
Kavi dirawat di rumah sakit selama tiga hari. Luka tikaman pisau dari orang tak dikenal itu sudah mengering. Karena memang lukanya tidak terlalu dalam.
Selama dirawat di rumah sakit, Kavi tidak memberitahu Karin. dia hanya mengatakan kalau ada pekerjaan penting di luar kota. Seperti biasa, Karin belum diperbolehkan Kavi untuk keluar dari apartemen. Kebetulan Maxim masih belum pulang ke luar negeri, jadi ia bisa meminta tolong pada pria itu untuk mencukupi kebutuhan Karin selama ia dirawat di rumah sakit.
Dan selama Kavi dirawat di rumah sakit, hanya Lidia dan Sean saja yang menjaganya bergantian. Sedangkan Mirza sama sekali tidak datang karena alasan pekerjaan. Namun Mirza sudah menghubungi kakaknya melalui panggilan telepon untuk mengucapkan kesembuhannya.
“Apa kamu yakin, luka kamu sudah sembuh dan tidak sakit lagi?” tanya Sean saat Kavi sudah diperbolehkan pulang.
“Sudah, Yah. Aku bosan di rumah sakit terus.” Jawab Kavi.
Setelah menyelesaikan administrasi dan menebus beberapa obat, Sean segera membawa Kavi pulang ke rumah. untuk sementara Sean masih belum memperbolehkan Kavi ke kantor. dia ingin Kavi benar-benar pulih dulu.
Kini mereka berdua sedang dalam perjalanan pulang. Kavi menanyakan permasalahan kantor yang akhir-akhir sedang kacau. Sean mengatakan kalau semuanya sudah beres, dan Mirza juga ikut membantunya.
“Sepertinya memang yang lebih pantas memegang kantor pusat, Yah.” Ucap Kavi tiba-tiba.
“Kenapa kamu bicara seperti itu? Ayah akui memang semenjak kamu dirawat di rumah sakit, adik kamu cukup bekerja keras menangani masalah itu. meskipun kamu sudah menyelesaikannya terlebih dulu. Bukannya Ayah masih tidak percaya dengan Mirza, hanya saja kamu lah yang memang pantas di kantor pusat. Mirza masih butuh banyak belajar. Anggap saja pekerjaannya di kantor pusat selama beberapa hari ini untuk memperbaiki kinerjanya yang sempat memburuk.” Jawab Sean dengan tatapan mata fokus ke depan.
Kavi tidak bicara lagi. entahlah, kenapa perasaannya ada yang mengganjal tentang adiknya. Tapi dia segera menepis pikiran buruk itu. dan semoga pelaku yang telah melukainya itu tidak ada hubungannya dengan orang yang telah menyebabkan kekacauan di kantor pusat.
Sean dan Kavi tiba di rumah saat jam makan siang. Kebetulan mobil Mirza juga terparkir di halaman rumah. mungkin dia ingin makan siang bersama atau hanya untuk mengambil berkas penting saja.
__ADS_1
“Sayang, kamu sudah pulang? bagaimana keadaan kamu? Apa kamu benar-benar sudah sembuh?” tanya Lidia yang tampak khawatir saat menyambut kedatangan Kavi.
“Sudah, Ma. Aku sudah baik-baik saja.” jawab Kavi menenangkan Mamanya.
Mirza yang baru saja menuruni tangga, mencuri atensi Kavi yang sedang bersama Mama dan Ayahnya. Akhir-akhir ini memang Kavi jarang sekali bertemu dengan adiknya. Dia meras seperti ada ssesuatu tak kasat mata yang sedang menghalangi hubungan persaudaraannya dengan Mirza. Namun Kavi juga tidak tahu apa itu.
“Sudah pulang, Kak? Bagaimana keadaan kamu? Maafkan aku, tidak bisa datang menjengukmu. Kamu tahu sendiri kan masalah di kantor pusat begitu rumit.” Ucap Mirza sambil berkeluh kesah.
“Sudah. Aku sudah membaik. Terima kasih banyak, Za sudah membantuku di kantor pusat.” Ucap Kavi dengan tulus.
Beberapa saat kemudian Lidia mengajak suami dan anak-anaknya untuk segera makan siang. Mirza juga buru-buru dan harus kemabli ke kantor secepatnya.
Di dalam ruang makan itu, Mirza terus membicarakan tentang pekerjaan dengan Ayahnya. Kavi yang sudah absen selama tiga hari seperti tidak tahu apa-apa. Dia hanya menyimak saja. bahkan secara tidak langsung, Mirza berbicara seolah merendahkan kakaknya yang tidak becus menangani kekacauan di kantor pusat.
“Untung saja aku cepat bertindak. Bagaimana kalau tidak, sudah bisa dipastikan perusahaan kita akan gulung tikar karena ditinggal pergi oleh investor besar. Tentunya itu akan berdampak pada kantor cabang.” Ucapan Mirza lag-lagi menyindir Kavi.
Sean dan Lidia hanya mengangguk samar. Mereka juga mengakui kalau Mirza memang sudah berubah dan bisa lebih fokus dengan perusahaan. Mungkin kepergiannya beberapa waktu yang lalu telah membuat Mirza sadar akan tanggung jawabnya sebagai calon pewaris dari pengusaha sukses seperti Sean.
“Oh iya, apa cewek Kak Kavi juga menjenguk Kakak selama dirawat di rumah sakit?” tanya Mirza tiba-tiba.
Uhukkk
__ADS_1
Tiba-tiba saja Lidia tersedak makanannya saat mendengar pertanyaan Mirza untuk Kavi.
“Pelan dong, Ma!” ucap Kavi lalu memberikan segelas air putih pada Mamanya.
“Iya. dia sedang sibuk di luar kota, jadi aku larang datang ke sini.” jawab Kavi dnegan tenang.
Mirza melirik Mamanya yang tampak aneh saat dia bertanya tentang kekasih kakaknya. Apakah Mama dan Ayahnya tahu tentang hubungan kakaknya dengan Karin? mirza mengepalkan kuat tangannya. kenapa kedua orang tuanya terlihat jelas menutupi hubungan kakaknya dengan Karin. apa tujuan mereka sebenarnya.
“Maaf, aku harus kembali ke kantor dulu. Kalian lanjutkan saja makan siangnya.” Ucap Mirza da segera beranjak meninggalkan ruang makan dengan hati yang memanas.
Lidia pun merasa tidak enak. Dia juga merasakan sikap aneh Mirza baru saja. mungkinkah anak bungsunya itu sudah tahu tentang hubungan Kavi dan Karin.
“Ayah juga akan kembali ke kantor. Kav, lebih baik kamu istirahat dulu biar kondisi kamu cepat pulih.” Ucap Sean tak ingin terlalu ikut campur mengenai perasaan anak-anaknya.
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Happy Reading!!