
Saat ini Mirza tengah duduk di teras rumahnya bersama Karin usai makan malam bersama kedua orang tua mereka masing-masing. Sedangkan kedua orang tua mereka masih ngobrol di dalam mengenai rencana kerjasama yang akan mereka jalin.
“Bagaimana kabar kamu, Karin?” tanya Mirza memulai obrolan.
Sejak di dalam tadi memang Mirza belum sempat bicara dengan Karin. dia masih bingung dengan perasaannya sendiri. Ingin meminta maaf atas kejadian waktu itu pun Mirza butuh waktu berdua dengan Karin. dan di sini lah dia baru bisa mengatakannya.
“Baik.” Jawab Karin datar.
Mirza menatap wajah Karin yang sedang membuang pandangannya. Dia merasakan sendiri kalau Karin sudah berubah, tidak sehangat dulu. Tapi bukankah itu wajar. Terlebih Karin melihat dengan kepalanya sendiri dimana dirinya hendak menghabisi kakaknya sendiri.
“Maafkan aku, Karin. aku tahu kamu pasti sangat marah denganku.” Ujar Mirza menatap sendu ke arah Karin.
“Semuanya sudah berlalu, Za. Tidak perlu lagi membahas itu. sekarang yang terpenting kamu sudah sembuh dan raihlah kebahagiaan kamu.” Jawab Karin cukup membuat Mirza bingung.
Apa maksud Karin mengatakan itu? apakah meraih kebahagiaan itu termasuk memperjuangkan perempuan itu lagi.
“Kamu bisa bekerja keras untuk meraih kesuksesan seperti yang kamu inginkan tanpa adanya seseorang yang mengadu domba kamu lagi, Za. Begitu juga dengan aku. aku akan meraih kebahagiaanku sendiri. Aku sudah mengatakan pada kamu bukan, kalau kita tidak bisa lagi seperti dulu.” Lanjut Karin seolah menjelaskan kebingungan Mirza.
Semangat Mirza meredup begitu saja saat Karin memperjelas semuanya. Itu tandanya tidak ada lagi harapan baginya untuk memperjuangkan Karin. lantas apakah Karin masih mencintai kakaknya? Apakah mereka masih menjalin hubungan? Tapi bukankah itu wajar. Apalagi terakhir yang ia lihat Kavi saat itu sedang melamar Karin sebelum kejadian berdarah itu terjadi.
“Terima kasih, Karin. bolehkah aku bertanya sesuatu?”
“Apa? Katakan saja!”
“Apakah kamu sangat mencintai Kak Kavi?”
Karin menatap Mirza dengan mata berkaca-kaca saat mengingat nama pria itu. bahkan sekarang pun ia tidak melihat keberadaan pria itu. memang tadi Sean sempat mengatakan kalau Kavi sedang berada di luar kota untuk perjalanan bisnis. Tapi Karin tidak serta merta mempercayainya.
__ADS_1
“Mau aku mencintai dia atau tidak kamu tidak berhak ikut campur. Namun satu hal yang harus kamu tahu, Za. Kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. dan semua itu karena Kak Kavi lebih memilihmu daripda mempertahankan hubunganku sama dia. Tapi kamu jangan khawatir aku marah dan membencimu. Tidak ada yang perlu aku sesali dari semua ini. justru aku sangat beruntung pernah mencintai pria seperti dia. Pria yang lebih merelakan kebahagiaannya sendiri demi saudaranya.” Tutur Karin panjang lebar dengan menahan rasa sesak di hatinya.
Mirza tediam. Dia merasa tertampar dengan semua ucapan Karin. kini dia baru sadar betapa besarnya rasa cinta dan sayang kakaknya terhadap dirinya.
“Maafkan aku, Karin! aku berjanji akan membantu kamu memperjuangkan cinta kamu pada Kak Kavi.” Ucap Mirza dengan tenang walau dadanya juga bergemuruh.
Mungkin titik tertinggi dalam memperjuangkan seseorang adalah merelakan dia bahagia dengan yang lain. Tapi semua ini juga salahnya. Dari awal Mirza memang sudah memutuskan hubungan itu saat ia masuk penjara dulu.
“Tidak perlu, Za! Dengan aku bertemu kembali dengan kedua orang tuaku, sudah membuat hidupku cukup bahagia.” Jawab Karin setenang mungkin.
Karin menolak bantuan Mirza bukan karena ia tidak mencintai Kavi lagi. tapi ia tidak ingin lagi melihat kakak beradik itu berseteru hanya memperebutkan seorang perempuan. Apalagi Karin sangat yakin kalau dalam hati Mirza masih ada namanya.
