Perseteruan 2 Calon Pewaris

Perseteruan 2 Calon Pewaris
69. Kiriman Surat


__ADS_3

Karin menatap pantulan dirinya di depan cermin. Terlebih dengan tanda merah pada dadanya akibat ulah Kavi tadi sore.


Beruntungnya tadi kedatangan Maxim bisa menghentikan aksi setengah gilanya. Kalau tidak, pasti dia dan Kavi akan melakukan hal di luar batas. Walau tidak bisa dipungkiri kalau dia benar-benar ikut terbuai dengan perlakuan Kavi tadi.


Dan kini rasa yang sempat membuatnya terbang melayang tadi berubah menjadi rasa cemas yang semakin melanda. Beberapa waktu yang lalu Kavi berangkat ke kota tempat tinggalnya dulu. Meskipun Kavi tidak sendiri, karena ada Sean dan juga Maxim, namun tetap saja ia sangat khawatir.


***


Sementara itu Kavi dan Sean sudah tiba di tenpat tujuan setelah kurang lebih satu jam menempuh prjalanan udara menggunakan helicopter milik Maxim.


Kavi dan Sean segera memasuki rumah Karin. rumah yang terlihat sangat sepi dan tak berpenghuni setelah penghuninya meninggal semua. Kavi juga tidak tahu kemana jasad Ibu angkat Karin setelah mendapatkan tembakan waktu itu. karena saat ini di rumah itu terlihat kosong.


Sean sebelumnya sudah mendeteksi keadaan rumah Karin. ternyata orang-orang itu memasang camera tersembunyi guna merekam kedatangan siapapun di sana. Dan Sean berhasil merestasnya sebelum masuk.


Sean dan Kavi bergerak cepat menggeledah isi rumah itu. dan di sana terlihat sangat berantakan. Karena ternyata orang-orang itu sudah mengacak-acaknya sebelumnya.


“Cepat cari apa saja yang bisa memberikan petunjuk! Sebelum orang-orang itu mengetahui kalau cctv rumah ini diretas.” Seru Sean.


Kavi mengangguk. Ia segera bergerak masuk ke semua ruangan yang ada dalam rumah itu. begitu juga dengan Sean. Mungkin karena niat baik mereka berdua, hingga akhirnya Kavi bisa mendapatkan sesuatu yang cukup membuatnya bisa tersenyum lega. Tanpa sengaja ia berhasil mendapatkan senuah memory card yang terletak di dalam wadah bumbu dapur yang dimasukkan ke dalam sebuah plastic kecil.


Kavi pun segera memberitahu Ayahnya untuk segera keluar dari rumah itu. dan bersamaan itu pula, ponsel Kavi berdering ada panggilan dari Maxim. Maxim melihat sebuah mobil bergerak mendekati rumah Karin. dan dia meminta Kavi dan Sean agar segera keluar sebelum orang-orang itu menangkapnya.


“Ayah buruan!” seru Kavi saat melihat sorot lampu mobil mulai mendekati rumah Karin.


Sean dan Kavi segera berlari melewati pintu belakang. Mereka berdua lari secepat mungkin saat salah satu penumpang mobil itu keluar dan mengejarnya. Bahkan orang itu juga melepaskan tembakannya ke arah mereka berdua.

__ADS_1


Dor dor dor


Kavi dan Sean terpaksa berpencar demi mengjindari tembakan itu. beruntungnya suasana sekitar tempat itu gelap. Jadi orang itu sedikit kesusuahan menemukan Kavi dan Sean.


Beberapa saat kemudian Kavi dan Sean sudah sampai di sebuah tanah lapang di mana Maxim menunggunya. Pria yang sedang mengoperasikan Drone’nya kini segera mematikannya setelah melihat kedatangan Kavi dan Sean. Terlebih Maxim tadi sempat merekam Kavi dan Sean yang sedang dikejar oleh salah seorang penumpang mobil.


“Come on! Hurry up!” ujar Maxim karena orang itu sudah mendekati helikopternya.


Kavi dan Sean masuk tepat waktu. Maxim pun segera menjalankan helikopternya.


