
Bukan tanpa alasan Sean mengadakan meeting itu. karena selain dia memang ingin rehat sejenak di dunia bisnisnya, ia juga ingin melihat kemampuan kedua anaknya dalam memimpin perusahaan. Khususnya Mirza.
Sean menjadikan Mirza seorang CEO di perusahaan cabang, karena ingin Mirza perlahan melepas bisnisnya itu. karena sampai saat ini dia belum juga mendapat jawaban dari anak bungsunya itu mengenai keputusan Mirza mengenai pilihannya. Jadi ini adalah cara ampuh yang digunakan Sean. Dengan begitu Mirza mau tak mau harus merelakan bisnisnya itu.
Sean bukanlah pria bodoh yang tidak tahu menahu tentang bisnis yang dijalani Mirza selama ini. menurutnya bisnis itu sangatlah rawan dengan tindak kejahatan. Hanya saja dia tidak ingin terlalu ikut campur. Ditambah lagi sifat Mirza yang keras kepala, dan selama ini menurut Sean cara kerja anaknya itu masih dalam kategori aman-aman saja.
Setelah meeting siang itu, Mirza dan Sean bergegas menuju perusahaan cabang yang berada di luar kota. Namun tidak terlalu jauh dengan perusahaan pusat yang saat ini dipegang oleh Kavi.
Sepanjang perjalanan, Mirza tampak gelisah. Namun ia sama sekali tidak berani mengungkapkan rasa keberatannya pada sang Ayah. Jelas Sean akan marah. Dan Mirza tidak sanggup melihat kemarahan ayahnya saat ini.
Di perusahaan cabang nanti Mirza hanya dikenalkan saja oleh Sean mengenai kepemimpinan anaknya. Mirza juga tidak wajib datang ke sana setiap hari. Mengingat dia masih memiliki tanggung jawab lain, Sean seolah memberi kesempatan pada anaknya itu menyelesaikan pekerjaannya di luar perusahaan.
Kabar diangkatnya Mirza menjadi CEO di kantor cabang ternyata sudah sampai di telinga Deo. Jelas saja sahabat Mirza itu meradang. Dia tidak menyangka kalau Mirza lebih memilih perusahaan keluarganya dibandingkan dengan bisnis yang sudah susah payah dibangun dengan hasil keringat sendiri.
Setelah peresmian jabatan sebagai CEO, Mirza berniat datang ke kantornya untuk menemui Deo dan ingin menjelaskan semuanya. Sayangnya Mirza tidak bertemu dengan Deo.
“Kenapa Deo tidak datang hari ini?” tanya Mirza pada salah satu karyawannya bagian admin.
“Saya juga kurang paham, Tuan. Kemarin saya hanya melihat kalau Tuan Deo bekerja sampai malam. mungkin kelelahan dan ingin istirahat.” Jawab karyawan itu.
Setelah itu Mirza masuk ke ruangannya. Dengan pikiran yang sedang kalut, Mirza melanjutkan pekerjaan Deo yang masih terbengkalai. Seperti biasa, dengan lancar jari jemarinya menari di atas keybord. Hingga tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore. Akhirnya Mirza memutuskan untuk pulang.
Hari ini Mirza ingin pulang ke apartemennya. dia ingin istirahat sejenak menghilangkan rasa penat di kepalanya.
***
__ADS_1
Saat ini Kavi dan kedua orang tuanya tengah makan malam di rumah. Lidia seperti merasa ada yang mengganjal hatinya kala tak mendapati Mirza ikut makan malam bersama. Namun sejam yang lalu Mirza sudah menghubungi Mamanya kalau dia akan malam di luar bersama Karin.
“Apa kalian baik-baik saja?” tanya Lidia tiba-tiba.
“Maksud Mama apa?” Kavi sama sekali tidak mengerti dengan pertanyaan Mamanya.
“Nggak. Ehm, maksud Mama apa kamu dan Mirza baik-baik saja?” tanya Lidia lagi. wanita itu sulit untuk mengungkapkan unek-uneknya. Entahlah, seperti ada sesuatu yang terjadi antara dua anak laki-lakinya itu.
Belum sempat Kavi menjawab pertanyaan Mamanya, tiba-tiba saja ponsel Sean berdering cukup nyaring. Kebetulan memang pria itu membawa ponsel dalam saku celananya. Lalu dengan cepat Sean menerima panggilan itu.
“Ya, halo?”
“…..”
“…..”
“Baiklah. Saya akan segera datang ke kantor polisi sekarang juga.” pungkas Sean dengan wajah yang sudah memerah menahan emosi.
Kavi dan Lidia tidak tahu siapa yang menghubungi Sean. Namun mendengar Sean bicara akan datang ke kantor polisi, membuat dua orang itu juga cemas.
“Sean, ada apa? Kenapa kamu harus ke kantor polisi?” tanya Lidia.
“Kavi, ayo ikut ayah. Lidia, kamu tetap di rumah saja.” Sean mengabaikan pertanyaan istrinya.
“Tapi kenapa? Ada apa sebenarnya?” Lidia sudah tidak sabar ingin tahu jawaban suaminya.
__ADS_1
“Kamu tenanglah! Mirza ditangkap polisi, dan saat ini sedang diamankan di sana. Aku juga tidak tahu pasti masalahnya apa.” Jawab Sean.
“Apa??”
Seketika tubuh Lidia lemas. Wanita itu seperti kehilangan pijakan saat mendengar kabar buruk itu. sedangkan Kavi yang berada di samping Mamnya langsung memeluk Lidia dan menangkannya.
“Ma, tenang Ma! Kita doakan saja Mirza baik-baik saja.”
Sean yang ingin segera pergi terpaksa menundanya sebentar saat melihat istrinya tampak shock. Dia juga berusaha menenangkan Lidia.
“Minum dulu! Aku janji akan menyelesaikan semuanya. Kamu di rumah saja, ya? Biar aku dan Kavi pergi ke kantor polisi.” Ucap Sean.
Tidak ada pilihan lagi baagi Lidia kecuali mengangguk dan membiarkan suami dan anaknya pergi ke kantor polisi.
“Baiklah! Aku mohon Sean, bawa pulang Mirza!” lanjut Lidia dengan air mata yang terus menganak sungai. Tidak kuat membayangkan bagaimana jika Mirza terbukti bersalah dan harus mendekam di dalam penjara.
.
.
.
*TBC
Happy Reading!!
__ADS_1