
Karin jelas tidak menganggap ucapan yang baru saja keluar dari mulut Mirza. Dia menyadari kalau saat ini kondisi emosional Mirza sedang tidak stabil. Jadi Karin hanya mengira kalau ucapan Mirza itu hanya berdasarkan emosinya saat ini saja.
Karin berpamitan pada Mirza. Dia juga mengatakan akan datang lagi dan selalu menemaninya dalam menghadapi masalah itu. sayangnya Mirza tidak menjawab apapun. Dia diam saja dan membiarkan Karin pergi dengan perasaan kecewa.
***
Hari ini sidang putusan pengadilan digelar. Dan hari ini juga akan diputuskan akan berapa lama Mirza harus menjalani hukuman itu. kedua orang tua Mirza, Kavi, dan juga Karin juga sudah berada di ruang sidang.
Persidangan itu berjalan cukup a lot. Tidak hanya Mirza saja yang menjadi tersangka. Tetapi pihak perusahaan yang memang benar-benar terbukti menyelundupkan barang illegal itu juga menjadi tersangka. Dan beberapa oknum lainnya yang ikut terlibat juga menjadi tersangka, tetapi dengan hukuman yang berbeda-beda.
Sejak tadi Lidia terus menghapus air matanya yang tak henti-hentinya mengalir. Wanita paruh baya itu masih tidak percaya kalau anak bungsunya sampai ikut terseret dalam kasus kejahatan. Sedangkan Karin yang duduk di samping Lidia juga ikut menenangak Lidia. Padahal hati Karin saat ini juga tidak baik-baik saja. sejak tadi Mirza sama sekali tidak meliriknya sedikit pun.
Akhirnya persidangan itu selesai. Mirza dikenai hukuman penjara selama dua tahun dan membayar denda uang. Hukuman hasil banding terakhir, yang awalnya Mirza dituntut tiga tahun hukuman.
Lidia saat itu juga langsung pingsan. Dia tidak terkejut dengan hukuman yang diberikan pada Mirza. Waktu dua tahun tidaklah sebentar. Lalu bagaimana anak bungsunya itu menjalani hari-harinya di balik jeruji besi nanti.
“Kav, kamu urus Mama kamu dulu. Ayah mau menemui Mirza sebentar.” Perintah Sean.
Kavi hanya menganggukkan kepalanya. Dengan dibantu oleh Karin, Kavi membawa mamanya masuk ke dalam mobil.
Dengan sabar Karin mengoleskan minyak angin pada hidung Lidia. Perempuan itu juga ikut khawatir melihat Lidia yang saat ini masih belum sadarkan diri. Karin sampai mengabaikan perasaannyan yang jelas sangat hancur setelah mendengar putusan sidang beberapa saat yang lalu.
“Apa nggak sebaiknya dibawa ke rumah sakit saja, Kak?” tanya Karin tanpa menatap Kavi.
__ADS_1
“Kita tunggu beberapa saat lagi. aku yakin Mama hanya shock.” Jawab Kavi.
“Kamu yang sabar ya, Rin! Ini ujian buat hubungan kalian berdua.” Lanjut Kavi memegang lengan Karin berusaha memberikan semangat pada perempuan itu.
“i..iya, Kak. Terima kasih!” jawab Karin dengan gugup.
Tak berselang lama Lidia mulai mengerjabkan matanya. setelah sadar, wanita itu kembali menangisi anak bungusnya. Kavi kembali menenangkan Mamanya. Bersamaan itu juga Sean datang untuk memberitahu bahwa ia akan ikut mengantar Mirza menuju rumah tahanan. Tempat dimana Mirza akan menjalani hukumannya selama dua tahun ke depan. Sebelumnya, Mirza harus menjalani rehabilitasi dulu, karena dia terbukti mengkonsumsi narkoba.
“Sean, aku mohon cari cara untuk membebaskan Mirza. Aku tidak mau dia kesakitan di sana.” Ucap Lidia dengan berderai air mata.
Sean hanya menghembuskan nafasnya pelan. Dia hanya menganggukkan kepalanya saja, karena itu hanya jawaban yang paling ampuh. Mungkin nanti saat di rumah dia akan mengajak istrinya bicara baik-baik.
***
Sekarang Sean sudah tiba di rumah tahanan yang akan dihuni oleh Mirza. Jujur saja sebagai seorang Ayah dia tidak tega membiarkan anaknya menjalani hukuman selama itu. tapi kalau tidak begini, Mirza tidak akan bisa belajar dari kesalahannya.
Mirza menoleh ke arah Ayahnya. Dan tanpa disangka, Sean langsung menarik Mirza ke dalam pelukannya. Sean adalah sosok pria yang tidak mudah mengeluarkan air matanya saat sedang sedih. Namun percayalah, hatinya juga rapuh melihat Mirza sedang terpuruk seperti sekarang ini.
“Maafkan Mirza, Yah! Salam pada Mama, Mirza telah membuat hati Mama sakit dengan kejadian ini.” ucap Mirza menahan kesdihannya.
“Kamu jangan khawatir. Maafkan, Ayah! Ayah harap dengan masalah ini bisa membuat kamu banyak belajar. Ayah dan Mama, dan semuanya masih menyayangi kamu.” Ucap Sean semakin mengeratkan pelukannya.
Setelah mengurai pelukannya, Sean membiarkan Mirza dibawah masuk ke dalam. Menurut hasil persidangan tadi, selama dalam tahanan, Mirza akan menjalani rehabilitasi. Karena kandungan obat terlarang yang ada di dalam tubuh Mirza bukan dalam kategori berat. Maksudnya Mirza bukan seorang pecandu berat, jadi Mirza tidak perlu menjalani rehabilitasi secara intensif.
__ADS_1
***
Usai mengantar Mamanya pulang, saat ini Kavi mengantar Karin pulang ke rumah kontrakannya. Semua itu bukan keinginan Kavi, melainkan Lidia.
Keadaan Lidia tadi yang baru saja sadar dari pingsannya membuat Karin tidak tega membiarkan wanita itu sendirian duduk di jog belakang, sedangkan Kavi fokus dengan kemudianya. Memang Lidia ingin istirahat sejenak tanpa mengganggu konsentrasi Kavi yang sedang menyetir.
Sesampainya di rumah, keadaan Lidia sudah membaik. Setelah itu dia meminta Kavi agar mengantar Karin pulang. walaupun Karin sudah menolaknya.
Sepanjang perjalanan, Kavi dan Karin masih terdiam satu sama lain. Kedua orang itu juga sibuk dengan pemikirannya sendiri.
“Kamu yang sabar ya, Rin! Semua ini memang tidak mudah bagimu.” Ucap Kavi saat mobilnya sudah berhenti di depan rumah Karin.
Karin yang sejak tadi diam menahan kesedihannya, akhirnya tangisnya pecah juga. perempuan itu menangis terisak dengan menutup wajahnya dengan telapak tangan. Kavi yang melihatnya juga tidak tega. Lalu ia menarik Karin ke dalam pelukannya.
“Mirza… Mirza memutuskan aku, Kak!” lirihnya dengan diiringi isak tangis.
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Happy Reading!!