Perseteruan 2 Calon Pewaris

Perseteruan 2 Calon Pewaris
61. Shahnaz


__ADS_3

Brakkkk


Terdengar suara pintu dibuka dengan kasar. Kavi, Karin, dan juga Sofia sangat terkejut. Terutama Sofia yang sudah tahu kalau hal ini akan terjadi.


“Menyerahlah kalian sekarang juga!!” teriak seorang pria dengan derap langkah kaki memasuki rumah.


“Kalian cepatlah pergi dari sini sebelum mereka menemukan kamu, Karin! cari kedua orang tua kamu!” ucap Sofia dengan tubuh bergetar.


Kavi segera menarik tangan Karin dan membawanya lari melewati pintu belakang sebelum orang itu menangkap kekasihnya. Sementara Karin sangat khawatir dengan Sofia yang sedang ketakutan.


“Kak, bagaimana dengan Ibu?” tanya Karin dengan cemas.


“Tennaglah! Lebih baik kita bersembunyi dulu.” Ujar Kavi terus membawa Karin berlari.


Sementara seorang pria yang berteriak tadi sudah memasuki rumah Sofia. Pria itu menatap tajam pada Sofia yang sedang ketakutan.


“Kita berjumpa lagi, Sofia! Bagaimana perasaan kamu setelah ditinggal mati oleh suamimu? Sekarang katakan di mana Shahnaz? Atau nasib kamu akan sama dengan suami kamu, hah?” bentak pria itu.


Sofia semakin ketakutan. Ia masih ingat dengan jelas tentang kematian suaminya kemarin. Kematian yang disebabkan oleh pria yang sedang berdiri di hadapannya itu. pria itu memberikan racun secara terang-terangan pada makanan Theo. Setelah itu menyuruh Theo langsung menghabiskan makanannya. semua itu karena Theo tidak memberitahu tentang keberadaan Shahnaz.


Shahnaz adalah Karin. anak dari atasan Theo dan Sofia yang sejak dulu diberi amanat oleh kedua orang tua Karin untuk merawatnya. Dan tidak boleh memberitahukan kepada siapapun tentang jati diri Karin yang sesungguhnya. namun rupanya selama ini lawan bisnis Papa Karin sudah mengetahui kalau Karin sedang disembunyikan oleh Theo dan Sofia.


“Saya tidak tahu, Tuan.” Jawab Sofia dengan tubuh bergetar.


“Ck, rupanya kamu juga ingin menyusul suami kamu.” Pria itu tampak berdecak kesal.


“Kemarin aku melihat ada dua orang datang ke sini. aku yakin kalau dia Shahnaz. Cepat katakan dimana dia sekarang?”

__ADS_1


Dua orang pria berbadan kekar yang tidak sengaja Kavi lihat kemarin memang sedang menunggu kedatangan Karin. dan mereka melihatnya. Namun dua orang pria itu langsung pergi memberitahu bosnya tentang Karin yang datang ke pemakaman ayahnya. Mereka menganggap kalau Karin masih berada di rumah ini.


“Kalian masuklah sekerang! Cepat cari keberadaan Shahnaz di seluruh ruangan ini.” ucap pria itu menyuruh dua anaki buahnya yang sejak tadi berjaga di depan rumah.


Sofia semakin ketakutan. Dia khawatir kalau Karin dan Kavi belum keluar dari rumahnya. Jelas nyawa Karin tidak aman kalau mereka berhasil menangkapnya.


“Tidak ada, Tuan.” Ucap salah satu anak buah pria itu.


“Wow, ternyata kamu sangat pintar dan cepat menyuruh Shahnaz pergi. Dan mulain sekarang juga kamu harus ikut pergi bersama suamimu.” Ucap pria itu kemudian menarik pelatuk pistolnya dan tertuju tepat pada jantung Sofia.


Dor


Karin yang masih berlari bersama Kavi, samar-samar ia mendengar suara tembakan dari rumahnya. Tubuh Karin semakin bergetar ketakutan. Air matanya luruh begitu saja saat membayangkan Sofia telah tertembak.


“Kak, Ibu!” ucap Karin yang sudah tidak sanggup lagi melanjutkan larinya. Tubuhnya sudah lelah.


Karin menggeleng lemah. Dia ingin kembali ke rumahnya dan ingin menyelamatkan Ibunya. Meskipun kini dia tahu kalau Sofia bukan ibu kandungnya, namun Karin sudah menganggapnya seperti orang tua kandung yang sangat ia cintai.


“Aku ingin menyelamatkan Ibu, Kak!” ucap Karin lalu berbalik badan.


Kavi dengan cepat menarik tubuh Karin. ia segera menggendong kekasihnya itu. dan berlari dengan cepat agar sampai jalan raya.


Karin akhirnya hanya bisa pasrah. dia ikut kemana Kavi membawanya pergi. Mungkin setelah posisinya aman, dia akan mencari keberadaan kedua orang tuanya.


Kavi sejak tadi juga terus melihat ke belakang. Dia khawatir keberadaannya berhasil dilacak oleh orang-orang jahat yang menginginkan Karin.


Kini mereka berdua sudah sampai tepi jalan raya. Kavi segera menghentikan taksi yang sedang melintas untuk mengantarnya ke bandara. Beruntungnya Kavi selalu membawa ponsel dan dompetnya di sakunya. Sedangkan Karin tidak membawa apa-apa.

__ADS_1


Karin masih dilanda kekhawatiran. Dia tidak menyangka kalau kepulangannya akan menjadikan nyawanya sendiri tidak aman. Sebenarnya apa tujuan mereka menginginkannya. Lalu kemana kedua orang tuanya sekarang.


Beberapa saat kemudian mereka sudah sampai bandara. Selama perjalanan tadi Kavi sudah memesan tiket pesawat. Hanya saja keberangkatannya masih satu jam lagi. dan itu semakin membuat Kavi khawatir kalau orang-orang tadi berhasil mengejarnya. Apalagi ponsel Karin tertiggal di rumah yang kemungkinan besar akan digunakan orang itu untuk mencari keberadaannya sekarang.


Kavi dengan cepat menghapus jejaknya agar tidak mudah dilacak orang-orang itu. dan memang sepertinya ponsel Karin saat ini dalam kondisi off. Setelah itu Kavi menonaktifkan ponselnya.


“Kak, apakah kita akan aman?” tanya Karin.


“Tenang saja. aku akan selalu ada di samping kamu. Lebih baik kita beli pakaian atau apapun untuk menyamar.” Ucap Kavi kemudian mengajak Karin keluar dari banadar sejenak. Karena tak jauh dari bandara ada sebuah toko pakaian kecil.


Setelah dirasa aman dengan penampilan yang sedikit berbeda, Kavi dan Karin segera menuju gate keberangkatan.


“Kak, orang itu terlihat mencurigakan.” Bisik Karin dengan pandangan tertuju pada seorang pria berbadan kekar seperti sedang mencari sesuatu.


Kavi melihat orang itu. dan dia adalah orang yang ia jumpai sedang berjaga tak jauh dari rumah Karin saat ia baru datang kemarin.


.


.


.


*TBC


Happy Reading!!


 

__ADS_1


__ADS_2