
Orion berhasil menyelamatkan Kavi dan segera membawanya pergi ke rumah sakit. Namun sayangnya dia tidak berhasil mengejar dua orang pria yang telah menikam atasannya itu.
Tadi, saat Orion baru saja keluar dari kantor, ia melihat sekelebat bayangan orang masuk ke dalam. Lalu ia melihat satpam jaga yang baru saja masuk ke toilet. Sedangkan satpam satunya masih ada di dalam pos. akhirnya Orion kembali masuk ke basement untuk memastikan apakah ada orang asing menyelinap masuk ke kantor. benar saja, ia dikegetkan dengan pemandangan dimana Kavi sudah tersungkur sambil memegangi perutnya yang sudah mengeluarkan banyak darah.
Orion masih duduk di ruang tunggu. Saat ini perut Kavi membutuhkan jahitan akibat tikaman pisau tadi. beruntungnya pisau itu tidak terlalu dalam menikam perut Kavi, hingga tidak melukai organ vital lainnya. Hanya saja Kavi membutuhkan banyak darah.
Orion belum ingin menghubungi kedua orang tua Kavi. Setidaknya dia ingin memastikan dulu kalau atasannya itu baik-baik saja.
Beberapa saat kemudian Kavi sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Orion pun segera masuk ke ruangan itu setelah dipastikan oleh dokter kalau keadaan Kavi sudah lebih membaik.
“Tuan, apa saya memberitahu kabar ini pada Tuan Sean?” tanya Orion.
Bukan tanpa sebab Orion bertanya seperti itu. sebenarnya dia juga orang yang peka. Namun melihat masalah yang sedang terjadi di kantor tadi, membuat Orion ikut berpikir buruk kalau orang yang melukai atasannya itu masih ada hubungannya dengan orang yang telah melukai Kavi beberapa saat yang lalu. Orion tidak ingin gegabah memberitahu Sean sebelum dapat ijin langsung dari Kavi. Mungkin saja Kavi ingin merahasiakan kejadian ini.
“Biar aku saja nanti yang menghubungi Ayah dan Mama. dan aku minta tolong pada kamu untuk tidak memberitahu kejadian yang sebenarnya. Hapus rekaman cctv di basement setelah kamu menyalin semua rekaman itu.” ucap Kavi.
Orion hanya mengangguk patuh. Dia juga tidak tahu dengan rencana apa yang dimilikioleh atasannya itu.
“Terima kasih, kamu sudah membawaku ke sini. lebih baik kamu pulang sekarang.” lanjut Kavi.
Orion pun segera pulang setelah memastikan keadaan Kavi sudah membaik. Pastinya untuk sementara waktu pekerjaan Kavi akan ia handle dulu selama atasannya itu masih membutuhkan perawatan.
Keesokan paginya Lidia dan Sean sudah berada di rumah sakit. Mereka berdua sangat terkejut saat mendengar kabar dari Kai sendiri kalau saat ini dirinya sedang dirawat di rumah sakit akibat luka tusuk di perutnya.
__ADS_1
“Kav, siapa yang melakukan semua ini? kenapa baru tadi pagi kamu memberitahu Mama?” tanya Lidia dengan terisak pilu karena melihat anaknya terbaring lemah di atas berankar.
Begitu juga dengan Sean. Pria itu juga sangat khawatir dengan keadaan Kavi. Namun ia lebih bersikap tenang dan menunggu penjelasan Kavi tentang penyebab kejadian itu.
“Kavi sudah tidak apa-apa, Ma. Hanya terkena luka tusuk sedikit dan tidak begitu dalam.” Jawab Kavi.
Lidia semakin tergugu dalam tangisnya. Karena tadi pagi Kavi memberitahunya dengan alasan ada kecelakaan kecil. Lidia pikir hanya kecelakaan lalu lintas. Sean pun segera memeluk istrinya dan menenangkannya.
“Kavi sudah bilang kan kalau lukanya tidak begitu serius. Sekarang tenanglah.” Ujar Sean.
Setelah situasi cukup tenang, Kavi baru menceritakan awal mula kejadian itu menimpanya tadi malam. hanya saja Kavi tidak bicara jujur tentang penyerangan dua orang asing di basement kantor.
“Kavi nggak tahu saat baru saja keluar dari kantor, ada seseorang yang mengetuk pintu mobil dan meminta tolong. Tiba-tiba kejadian itu sangat cepat, hingga Kavi sendiri tidak tahu kalau orang itu menikamkan pisau ke perut Kavi. Beruntungnya ada Orion yang segera membawa Kavi ke sini, Ma.” Ucap Kavi.
Kavi hanya mengangguk saja. dia masih belum bisa berpikir dengan jernih dan tidak bisa menuduh secara langsung tanpa ada bukti akurat.
“Masalah kemarin sudah beres, Yah. Semalam Kavi dan Orion bekerja sampai lembur. Namun ada sedikit dampak yang ditimbulkan dari masalah kemarin. Kalau Mirza ada di kantor pusat, tolong beritahu dia untuk terus memantaunya.”
“Sudah! Jangan bahas masalah kantor dulu. Ayah percaya sama kamu. Biar nanti Ayah yang menyelesaikan semuanya.”
Setelah memastikan keadaan Kavi benar-benar membaik, Sean akhirnya memutuskan untuk pergi ke kantor. sedangkan Lidia masih di rumah sakit menemani Kavi.
“Kamu butuh sesuatu?” tanya Lidia penuh perhatian.
__ADS_1
Kavi mengangguk. Ia butuh ke kamar mandi namun untuk bergerak masih sangat sakit di bagian perutnya. Akhirnya dengan hati-hati Lidia membantu Kavi bangun. Padahal wanita itu sangat takut dengan luka Kavi yang belum kering.
Setelah dari kamar mandi, Kavi kembali rebahan di atas brankar. Lidia menyuapi Kavi lalu memberikan obat yang baru saja diberikan oleh perawat.
“Apa Karin sudah tahu tentang kabar kamu?” tanya Lidia.
“Belum, Ma. Jangan beritahu dulu! Kavi tidak ingin membuatnya khawatir. Nanti dia nekat datang ke sini yang justru akan membahayakan nyawanya.” Jawab Kavi.
Lidia hanya bisa pasrah. entah kenapa ia sangat sedih melihat nasib percintaan Kavi. Ada saja masalah yang menghampiri mereka berdua. Mulai dari Karin yang nyawanya terancam yang entah apa tujuannya, belum lagi dengan Mirza yang sepertinya masih sangat mengharapkan Karin.
Selama ini Lidia hanya bisa diam saat Mirza selalu bercerita padanya tentang Karin. Mirza mengatakan kalau Karin tidak bisa menerima cintanya lagi karena sudah mempunyai kekasih. Lidia sangat khawatir jika suatu saat nanti kedua anaknya itu akan berseteru hanya karena masalah perempuan.
“Kav, bagaimana nanti kalau Mirza sudah mengetahui hubungan kamu dengan Karin?” tanya Lidia tiba-tiba.
“Mama jangan ikut memikirkan hal itu. biar ini menjadi urusan Kavi, Ma. Kavi secepatnya akan bilang pada Mirza setelah Kavi berhasil menyelesaikan masalah Karin, dengan menemukan kedua orang tuanya.” Jawab Kavi sembari mengusap lembut tangan Mamanya.
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Happy Reading!!