
Selama dalam masa penyidikan kasus yang menimpa Mirza, Sean, Kavi bahkan Lidia sering mendatangi Mirza. Tentu saja untuk memberikan dukungan dan semangat pada pria dua puluh empat tahun itu.
Tapi tidak dengan Sean. Pria yang merupakan ayah kandung Mirza itu tampak geram dengan Mirza. Namun ia berusaha menyimpan amarahnya selama ada istrinya di sana. Menurut hasil penyidikan dan Analisa pengacara yang membantu kasus Mirza itu mengatakan bahwa kasus yang menimpa Mirza termasuk dalam kategori berat. Sudah banyak barang bukti yang menunjukkan bahwa Mirza jelas bersalah. Tidak hanya itu saja, Mirza kemarin juga sempat menjalani tes urin. Dan hasilnya positif mengkonsumsi obat-obatan terlarang itu.
Sean juga meminta Deo ikut hadir sebagai saksi, karena mau bagaimanapun juga Deo adalah partner kerja Mirza. Anehnya, pria yang seumuran dengan Mirza itu sama sekali tidak bersalah. Dan hasil tes urinnya juga negative. Sean dapat menyimpulkan, bahwa anaknya murni melakukan kesalahan sendiri tanpa adanya campur tangan dari orang lain.
Bugh
Saking tidak tahannya menahan kesabarannya, saat masuk ke ruang tahanan menemui Mirza, Sean langsung melayangkan satu pukulan telak tepat mengenai rahang kiri Mirza. Kavi dan satu petuga kepolisian yang ada di sana sangat terkejut dan langsung membantu Mirza bangun.
“Sudah habis kesabaran Ayah, Za! Tega kamu mencoreg nama baik keluarga, hah? Mau ditaruh dimana muka Ayah ini dengan adanya kasus yang menimpamu ini?” ucap Sean dengan rahang mengeras.
Kavi terus menenagkan Ayahnya. Dia juga tidak ingin adiknya babak belur dihajar oleh ayahnya.
“Kavi, jangan halangi Ayah memberi pelajaran pada adikmu ini! apa jangan-jangan selama ini kamu tahu apa saja yang dilakukan oleh Mirza dan kamu menutupi nsemuanya dari Ayah?”
Kavi terkejut mendengar pertanyaan Ayahnya. Kalau mengenai ketidak hadiran Mirza di kantor, memang dia menutupinya. Namun untuk masalah mengenai pekerjaan Mirza dan lain sebagainya, Kavi jujur tidak tahu menahu.
__ADS_1
“Tidak, Yah! Sudah, Yah jangan seperti itu pada Mirza.” Ucap Kavi.
“Kamu tahu kalau hasil tes urin Mirza hasilnya positif? Memang benar-benar anak yang tak tahu diuntung.” Lanjut Sean dengan nafas tersengal.
Sedangkan Mirza sejak tadi hanya diam menundukkan kepalanya. Dia tidak mampu lagi menyangkal ucapan Ayahnya. Karena memang benar akhir-akhir ini dia mengkonsumsi obat penenang.
Kavi segera mengajak Ayahnya keluar agar Sean tak lagi menghajar Mirza. Karena bagaimana pun juga dan seberapa besar kesalahan yang dilakukan oleh Mirza, tetap saja Kavi tidak tega jika sang Ayah terus memarahinya apalagi sampai menghajarnya. Menurut Kavi, Mirza melakukan itu semua ada alasannya. Sedangkan untuk kasus penyelundupan barang illegal itu, jujur saja Kavi masih belum yakin sepenuhnya kalau Mirza ikut menjadi tersangka.
Kini tinggal menunggu sidang putusan hukuman saja yang akan diberikan oleh Mirza. Bisnis yang dibangun Mirza selama ini juga ikut terkena dampaknya.
Mirza masih menundukkan kepalanya dengan pipi lebam akibat pukulan dari ayahnya tadi. dia mendengar ucapan minta maaf dari Deo. Mirza memang tahu bagaimana keadaan temannya itu. Deo memang partner bisnisnya. Namun selama ini pria itu hanya membantu dengan tenaga dan pikiran saja. untuk materi, sepenuhnya dari Mirza. Apalagi berdasarkan kesaksian Deo, pria itu tidak tahu menahu masalah yang sedang menimpa Mirza. Saat kejadian memang Deo tidak berada di kantor, karena sedang sakit dan membutuhkan perawatan di rumah sakit.
“Aku rasa ada yang sengaja menjebak kamu, Za. Kamu ingat kan kalau beberapa waktu yang lalu aku sempat diserang oleh orang tak dikenal. Kemungkinan orang itu Za yang menjebakmu dan iri dengan bisnis kita ini.” ucap Deo.
“Sudah, De! Terima kasih atas empatimu. Aku hanya bisa pasrah menunggu hasil sidang saja. maaf telah membuat kamu repot, dan kantor jelas terkena dampaknya.” Lanjut Mirza.
Setelah itu Deo berpamitan pulang. pria itu juga menunjukkan raut sedih pada temannya yang terkena musibah.
__ADS_1
Tak berselang lama, Karin datang menemui Mirza. Selama beberapa hari ini Karin tampak tidak tenang. Siapa juga pasti merasakan hal yang sama. Karin selalu memberikan semangat dan dukungan pada kekasihnya itu. tapi sayangnya sikap Mirza sudah menunjukkan perubahan pada Karin.
“Aku hanya bisa mendoakan kamu Za agar segera mendapatkan jalan keluar yang terbaik.” Ucap Karin menatap nanar kekasihnya yang sejak tadi terus menundukkan kepalanya.
Karin ingan ucapan Mirza saat pria itu baru pertama kalinya diamankan oleh pihak kepolisian. Saat itu Mirza hanya mengatakan kalau dia meminta maaf karena tidak bisa mewujudkan janjinya yang akan melamar dalam waktu dekat. Karin pun juga menegaskan agar tidak membahas masalh itu dulu. Tapi ucapan Mirza selanjutnya membuat Karin semakin terkejut. Mirza mengatakan pada Karin, agar perempuan itu melupakan dirinya.
“Maafkan aku, Rin! Aku tidak bisa menjanjikan apapun lagi padamu. Lebih baik kamu jalani hidupmu dengan baik mulai dari sekarang, dan lupakan aku!” ucap Mirza memberanikan diri menatap mata kekasihnya itu. setelahnya Mirza langsung membuang muka.
.
.
.
*TBC
Happy Reading!!
__ADS_1