
Kavi sulit memutuskan, apakah dia akan pulang menghadiri pernikahan Mirza dan Karin. atu tetap berada di sini, mengabaikan kebahagiaan adiknya. Tapi, dia ingat dengan pesan Mirza kalau adiknya itu meminta dirinya sebagai saksi di hari pernikahannya.
Bisakah Kavi melihat wanita yang sampai saat ini masih dia cintai menikah dengan pria lain yang tak lain adalah adiknya sendiri. Mungkin dalam bibirnya pernah berucap. Tiga tahun yang lalu, saat Mirza sedang koma, ia benar-benar mengikhlaskan Karin untuk Mirza. Tapi Kavi tidak akan menyangka kalau akhirnya akan seperti ini. Karin menikah dengan Mirza.
“Jadi, kamu benar-benar sudah melupakan aku, Karin. baiklah. Aku akan pulang menjadi saksi pernikahan kalian.” gumam Kavi.
Setelah mendapat pesan singkat dari Mirza beberapa waktu lalu, Sean dan Lidia datang untuk menemui Kavi dan juga Chandra. Mereka juga mengabarkan tentang pernikahan Mirza dan Karin.
Lidia sebenarnya tidak tega memberitahu hal itu pada Kavi. Sebagai seorang wanita sekaligus ibu, Lidia sangat paham kalau sebenarnya sampai saat ini Kavi masih mencintai Karin. tapi Lidia pun tidak bisa berbuat banyak. Dia hanya bisa mendoakan agar Kavi segera menemukan wanita pengganti Karin, tentunya juga yang sangat mencintainya.
Selama kedatangan Lidia dan Sean, tidak ada pembicaraan yang berarti antara Kavi dan kedua orang tuanya. Terlebih masalah hati. Karena sebelumnya Sean juga sudah melarang istrinya untuk membahas perihal pernikahan Mirza dan Karin.
“Kav, Mama tidak bisa lama di sini. besok harus segera pulang.” ucap Lidia yang masih belum rela untuk pulang meninggalkan Kavi.
“Nggak apa-apa, Ma. Ayah pasti juga sibuk. Karena Mirza mempersiapkan pernikahannya.” Jawab Kavi dengan tenang.
“Lalu kamu rencana akan pulang kapan? Apa pulang bersama Kak Chandra?” sahut Sean ikut menimpali.
“Lihat nanti saja, Yah. Kalau pekerjaan Kavi sudah beres, Kavi akan pulang lebih dulu dan akan mengambil cuti yang lumayan panjang.”
Sean hanya megangguk. Dia juga tidak ingin memaka Kavi agar pulang lebih dulu, jauh sebelum hari pernikahan adiknya. Pria itu cukup peka dengan suasana hati Kavi saat ini. tentu saja sangat sulit melepas orang yang kita cintai untuk bahagia dengan orang lain.
***
Hari pernikahan Mirza dan Karin kurang satu minggu lagi. Kavi sebenarnya sudah bisa mengajukan cutinya hari ini juga. pekerjaannya tidak terlalu sibuk, jadi dia bisa kapan saja mau libur. Tapi sayangnya, semakin dekat dengan hari pernikahan Karin, perasaannya semakin tidak enak. Kalau dia tidak datang, otomatis semua orang khususnya kedua orang tuanya akan mengira kalau dirinya masih belum rela melepas Karin. padahal Kavi sendiri sudah memutuskan akan pulang dan akan menjadi saksi hari bahagia mereka.
__ADS_1
Akhirnya Kavi datang ke ruang kerja kakaknya, yaitu Chandra. Dia akan mengajukan cuti mulai besok. Untuk kapan dia akan kembali lagi, Kavi belum tahu. Chandra juga pasti tidak akan mempermasalahkannya. Apalagi selama ini Kavi jarang sekali mengambil cutinya.
