
Pertengkaran tengah malam di sebuah kamar narapidana berakhir setelah Samuel membawa Mirza keluar. Tak lupa Samuel memberikan obat pada temannya akibat pukulan teman sesama Napi tadi.
“Sudah, nggak perlu! Aku baik-baik saja.” tolak Mirza saat Samuel berusaha membantu mengompres pipinya.
“Kamu kembali lah ke kamar! aku nanti akan menyusul.” Lanjutnya tanpa ingin banyak bercerita lagi dengan Samuel.
Samuel mengiyakan perintah Mirza. Dia juga masih ngantuk, lebih baik masuk ke kamar dan melanjutkan tidurnya. Membiarkan Mirza menenangkan diri, entah apa yang terjadi dengan pria itu.
Sebenarnya Samuel juga sedikit banyak paham dengan sifat Mirza yang sedikit arogan. Namun selama ini teman yang paling dekat dengan pria itu adalah dirinya sendiri, Samuel pun tidak pernah mempermasalahkannya. Memang setiap individu mempunyai sifat yang berbeda-beda. Namun yang membuat Samuel salut dengan sifat Mirza, yaitu Mirza adalah seorang pria yang Tangguh dan ambisius.
Kebanyakan Napi lainnya kurang negitu suka dengan Mirza, mereka tahu kalau Mirza adalah orang kaya dan menganggap selalu bersikap semena-mena terhadap penghuni lapas. Padahal kenyataannya tidak seperti itu.
Sedangkan saat ini Mirza masih berdiam diri di luar kamar. akibat mimpinya baru saja, ia sampai harus membuat kegaduhan di dalam kamar. namun lagi-lagi dia masih mengingat mimpinya tadi. yaitu tentang Karin.
Mirza berharap mimpi itu hanya bunga tidurnya semata. Tidak mungkin Karin secepat itu bahagia dengan pria lain. Maka dari itu Mirza tetap bertekat dalam hatinya, setelah bebas nanti ia akan memperbaiki hubungannya dengan Karin. meminta maaf pada perempuan itu.
***
Hari ini weekend. Kavi yang semenjak kepulangannya dari luar kota kemarin, dengan membawa serta Karin, sampai saat ini belum menemui perempuan itu lagi. pasalnya semalam Kavi banyak pekerjaan, hingga membuatnya harus lembur. Meskipun di rumah.
Kavi sudah mengirim pesan pada kekasihnya itu kalau tidak bisa datang. dan hari ini rencananya akan menemui perempuan itu di hotel setelah itu mengajaknya untuk mencari apartemen.
Kini Kavi sedang berada di meja makan bersama Ayah dan Mamanya. Pagi ini Lidia melihat wajah Kavi tampak berbeda dari biasanya. Sejak keluar dari kamarnya, Kavi tak henti-hentinya mengulas senyum manisnya. Bahkan anak laki-lakinya itu terlihat lebih bersemangat.
__ADS_1
“Sepertinya anak Mama sedang bahagia.” Celetuk Lidia tiba-tiba.
Sean yang berada di samping istrinya terlihat bingung dan tidak mengerti apa maksud dari ucapan Lidia baru saja. sedangkan Kavi terlihat santai saja karena tidak mendengar ucapan Mamanya. Mungkin otaknya saat ini dipenuhi dengan nama Karin.
“Apa maksud kamu, Sayang?” tanya Sean penasaran.
“Sepertinya Kavi sedang bahagia. Bukan begitu, Kav?” tanya Lidia dengan menatap anaknya.
Uhuukkk
Kavi seketika tersedak saat mendapati pertanyaan dari Mamanya. Memang benar kalau sejak tadi pikirannya dipenuhi oleh nama Karin. lalu bagaimana bisa Mamanya menegtahuinya.
“Pelan-pelan dong, Kav!” ujar Lidia sambil menyodorkan segelas air putih pada Kavi.
“Terima kasih, Ma.” Jawab Kavi lalu kembali melanjutkan makannya.
“Nggak ada kok, Ma. Setiap hari Kavi juga seperti ini.” Jawab Kavi.
“Ehm, Ma, Yah, Kavi pergi dulu. Kavi ada janji dengan teman.” Pamit Kavi kemudian. Tak lupa meninggalkan kecupan singkat di pipi kana kiri Mama dan Ayahnya.
Selepas kepergian Kavi, Lidia tersenyum menatap suaminya. mungkin benar kalau Kavi sudah mempunyai orang special di hatinya. Hanya saja anaknya itu masih malu-malu untuk mengakuinya.
“Ya sudah biarkan saja! Kavi sudah dewasa. Kita tunggu saja kabar baiknya. Tidak perlu ikut campur dengan urusan percintaannya. Sudah cukup selama ini aku selalu membuatnya sibuk dengan urusan perusahaan.” Ujar Sean dengan nada sendu di akhir kalimatnya.
__ADS_1
Lidia hanya mengangguk lemah. Yang dikatakan suaminya memang benar. Sampai usia Kavi dua puluh tujuh tahun, anaknya itu belum juga mempunyai kekasih. Padahal seusia Kavi harusnya sudah menikah dan mempunyai anak. Dan itu semua karena Kavi terlalu sibuk dengan perusahaan, hingga tidak mempunyai waktu untuk dirinya sendiri. Terlebih untuk urusan hati.
Lidia setuju dengan ucapan suaminya. dia tidak akan mencampuri urusan Kavi mengenai siapa perempuan yang menjadi tambatan hatinya. Kavi sudah cukup dewasa. Tentunya bisa memilih, mana perempuan yang baik untuk dirinya sendiri.
Sementara itu Kavi kini baru saja sampai hotel di mana Karin menginap. Dia langsung mendatangi kamar kekasihnyan itu, karena akan mengajaknya keluar untuk mencari apartemen.
Karin terkejut saat Kavi sudah tiba. Padahal waktu masih pagi. sedangkan dirinya belum mandi. terlabih wajahnya masih kusut karena beberapa menit yang lalu ia baru bangun. Mungkin saking lelahnya hingga membuat Karin sangat nyenyak tidurnya.
“Kak? Kok sudah datang. jam berapa sekarang?” tanya Karin dengan posisi masih berdiri di ambang pintu. Sedangkan Kavi dibiarkan berdiri di depan pintu.
“Jam setengah delapan. Memangnya kenapa? Apa kamu nggak mempersilakan aku masuk?” tanya Kavi sedikit heran melihat sikap Karin.
“Tapi.. aku belum siap sama sekali, Kak. Aku belum man-“
Kavi langsung mendorong pintu kamar itu dan segera masuk begitu saja. sedangkan Karin yang terkejut akhirnya tidak bisa berbuat apa-apa. Dia juga merasa kurang nyaman dengan pakaian yang dikenakan saat ini. pakaian tidur yang berbahan tipis dan panjangnya di atas lutut.
“Kak Kavi tunggu dulu, aku mau mandi sebentar.” Ucap Karin lalu segera melesat masuk ke kamar mandi sebelum Kavi menelisik pakaiannya.
.
.
.
__ADS_1
*TBC
Happy Reading!!