
“Mirza marah denganku, dan memutuskan untuk keluar dari perusahaan.” Jawab Sean dengan wajah frustasi.
“Apa maksud kamu, Sean?” tanya Lidia tak mengerti.
Sean menyandarkan punggungnya pada sofa. Mengusap wajahnya dengan kasar. Hatinya masih menyisakan rasa sakit setelah dibentak oleh Mirza tadi. namun tidak dapat dipungkiri kalau dia juga merasa bersalah atas ucapannya.
“Mirza marah denganku. Baru kali ini aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, Mirza anak kandungku sendiri, anak yang sejak masih dalam kandunganmu sudah aku perlakukan istimewa, hari ini ia membentakku dan marah besar hanya karena sebuah kesalah pahaman.” Jawab Sean dengan lirih. Tanpa sadar air matanya kembali menetes.
“Maafkan aku, Lidia! Aku telah gagal menjadi Ayah. Aku akan cari Mirza sekarang juga. aku akan meminta maaf padanya.” Lanjutnya dan bergegas pergi ingin mencari Mirza.
“Sean, jangan!” cegah Lidia yang ikut sedih melihat suaminya.
Meskipun Lidia belum tahu past kesalah pahaman apa yang sedang terjadi antara Mirza dan suaminya, namun dia tidak bisa menyalahkan semuanya pada Sean. Lidia yang lebih paham tentang suaminya. tidak mungkin suaminya salah dalam mendidik anak-anaknya. mungkin Mirza yang salah mengartikan semua itu. dan dia tidak memperbolehkan suaminya meminta maaf bahkan mengemis maaf pada anaknya sendiri.
“Biarkan saja dulu! Mungkin Mirza butuh waktu untuk menenangkan diri sekaligus introspeksi diri. Kamu tidak pernh salah dalam mendidik anak-anak kita. Kamu Ayah yang hebat buat anak-anak kita.” Ujar Lidia lalu memeluk suaminya.
Sean merasa nyaman dalam pelukan istrinya. Mungkin benar yang diucapkan Lidia kalau saat ini Mirza butuh waktu sendiri. Dia berharap semoga keputusan Mirza untuk angkat kaki dari perusahaan tidak benar-benar serius.
Lidia kemudian mengajak suaminya masuk ke kamar untuk segera beristirahat. Sean juga lelah setelah seharian berkutat dengan berbagai macam masalah. Harusnya di usianya yang sudah tua ini, dia tinggal duduk manis saja menikmati ssa waktunya dengan sang istri tercinta. Ternyata justru masalah datang silih berganti.
Sedangkan Mirza saat ini sedang berada di dalam sebuah Club. Dia menghabiskan malamnya di sana ditemani oleh Samuel.
__ADS_1
Wajah Mirza sejak tadi tak menunjukkan keramahan sama sekali. Ia masih terbakar emosi engan ucapan Ayahnya tadi siang. Sedangkan Samuel yang sejak tadi duduk di samping Mirza, dengan setia menuangkan minuman untuk temannya itu.
“Puaskan dulu minummu malam ini, Za! Wajar kamu marah dengan sikap Ayahmu. Tapi apa kamu akan menyerah begitu saja?” ucap Samuel yang seolah terus membakar emosi Mirza.
“Apa maksud kamu, Sam?” tanya Mirza dengan tatapan nyalang.
Samuel balas menatap tajam mata Mirza. Namun bukan tatapan kemarahan. Justru ia sangat menyukai tatapan Mirza yang seperti itu. akan dengan mudah dia mempengaruhi Mirza.
“Kamu akan keluar begitu saja dari perusahaan milik orang tua kamu?” tanya Samuel dengan tatapan sinis.
“Memangnya kenapa? Aku benci dengan pria yang aku panggil Ayah itu. aku juga benci dengan Kavi.” Jawab Mirza lalu kembali meneguk minumannya.
“Dasar pecundang! Begitu saja sudah putus asa. Come on, Za! Kamu jangan lemah sepertin itu! tunjukkan pada mereka kalau kamu bisa unggul. Rebut semua keahlian dan posisi kakak kamu. Lalu singkirkan dia! Setelah itu Ayah kamu pasti bangga dengan kamu.”
“Sepertinya ide kamu tidak terlalu buruk.” Ucap Mirza dan di detik selanjutnya tubuhnya ambruk.
***
Meskipun Sean masih memikirkan Mirza yang sudah tiga hari ini tidak pulang, namun ia sudah berjanji pada Kavi akan membantu mengungkap jati diri kedua orang tua Karin. walaupun Kavi sudah meminta Ayahnya untuk fokus dengan Mirza dulu. Karena jujur saja, ia merasa tidak enak dengan adiknya yang tidak ada kabar akhir-akhir ini.
“Yah, lebih baik Ayah ke kantor cabang saja dulu. Di sana sangat membutuhkan Ayah. Biar Kavi sendiri yang menyelesaikan masalah Karin.” ucap Kavi.
__ADS_1
Saat ini Sean dan Kavi sedang berada di perusahaan pusat. Lebih tepatnya di ruang kerja Kavi. Tapi mereka berdua sedang tidak melakukan pekerjaan kantor, melainkan mencari informasi tentang keluarga Karin.
Sean tetap fokus dengan layar laptop di hadapannya. dia tidak mempedulikan ucapan Kavi. Dia lebih fokus mencari informasi tentang kedua orang tua Karin. bagaimana pun juga Karin harus diutamakan, karena nyawa perempuan itu sedang terancam.
“Besok, kita sebaiknya pergi ke rumah Karin.” ucap Sean tiba-tiba.
“Maksud Ayah ke rumah orang tua angkat Karin? apakah aman, Yah?” Tanya Kavi.
“Karena hanya ke tempat itu lah kita bisa menemukan petunjuk yang akan membuka siapa jati diri kedua orang tua Karin.”
Sean memang tidak punya pilihan lain lagi. informasi yang dia dapat hanya sebatas tentang Theo yang menjadi asisten pribadi seorang ahli kimia dalam sebuah komunitas perakitan senjata api. Dan komunitas itu sudah lama bubar setelah pernah ada suatu insiden besar yang sempat menghebohkan kota. Namun informasi itu juga sepertinya sudah ditutup rapat dan dianggap selesai. Sean jelas tidak yakin kalau kasus itu sudah selesai. pasti ada oknum lain yang merahasiakan sesuatu besar di dalamnya.
“Baiklah kalau itu jalan satu-satunya. Kavi akan menyiapkan kebutuhan penerbangan kita. Kebetulan Maxim masih ada di sini, Kavi akan meminta bantuannya.”
“Terserah kamu saja. pastikan dulu Karin tetap aman saat kita pergi nanti.” ucap Sean lalu menutup laptopnya.
.
.
.
__ADS_1
*TBC
Happy Reading!!