Perseteruan 2 Calon Pewaris

Perseteruan 2 Calon Pewaris
51. Kegalauan Kavi


__ADS_3

Kini mereka berempat sudah berada di mobil dalam perjalanan pulang. Kavi yang memegang kemudi, di sampingnya ada sang Ayah. Sedangkan Lidia dan irza duduk di belakang. Lidia yang masih merindukan anak bungsunya, meminta Mirza untuk ikut duduk di belakang bersamanya. Sedangkan Sean membiarkan saja istri dan anaknya melepas rindu. Dia sendiri juga sibuk membalas email dari beberapa rekan bisnisnya.


Beberapa saat kemudian mereka sudah tiba di rumah. hati Mirza sangat bahagia bisa menginjakkan kakinya di rumah dan berkumpul kembali dengan keluarganya. Hawa kebebasan kini memenuhi relung hati Mirza. Setelah sekian lama badai besar hampir manumbangkan dirinya, kini ia sudah lolos dari badai itu dan waktunya untuk bangkit kembali.


Mirza ingat dengan tujuan utamanya setelah bebas dari penjara. Apa lagi kalau bukan membalas semua perbuatan jahat Deo terhadapnya.


“Ayo Sayang masuk dulu! Mama sudah menyiapkan pesta kecil-kecilan untuk menyambut kedatangn kamu.” Ujar Lidia menggandeng tangan Mirza.


Lidia menganggap Mirza seperti anak kecil yang masih butuh perhatiannya dan tidak ingin lagi membuat anaknya sengsara. Bahkan sebelum berangkat menjemput Mirza tadi, wanita itu sudah menyiapkan banyak makanan kesukaan Mirza.


“Terima kasih, Ma!” sahut Mirza lalu berjalan menggandeng tangan Mamanya.


Kini mereka berempat sudah berkumpul di ruang makan. Benar saja, di atas meja makan itu banyak sekali hidangan makanan. Mata Mirza sampai berbinar melihat semua menu makanan kesukaannya lengkap tersedia di sana.


“Ayo lebih baik kita makan sekarang!” ajak Lidia dan disetujui semua orang.


Mirza sangat lahap sekali menikmati makanan masakan Mamanya. Lidia hanya tersenyum bahagia melihat Mirza seperti itu. sedangkan Sean dan Kavi tampak biasa saja. kedua pria itu juga sama-sama senang menyambut hari kebebasan Mirza.


Usai menikmati semua hidangan makanan itu, tiba-tiba saja ponsel Sean berdering. Ada panggilan masuk dari salah satu bawahannya yang memintanya untuk segera datang ke kantor.


“Ya sudah, kalian lanjutkan dulu, Ayah harus ke kantor sekarang juga.” ucap Sean setelah memasukkan ponselnya ke dalam saku.


“Apa ada hal penting, Yah?” tanya Kavi ingin tahu.


“Iya.” jawab Sean singkat.

__ADS_1


“Yah, ini hari kebebasan Mirza. Apa tidak ada sedikit pun waktu untuk menikmati kebersamaan kita ini?” Ucap Mirza tiba-tiba.


Sean yang terburu-buru karena ada hal penting tapi tidak bisa dikatakan pada Kavi kini dibuat terkejut dengan ucapan Mirza.


“Bukankah baru saja Ayah sudah menjemputmu. Apa itu belum cukup, Za? Apa perlu Ayah mengatakan kalau selama ini perusahaan cabang yang seharusnya kamu pimpin terpaksa Ayah ambil alih. Bahkan Kakak kamu juga ikut dibuat sibuk membantu Ayah.” Ucap Sean dengan nada tegas seketika membuat Mirza terdiam. Bahkan tidak hanya Mirza saja, melainkan Kavi dan Lidia tidak berani ikut berkomentar.


Sean beranjak pergi meninggalkan ruang makan setelah bicara seperti itu. suasana ruang makan pun mendadak berubah. Namun Lidia berusaha menenangkan Mirza yang tampak shock dengan ucapan suaminya baru saja.


“Ayo, lebih baik kita bersantai di ruang tengah!” Lidia mengajak kedua anaknya meninggalkan ruang makan.


Sama halnya dengan sang Ayah. Kavi juga tidak bisa berlama-lama di rumah. ia juga harus kembali ke kantor, karena pekerjaannya banyak yang belum selesai.


“Maaf, Ma, Za! Aku harus kembali ke kantor.” ucap Kavi.


“Ya sudah hati-hati, Kav!” jawab Lidia lalu membiarkan Kavi pergi.


“Mirza mau ke kamar saja, Ma! Mirza sangat merindukan kamar Mirza yang sudah lama kutinggalkan.” Ucap Mirza lebih memilih menyendiri.


“Baiklah kalau begitu. Kamu juga pasti capek. Mama sudah membersihkan kamar kamu, kok.” Jawab Lidia.


Kini Mirza sudah berada di dalam kamarnya. Dia merebahkan tubuhnya di atas kasur yang sangat empuk dan sudah lama ia tidak bisa menikmati kenyamanan tidurnya.


Ucapan Ayahnya saat di meja makan tadi sampai sekarang masih terngiang-ngiang di telinga Mirza. Entah kenapa dia menganggap Ayahnya memperlakukannya berbeda dari sang Kakak. Meskipun memang selama di penjara, Kavi lah yang membatu Sean. Tapi menurut Mirza, tidak seharusnya ayahnya tadi bicara seperti itu.


Mirza tidak ingin terlalu dalam memikirkan hal itu. sekarang yang terpenting adalah menyelesaikan misi balas dendamnya dulu pada Deo. Setelah itu barulah ia mencari Karin untuk meminta maaf pada perempuan itu sekaligus memperbaiki hubungannya yang telah lama kandas.

__ADS_1


Mirza mengambil sebuah kertas kecil dari dalam sakunya. Kertas yang bertuliskan nomor telepon Samuel. Dia akan memberi kabar pada pria itu kalau dirinya sudah bebas. Karena Samuel sudah lebih dulu bebas dua bulan yang lalu.


***


Sepulang dari kantor, Kavi tidak langsung pulang. ia memilih untuk singgah dulu ke apartemen Karin. Karin sendiri sudah pulang kerja lebih dulu daripada dirinya.


Karin menyambut kedatangan Kavi dengan hangat. Ia mencium lembut kedua pipi kekasihnya itu bergantian. Namun tiba-tiba saja Kavi menahan kepala Karin kemudian mencium bibir perempuan itu dengan lembut.


“Sudah ah, Kak!” Karin mendorong tubuh Kavi dengan nafas terengah-engah. Ia merasakan ada yang aneh dari Kavi.


“Ada apa, Kak? Apa ada masalah kantor?” tanya Karin dan dijawab gelengan kepala oleh Kavi.


“Mirza sudah bebas. Tadi pagi aku menjemputnya.” Jawab Kavi dengan raut sendu.


Karin terdiam sejenak. Ternyata hal itu yang membuat Kavi sedikit berbeda hari ini. mungkin pria itu cemas jika nanti adiknya mengetahui hubungan ini.


“Kak Kavi jangan cemas! Aku janji akan selalu ada bersama Kakak.” Ucap Karin mencoba mengusir kegalauan Kavi.


.


.


.


*TBC

__ADS_1


Happy Reading!!


 


__ADS_2