**


Kavi dan Sean tiba di apartemen Maxim saat waktu sudah menunjukkan pukul tiga dini hari. Mereka bertiga masuk ke dalam unit apartemen begitu saja setelah beberapa kali menekan bel. Karena jam segini pasti Karin sedang tidur.


Kavi dan Sean segera melakukan pencariannya berdasarkan memory card yang Kavi temukan tadi. ternyata di sana banyak sekali informasi penting. Sean menemukan data seorang pria berkebangsaan Jerman bernama Kyler. Pria itu adalah salah seorang ahli kimia perakitan senjata api yang tergabung dalam sebuah komunitas dan bekerja untuk pemerintahan Jepang. Di sana juga ada foto pria yang bernama Kyler itu dengan didampingi seorang wanita cantik berdarah Jepang yang bernama Hanna. Dan wanita itu sangat mirip dengan Karin.


“Sepertinya begitu. Ayah kan mencari tahu informasi lainnya.” Jawab Sean lalu kembali sibuk membuka semua data itu.


Cukup lama kedua pria itu berkutat di depan layar laptop. Hingga akhirnya Sean bisa menyimpulkan hasil pencariannya. Kyler dan Hanna memang kedua orang tua kandung Karin. kedua oramg itu sengaja menitipkan Karin pada Theo dan Sofia sejak Karin masih berusia tiga tahun. Karena dari hasil informasi yang Sean dapat, pada tahun itu Kyler dan Hanna disandra oleh salah seorang rekannya yang ternyata selama ini menjual senjata hasil rakitan Kyler secara illegal. Temannya itu sengaja menyandra Kyler dan Hanna demi menutup mulut mereka sekaligus agar Kyler mau membuka mulut tentang bahan-bahan kimia apa saja yang sudah dicampurkan dan perakitan senjata itu hingga Kyler mampu mendapatkan penghargaan dari pemerintahan.


Mengetahui kalau salah satu rekannya itu akan menjualnya secara illegal dan merakitnya sendiri, Kyler dan Hanna menutup mulut, hingga akhirnya mereka disandera.


“Ayah yakin kalau mereka mengincar Karin untuk mengancam Tuan Kyler agar mau buka mulut. Dengan ancaman membunuh Karin, mereka yakin Tuan Kyler akan buka suara mengenai rahasia itu.” ucap Sean.


“Jadi, sekarang tugas selanjutnya adalah menemukan dimana keberadaan Tuan Kyler dan Nyonya Hanna sebelum mereka menemukan Karin terlebih dulu?” tanya Kavi dan diangguki oleh Sean.

__ADS_1


***


Kavi dan Sean kembali ke kantor setelah kemarin sudah mengantongi informasi tentang kedua orang tua Karin. untuk saat ini Kavi membiarkan Karin tinggal di apartemen Maxim. Karena di sana dia akan aman.


Kavi juga harus bisa bersikap professional. Perusahaan juga sangat membutuhkan dirinya. Karena banyak orang yang menggantungkan nasibnya untuk bekerja di sana.


Sedangkan Mirza, sejak kembalinya dari pria itu ke perusahaan, Mirza tampak fokus dengan pekerjaannya. Dia teringat dengan ucapan Samuel saat itu. dia harus bisa menunjukkan kemampuannya pada sang Ayah. Bahkan ia akan membuat kakak kandungnya sendiri jatuh, agar bisa merasakan apa yang sudah ia rasakan selama ini. ternyata Mirza masih dendam dan marah dengan ucapan Ayahnya.


Tok tok tok


Pintu ruangan Mirza terbuka dan Eva datang dengan membawa sebuah amplop berwarna coklat.


“Tuan, ini ada kiriman surat!” ujar Eva lalu memberikan amplop itu pada Mirza.


“Terima kasih. Kamu bisa keluar sekarang.” jawab Mirza.


Karena penasaran dengan isi amplop itu. Mirza segera membukanya. Ternyata di dalamnya bukan berisi surat, melainkan beberapa foto yang cukup membuat darah Mirza mendidih.


.


.


.


*TBC

__ADS_1


Happy Reading!!


__ADS_2