saat Mirza sudah bebas dari hukumannya lalu mengetahui hubungan mereka. Jika Karin tidak terlalu menganggap berat, karena memang dia sudah tidak memiliki perasaan apapun dengan Mirza. Namun berbeda dengan yang ada di pikiran Kavi. Dia khawatir kalau adiknya masih memendam perasaannya terhadap Karin. lalu saat bebas nanti Mirza akan kembali menjalin hubungan dengan Karin.
“Kak, sepertinya ini sudah malam. lebih baik segara antar aku pulang saja.” ucap Karin.
Kavi mengangguk setuju. Kemudian ia mengajak Karin masuk dulu untuk berpamitan dengan Mamanya. Setelah itu barulah ia mengantar Karin pulang ke apartemennya.
Dalam perjalanan pulang ke apartemen, Karin dan Kavi sama-sama terdiam. Karin tidak tahu kenapa kekasihnya itu diam saja sejak tadi. terlebih setelah mendengar ucapan Ayahnya tentang remisi hukuman Mirza.
“Hati-hati, Kak pulangnya!” ucap Karin saat mobil Kavi baru saja sampai basement.
Karin keluar dari mobil begitu saja saat tidak mendapatkan respon dari Kavi. Karena Kavi masih betah dengan lamunannya.
Menyadari suara pintu mobil yang baru saja ditutup, Kavi pun melihat ke arah Karin yang sudah berada di luar. Dia segera keluar dan menyusul Karin.
“Karin, tunggu!”
“Kak Kavi langsung pulang saja dan beristirahat. Terima kasih makan malamnya.” Ucap Karin.
Grep
Karin sangat terkejut saat tiba-tiba Kavi memeluknya dengan erat. Kavi menghirup aroma wangi tubuh Karin yang sangat menenangkan. Entah kenapa dia tiba-tiba dilanda kekalutan saat mendengar kalau adiknya sebentar lagi bebas. Layaknya takut akan kedatangan musuh. Padahal Mirza adalah adik kesayangannya. Tapi hal yang ditakutkan oleh Kavi adalah, dia takut kehilangan Karin. perempuan yang dicintainya.
“Ada apa, Kak?” tanya Karin saat menyadari reaksi tubuh Kavi yang terlihat melemah.
Kavi mengurai pelukannya dan menatap sendu mata Karin.
“Karin, apa kamu mencintaiku?” tanyanya dengan lirih.
“Kenapa Kakak bertanya seperti itu. aku sangat mencintai Kak Kavi.” Jawab Karin meskipun heran kenapa Kavi tanya seperti itu.
__ADS_1
“Terima kasih. Aku juga sangat mencintaimu. Bolehkah aku meminta sesuatu?” tanya Kavi, dan diangguki samar oleh Karin.
“Aku minta jangan pernah meninggalkan aku. apapun yang terjadi nanti, kumohon!”
Karin bisa melihat raut kesedihan kekasihnya itu. dia juga tidak mengerti kenapa Kavi bicara seperti itu.
“Kak Kavi jangan khawatir. Aku berjanji tidak akan pergi meninggalkan Kakak.” Jawab Karin meyakinkan.
Kavi sangat lega mendengar jawaban Karin. dia benar-benar takut kehilangan perempuan itu. Kini tatapan Kavi sangat dalam tertuju pada netra Karin. perlahan ia mendekatkan wajahnya dengan wajah Karin. beberapa detik kemudian kedua bibir kenyal mereka sudah menempel.
Kavi mencium bibir Karin penuh kelembutan dan begitu dalam. kedua tangannya masih memegangi pipi Karin, sedangkan Karin sendiri reflek mengalungkan tangannya pada pundak Kavi. Mereka berdua terus memaggut. Tidak peduli dimana mereka sekarang berada dan ada siapa yang menyaksikan keintiman Kavi dan Karin dan berhasil mengambil beberapa gambar mereka.
“Terima kasih atas cintamu yang begitu besar. Sekarang kamu masuklah! Selamat beristirahat! Besok aku akan menjemputmu.” Ucap Kavi setelah ciumannya terlepas.
Karin hanya mengangguk sebagai jawaban. Setelah itu dia masuk ke unit apartemennya.
Keesokan paginya, Kavi sudah berada di unit apartemen Karin. berhubung jadwal bertemu dengan Anna saat makan siang nanti, akhirnya Kavi mengajak Karin untuk ikut ke kantornya dulu. Jelas Karin terkejut dan menolak jika harus ikut ke kantor kekasihnya.
“Sudah, jangan berpikir macam-macam. Tidak ada satu orang pun yang akan membicarakan kamu.” Ucap Kavi sedikit memaksa Karin.
Memang sebelumnya beberapa karyawan Kavi belum pernah bertemu ataupun mengenal Karin. saat Karin masih menjadi kekasih Mirza dulu, Mirza tidak pernah mengajaknya ke kantor. jadi menurut Kavi tidak masalah jika ia membawa Karin ke kantor.
Akhirnya Karin mau, walau dengan sedikit paksaan dari Kavi.
Beruntungnya Kavi hari ini tidak ada jadwal meeting. Jadi ia tidak meninggalkan Karin sama sekali saat kekasihnya itu sedang menunggunya di ruangan CEO. Justru Kavi sangat bersemangat kerja saat ada orang istimewa di sampingnya.
Karin memandangi Kavi yang sejak tadi sangat serius dengan layar laptop di depannya. Entah apa yang sedang dikerjakan oleh kekasihnya saat ini. Karin tidak menawarkan bantuan, karena memang dia tidak mengerti dengan pekerjaan Kavi.
Kavi menghentikan pekerjaannya sejenak saat jam makan siang akan tiba. Dia segera mengajak Karin keluar karena ternyata Anna sudah menunggunya di sebuah restaurant tak jauh dari kantor Kavi saat ini.
__ADS_1
“Hai Kav! Apa kabar?” tanya Anna saat Kavi baru saja datang.
“Baik. Sorry membuatmu menunggu.” Jawab Kavi.
Karin hanya mengangguk ramah pada Anna. Karena memang sebelumnya mereka berdua sudah pernah bertemu. Dimana Anna yang mengetahui bahwa Karin adalah kekasih dari adik Kavi. Kemudian mereka bertiga duduk dan memesan makanan.
Karin hanya diam saja saat Kavi terlibat obrolan ringan dengan Anna. Bahkan interaksi Kavi dan Anna tampak sangat akrab.
“Oh iya, kamu kemarin tanya lowongan pekerjaan. Memangnya buat siapa sih, Kav?” tanya Anna.
“Ini, buat Karin. Kalian sudah saling mengenal bukan?” Jawab Kavi.
“O… kamu yang membutuhkan pekerjaan itu?” tanya Anna dan diangguki oleh Karin.
“Besok kamu bawa saja surat lamaran kamu ke kantor. nah ini alamatnya.” Ucap Anna sambil memberikan kartu namanyan yang tertera alamat perusahaan dia bekerja.
“Terima kasih.” Jawab Karin dengan sopan.
“Oh iya, Kav. Apa selama ini kamu sangat sibuk? Jarang sekali balas pesanku. Aku ingin ngafe bareng lagi kayak dulu.” Ucap Anna tiba-tiba. Dan hal itu membuat Kavi terkejut. Terlebih melihat reaksi Karin.
.
.
.
*TBC
Happy Reading!!
__ADS_1