“Yakin kamu akan pulang besok? Nggak bareng Kakak saja, lusa?” tanya Chandra memastikan.
“Nggak, Kak. Besok aja. Aku sangat merindukan Mama.” jawab Kavi beralasan.
“Baiklah. Terserah kamu saja kalau begitu.”
Kavi pun kembali ke ruang kerjanya setelah dari ruangan kakaknya. Pria itu membereskan beberapa pekerjaannya sebelum pulang. karena hari ini Kavi aka pulang lebih awal untuk mempersiapkan diri sebelum pulang ke tanah air besok pagi. lebih tepatnya mempersiapkan hatinya.
***
Setelah menempuh perjalanan udara belasan jam, akhirnya Kavi tiba juga di tanah air. Kavi langsung memesan taksi yang akan mengantarnya menuju sebuah apartemen miliknya. Apartemen yang sudah lama tidak pernah ia tempati. Dan ia beli dengan hasil jerih payahnya sendiri saat masih menjabat CEO di kantor pusat dulu.
Benar saja, keesokan harinya Kavi pulang ke rumah orang tuanya. Mirza yang lebih dulu menyambut kedatangan kakaknya langsung memeluk erat Kavi. Bahkan tanpa sadar, Mirza sampai menitikan air matanya karena sangat merindukan sang kakak.
“Hei, sejak kapan kamu suka menangis seperti ini?” tanya Kavi menatap adiknya.
Mirza mengusap air matanya lalu kembali memeluk sang kakak. “Aku sangat merindukanmu, Kak!”
Kavi tersenyum hangat sambil menepuk bahu Mirza. Setelah itu ia masuk ke ruang tengah dimana di sana sudah ada kakak perempuannya dan keluarnya sedang berkumpul di sana. Mereka semua sangat merindukan Kavi yang memang selama tiga tahun ini tidak pulang.
Inilah momen yang dirindukan Kavi saat berada di luar negeri selama ini. meskipun ia tinggal dekat dengan kakak laki-lakinya, tapi ia tidak bisa merasakan kehangatan seperti sekarang ini. apalagi Chandra juga sibuk sekali dengan perusahaannya.
Hari pernikahan Mirza dan Karin pun tiba. Semua anggota keluarga dari pihak Mirza dan juga Karin sudah berada di ballroom hotel. Termasuk dengan Kavi. Hanya saja Kavi memilih untuk berbaur dengan tamu undangan yang dulunya pernah menjadi rekan bisnisnya.
__ADS_1
Dari jauh Kavi bisa melihat Karin yang sangat cantik dengan riasan make pun yang tidak terlalu mencolok. Hati Kavi bergetar hebat saat melihat perempuan yang masih singgah di hatinya itu.
Namun Kavi tidak melihat adiknya duduk di kursi bersama Karin dimana keduanya sebentar lagi akan menjalani prosesi sakral pernikahan. Kavi mengira kalau Mirza mungkin masih di dalam. Namun setelah itu dia melihat raut wajah bingung dari Ayahnya seolah sedang mencari seseorang.
“Saya permisi dulu!” pamit Kavi pada rekan bisnisnya.
Namun belum sempat Kavi melangkah mendekati Ayahnya, tiba-tiba saja ada dua orang berbaju hitam langsung menarik Kavi dengan kasar.
“Hei siapa kalian? ada apa ini?” tanya Kavi terkejut. Sontak membuat beberapa tamu undangan juga ikut panik.
Dua pria itu tidak menggubris pertanyaan Kavi. Mereka masih menarik paksa Kavi menuju kursi yang harusnya ditempati oleh Mirza.
“Hei apa-apaan ini?” teriak Kavi tanpa peduli dengan tatapan orang sekelilingnya.
“Baiklah, mari kita mulai sekarang acara pernikahannya!” ujar pemuka agama dan langsung menjabat paksa tangan Kavi.
.
.
.
*TBC
Happy Reading!!
__ADS_1