
Selama perjalanan mengantar Karin, kedua orang itu sama-sama diam. Kavi juga masih memikirkan keberadaan Mirza. Mau bertanya pada Karin pun rasanya tidak mungkin. Nanti dia akan mengira kalau hubungannya dengan sag adik tidak baik-baik saja.
“Mungkin Mirza sedang sibuk, jadi tidak bisa menjemput kamu.” Ucap Kavi tiba-tiba.
“Iya mungkin, Kak. Tapi aku memang tidak ada janji dengan Mirza.” Jawab Karin.
“Jadi, kamu selalu pulang malam sendirian seperti ini? sangat berbahaya, Karin. bagaimana sih ini Mirza.” Gumamnya kesal di akhir kalimat.
“Aku nggak apa-apa, Kak. Sudah biasa. Kalau pulang malam biasanya aku nebeng teman atau naik ojol. Kebetulan malam ini tidak dapat ojol. Jadi akhirnya aku memilih jalan kaki.”
Kavi hanya menghembuskan nafasnya pelan. Bagaimana pun juga ia tidak tega jika ada seorang perempuan jalan sendirian seperti Karin tadi. kalau terjadi suatu hal yang tidak diingankan bagaimana.
Beberapa saat kemudian mobil Kavi sampai di depan rumah kontrakan Karin. perempuan itu segera membuka pintu mobil dan keluar.
“Terima kasih banyak, Kak tumpangannya.” Ucap Karin dengan mengangguk samar menatap Kavi.
“Iya, sama-sama.”
Brukk
Aawwww
Pintu mobil itu masih terbuka saat tiba-tiba saja Kavi melihat Karin jatuh tersungkur. Bahkan suara teriakan Karin terdengar seperti sedang kesakitan. Kavi pun segera keluar untuk menolong Karin.
Terlihat Karin masih tersungkur dan belum bisa bangun. Ternyata posisi mobil Kavi salah parkir. Kavi menghentikan mobilnya tepat di pinggir selokan, hingga saat Karin turun, salah satu kakinya langsung terperosok ke dalam selokan. Pantas saja perempuan itu sangat kesakitan.
“Karin! Astaga! Maafkan aku, Rin!” Kavi benra-benar merasa bersalah pada Karin. dia segera membantu Karin bangun dan membawanya masuk ke kamar. namun sepertinya Karin sangat kesakitan. Karena kaki kirinya yang terperosok ke selokan itu terkilir, sedangkan lutut kaki sebelah kanan juga ikut terluka.
Sshhhh……
__ADS_1
Terdengar suara rintihan kesakitan Karin. Kavi yang tidak tega melihatnya, ia segera membantu Karin bangun, lalu menggendong perempuan itu dan membawanya masuk ke dalam rumah.
Sebenarnya Karin sangat tidak nyaman diperlakukan Kavi seperti ini. tapi rasa sakit di kedua kakinya lebih mendominasi.
Kavi menurunkan Karin pada sofa. Dia melepas sepatu yang dipakai Karin agar bisa membersihkan kotoran pada kaki Karin yang terperosok ke dalam selokan tadi.
“Kak, nggak usah repot-repot! Biaar aku bersihkan sendiri.” Tolak Karin sambil menahan sakit pada kakinya.
Rupanya Kavi tidak mengindahkan ucapan Karin. pria itu sudah selesai melepas sepatu Karin, lalu mencari air untuk mengompres luka pada kaki Karin yang tampak memerah.
Karin hanya bisa diam saat Kavi mengompres kakinya sambil memberikan pijatan tepat pada kaki yang terkilir.
“Ssshhh….. Sakit sekali, Kak!” ringis Karin yang tanpa sadar sudah meneteskan air matanya.
“Maaf! Tahan sebentar ya, Rin!” ucap Kavi lalu kembali mengurut kaki Karin.
Karin membiarkan saja Kavi mengurut kakinya. Sambil menahan rasa sakit, tanpa sengaja Karin melihat wajah Kavi. Tak lama kemudian ia membuang muka karena merasa bodoh dengan pemikirannya.
“Ehm, sudah lebih baik, Kak. Terima kasih. Lebih baik Kak Kavi segera pulang. ini sudah malam juga.” usir Karin dengan halus.
“Lalu bagaimana dengan kamu, Rin? Coba aku hubungi Mirza dulu, siapa tahu dia bisa datang ke sini dan menjaga kamu.”
“Tidak, Kak! Jangan! Aku nggak apa-apa. Mirza sedang sibuk. Biar besok saja aku kabari dia.” Cegah Karin karena tidak ingin Kavi tahu kalau sudah tiga hari ini ia tidak ada kabar sama sekali dari Mirza.
Kavi hanya menghembuskan nafasnya pelan.
“Ya sudah, kalau begitu aku bantu kamu pindah ke dalam.” Lanjutnya dan segera memapah Karin.
Karin yang terkejut dan tanpa ada persiapan sama sekali, dia reflek mengalungkan tangannya pada leher Kavi. Meskipun akhirnya ia berjalan sendiri dengan dipapah oleh Kavi, tetap saja jantungnya berdegup tak karuan.
__ADS_1
“Ya sudah kamu pakai istirahat saja. aku akan pulang. maaf, semua ini karena kesalahanku.” Ucap Kavi sebelum pulang.
“Nggak apa-apa, Kak. Justru aku yang berterima kasih pada Kak Kavi. Hati-hati!” ucap Karin setelah itu langsung membuang mukanya karena malu setelah menyadari kalimat terakhir yang diucapkan baru saja.
“Ya sudah, tidurlah yang nyenyak!” ujar Kavi dengan mengacak rambut Karin dengan mengulas senyum tipis.
Selepas kepergian Kavi. Karin mendadak blank. Bagaimana mungkin dia bisa terhanyut oleh tindakan Kavi baru saja.
“Tidak… tidak boleh!” gumam perempuan itu sambil menggelengkan kepalanya.
***
Kavi yang baru saja sampai rumah, ia mencoba untuk menghubungi adiknya. Tapi sayangnya ponsel Mirza sampai saat ini belum aktif. Akhirnya ia mengirim pesan untuk memberitahu tentang keadaan Karin yang baru saja terjatuh.
“Huuftt…. Kamu itu sudah dewasa, Za! Tapi kenapa jalan pikiran kamu masih seperti anak kecil.” Gumam Kavi.
Sebenarnya Kavi tahu kalau adiknya sengaja menghindar karena memang ingin fokus dengan bisnisnya. Kavi juga ingin sekali bicara baik-baik dengan adiknya perihal bisnis yang dijalani oleh adiknya itu. apalagi Mirza tidak menjalankannya sendiri, melainkan dengan temannya yang bernama Deo.
Memang Kavi tidak mengenal akrab pada laki-laki yang bernama Deo itu. bahkan dia hanya beberapa kali saja bertemu dengannya. tapi Kavi cukup tahu kalau perangai pria itu terlihat bukan pria baik-baik. Hanya saja ia berharap semoga tidak terjadi apa-apa dengan hubungan Mirza dan Deo.
.
.
.
*TBC
Happy Reading!!
__ADS_1