“Lebih baik kita berteman saja, agar semuanya berjalan seperti sedia kala. Meskipun ada sejengkal rasa yang masih tertinggal di hati kamu. Aku harap perlahan perasaan itu akan hilang seiring dengan berjalannya waktu. Raihlah cita-cita kamu dan buat kedua orang tua kamu bangga!” ucap Karin lalu ia masuk ke dalam menyusul kedua orang tuanya agar segera pulang.
Malam itu setelah pertemuannya dengan Karin, Mirza sama sekali tidak bisa memejamkan matanya. dia mencoba menghubungi ponsel kakaknya namun tidak bisa. Ponsel Kavi berada di luar jangkauan. Padahal Mirza ingin sekali bicara dengan Kavi untuk meminta maaf atas kejadian waktu itu.
Setelah kepulangannya dari rumah sakit dan beristirahat di rumah kurang lebih selama empat hari, akhirnya Mirza sudah mulai beraktivitas kembali ke kantor. dan sampai saat ini pun ia belum bisa menghubungi kakaknya. Kedua orang tuanya juga terlihat biasa saja dan mengatakan kalau Kavi memang sedang sibuk dan belum bisa pulang dalam waktu dekat.
Saat ini Mirza sedang menikmati sarapannya bersama kedua orang tuanya. Sean tadi sudah mengatakan kalau dia diminta untuk datang ke kantor pusat. Tanpa bertanya alasannya, Mirza hanya menganggukkan kepalanya. Meskipun ada yang aneh, karena Mamanya juga akan ikut pergi ke kantor bersama Ayahnya.
Mirza pergi ke kantor dengan mengendarai mobilnya sendiri. Sedangkan Ayahnya bersama Mamanya sudah berangkat lebih dulu.
Sesampainya di kantor, Mirza langsung dipersilahkan memasuki ruang meeting. Dia sangat heran, karena di sana banyak sekali para petinggi perusahaan dan beberapa karyawan lainnya yang seolah menunggu kedatangannya.
Mirza duduk dengan tenang di samping Mamanya. Sedangkan Sean membuka meeting pagi itu dan mengatakan tujuannya mengadakan meeting besar pagi ini.
“Jadi, mulai sekarang kantor pusat akan dipimpin oleh putra bungsu saya yaitu Mirza.” Ucap Sean setelah cukup lama berbasa-basi.
__ADS_1
Semua peserta meeting pun bertepuk tangan menyambut jabatan baru Mirza di perusahaan pusat. Sean dan Lidia mengulas senyum tipis pada anak bungsu mereka. Sedangkan Mirza sendiri masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Ayahnya. Tapi sekarang bukanlah waktu yang pas untuk bertanya. Karena Sean sudah menyuruhnya berdiri untuk memberikan sambutan.
Usai meeting itu, Mirza dan kedua orang tuanya masih berada di sana. Dia masih belum percaya dengan semua ini.
“Yah, kenapa Ayah menyerahkan jabatan ini pada Mirza? Bukankah kantor pusat sudah dipimpin oleh Kak Kavi?” tanya Mirza dengan cemas.
Sean mengeluarkan sebuah amplop dimana di dalamnya ada surat kuasa dimana Kavi sendiri lah yang bertanda tangan di sana kalau semua jabatan yang pernah ia pegang akan diserahkan pada adik kandungnya sendiri. Seketika itu air mata Mirza luruh. Dia melempar surat kuasa itu.
“Tidak!! Kenapa Kak Kavi melakukan semua ini, Ma, Yah? Katakan dimana Kak Kavi sekarang?” teriak Mirza yang sudah terduduk di lantai.
“Za, bangunlah! Jangan seperti ini! Kak Kavi tidak marah dengan kamu, Sayang. Ini sudah menjadi keputusan Kakak kamu. Jadi terimalah.” Ucap Lidia dan membantu Mirza bangun.
“Tidak. Aku tidak mau. Kak Kavi yang pantas mendapatkan semua ini. katakan pada Mirza, Ma. Dimana Kak Kavi sekarang?”
“Sudahlah, Za! Muali sekarang Ayah percayakan kantor pusat pada kamu. Ayah sangat yakin kalau kemampuan kamu sama dengan Kakak kamu. Tolong hargai keputusan kakak kamu. Dan saat ini kakak kamu sedang ingin sendiri.” Sahut Sean ikut menenangkan Mirza.
.
.
.
*TBC
Happy Reading!!
__ADS_1