
Anna yang masih menunggu temannya, terpaksa Kavi harus berpamitan pulang lebih dulu. Perempuan itu hanya mengangguk mempersilahkan, dan tersenyum ramah pada Sean dan Lidia.
Sepanjang perjalanan pulang, Lidia tak henti-hentinya tersenyum sambil melirik Kavi yang sedang duduk di sebelahnya memegang kemudi. Sementara Sean dibiarkan oleh Lidia duduk seorang diri di kursi belakang.
“Kenapa sih, Ma?” tanya Kavin yang sejak tadi melihat Mamanya tampak memperhatikannya terus.
“Nggak apa-apa. Mama senang saja.” jawab Lidia dengan senyum yang masih mengembang.
“Memangnya Mama senang kenapa?”
“Senang saja. Karena anak Mama akhirnya punya kekasih.”
“Mama jangan ngada-ada. Aku dan Anna hanya berteman. Kita juga baru saja kenal.” Jawab Kavi yang tahu kemana arah pembicaraan Mamanya.
“Ya, awalnya berteman. Lama-lama menikah juga nggak apa-apa.”
Kavi hanya menggelengkan kepalanya saja melihat sikap Mamanya. Sejak lama memang Mamnya selalu menyuruhnya untuk mencari seorang tambatan hatinya. Tapi bagi Kavi itu tidak mudah. Terlebih hampir selama hidupnya ia gunakan untuk kerja dan kerja. Sedangkan mencari pasangan tak semudah membalikkan telapak tangan.
Beberapa saat kemudian mereka bertiga sampai rumah. Kavi melihat ada mobil Mirza terparkir di sana. Itu tandanya sang adik sedang berada di rumah.
Kavi berjalan di belakang dengan membawa koper milik kedua orang tuanya. Sedangkan Sean dan Lidia masuk lebih dulu.
“Mama, Ayah sudah datang?” Mirza menyambut kedua orang tuanya dengan memeluknya bergantian.
Meskipun usia Mirza sudah dewasa, tetap saja Lidia juga merindukan anak bungsunya itu. Bahkan dia masih menganggap Mirza seperti anak kecil. Karena memang sejak dulu Mirza adalah anak Lidia yang paling rewel dan selalu dimanja oleh kakak-kakaknya.
“Anak Mama, apa kabar Sayang?” tanya Lidia.
__ADS_1
“Baik, Ma. Maaf tadi nggak bisa ikut jemput. Mirza sangat sibuk.” Ucap Mirza menyesal.
“Sibuk di kantor siapa?” tanya Sean dengan tatapan menyelidik.
Lidia menyenggol lengan suaminya agar tak merusak momen pertemuannya dengan anak-anak mereka. Apalagi membahas pekerjaan. Akhirnya Sean tidak melanjutkan ucapannya. Dia memilih masuk ke kamarnya, dan membiarkan Lidia bersama Mirza.
Sementara Kavi yang baru saja masuk rumah, ia melihat Mirza sedang duduk berdua dengan Mamanya. Mirza melihat sang kakak dengan tatapan malas. Bahkan dia curiga kalau kakaknya mengadu pada sang Ayah. Terlebih tadi Sean langsung menanyakan masalah pekerjaan.
“Taruh di situ saja, Kav! Biar nanti Ayah saja yang ambil.” Ucap Lidia yang melihat Kavi membawa koper.
“Iya, Ma. Ya sudah, kalau begitu Kavi kembali lagi ke kantor. maaf, masih banyak pekerjaan. Nanti Kavi usahakan pulang cepat agar kita bisa makan malam bersama.” Pungkas Kavi tak ingin merusak momen bersama Mamanya dengan Mirza.
“Baiklah. Bolehkah nanti makan malamnya kamu ajak teman kamu tadi?” ucap Lidia menahan langkah Kavi. Sementara Mirza juga ikut penasaran.
“Buat apa sih, Ma. Nggak perlu,-“
“Nggak apa-apa. Mama ingin kenal saja sama teman kamu tadi, dan kamu Mirza, kamu nanti juga ajak Karin untuk makan malam bersama.” Sahut Lidia lalu beralih menatap Mirza.
***
Seperti yang diminta oleh Lidia, malam ini Mirza sudah berada di rumah untuk makan malam bersama keluarganya. Tentunya Mirza juga mengajak Karin, kekasihnya.
Saat ini Lidia sedang bersama Mirza dan juga Karin di ruang keluarga. Mereka ngobrol santai sambil menunggu Kavi pulang dari kantor. sementara Sean masih sibuk di ruang kerjanya.
Karin yang sudah kenal dengan Lidia, dia tampak akrab bicara dengan Lidia. Apalagi Lidia termasuk orang yang tidak pilih-pilih. Mungkin itu yang membuat Karin merasa nyaman dengan hubungannya pada Mirza.
“Selamat malam, Ma!” ucap Kavi yang tiba-tiba saja memasuki ruang tengah.
__ADS_1
Sontak saja ketiga orang yang sedang duduk itu langsung menoleh ke sumber suara. Siapa lagi kalau bukan Kavi. Namun Kavi tidak datang sendiri, melainkan dengan Anna.
Sebenarnya Kavi enggan menuruti permintaan Mamanya tadi. namun berhubung sang Mama juga meminta Mirza mengajak Karin, akhirnya Kavi terpaksa mengajak Anna untuk ikut makan malam bersama keluarganya. Anna sendiri juga awalnya menolak, karena kurang nyaman. Apalagi dia juga baru mengenal Kavi. Tapi demi menolong Kavi, akhirnya dia mau.
“Eh, yang ditunggu sudah datang. ayo sini bergabung!” sambut Lidia dengan senyum mengembang menatap Anna.
Anna hanya tersenyum ramah pada Lidia, karena sebelumnya sudah berkenalan. Lalu Lidia mengenalkan Anna pada Mirza dan juga Karin.
Tanpa sengaja, tatapan mata Karin dan Kavi saling bertemu. Entah kenapa dan ada apa dengan perasaan Karin saat melihat Kavi datang dengan seorang perempuan. Dan perempuan itu yang ia jumpai beberapa waktu yang lalu saat makan di restaurant cepat saji tempat ia bekerja. Ada semacam rasa tidak rela saat melihat Kavi sedang bersama seorang perempuan. Tapi kenapa bisa seperti itu. dengan cepat Karin memutus tatapannya terhadap Kavi.
Kini semua orang sudah berkumpul di ruang makan. Termasuk Sean yang paling akhir datang ke ruang makan.
Lidia bersikap hangat pada dua perempuan yang dibawa oleh dua anak laki-lakinya. Dia sangat senang dan berharap salah satu diantara dua anaknya itu segera menyusul kakak-kakak mereka. Terutama Kavi.
“Ayo, dimakan! Nggak perlu sungkan-sungkan. Anggap saja seperti rumah sendiri.” Ucap Lidia yang ditujukan pada Karin dan juga Anna.
“Mama sangat senang sekali malam ini. Mama dan Ayah berharap salah satu dari kalian cepat menyusul kakak-kakak kalian.” ucap Lidia.
“Mama tenang saja, sebentar lagi kami akan mengabulkan permintaan Mama dan Ayah. Bukan begitu, Sayang?” sahut Mirza sambil memegang tangan Karin.
Kavi langsung menatap dalam mata Karin. benarkah, perempuan itu akan segera menikah dengan adiknya.
.
.
.
__ADS_1
*TBC
Happy Reading!!