
“Apakah masih bisa memesan tiket pesawat untuk penerbangan besok, Kak?”
Kavi memandang mata Karin dengan intens. Mencerna ucapan kekasihnya baru saja. apa itu artinya Karin akan ikut pulang dan tinggal di kota yang sama dengannya.
“Ma…masihhh.. apa itu artinya kamu-?”
“Ya. Aku akan ikut Kak Kavi pulang. aku akan tinggal di sana lagi.” sahut Karin diiringi senyum tipis di bibirnya.
“Tentu saja masih bisa. Kamu tunggu sebentar.” Ucap Kavi lalu dengan cepat mengambil ponselnya dan memesan tiket pesawat satu lagi untuk penerbangan besok.
Selesai memesan tiket, Kavi memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku. Hatinya semakin bahagia karena setelah ini hari-harinya akan selalu ditemani oleh perempuan yang sangat dia cintai.
“Ya sudah, ayo aku bantu packing baju kamu.” Kavi menggandeng tangan Karin membawanya masuk ke rumah.
“Tidak, Kak! Kak Kavi kembali saja ke hotel. Biar aku sendiri nanti yang packing. Barang bawaanku Cuma sedikit kok.”
Meskipun Kavi enggan pergi, akhirnya dengan sedikit paksaan dari Karin dia mau. Lagi pula Karin juga butuh istirahat. Mengingat dia telah mengambil jatah cuti perempuan itu dengan pekerjaan dadakan.
“Ya sudah, selamat beristirahat! Besok pagi aku jemput kamu. Oh iya, kamu nggak usah khawatir mengenai pekerjaan kamu. Biar aku sendiri yang menghubungi manager restaurant itu.”
Karin mengangguk. Kemudian mempersilakan Kavi untuk segera kembali ke hotel. Tak lupa pria itu meninggalkan kecupan singkat pada kening Karin.
Cup
“Selamat beristirahat!” pungkasnya lalu berjalan mundur dengan sesekali melambaikan tangan.
__ADS_1
Layaknya ABG yang sedang kasmaran, kedua insan itu masih saling pandang seolah tidak mau berpisah. Padahal mereka berdua berpisah hanya beberapa jam saja. besok pagi-pagi sekali juga akan bertemu lagi.
Karin ikut melambaikan tangannya saat Kavi masih berjalan mundur mendekati mobilnya. Bahkan sampai Kavi sudah berhenti tepat di depan mobilnya, pria itu tak juga masuk ke dalam mobil. Karin hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal saat melihat tingkah Kavi yang tak biasa seperti itu.
“Aku masuk ya, Kak?” teriak Karin dengan suara mengudara, dengan gerakan tangan menunjuk rumah.
Kavi menjawabnya dengan anggukan kepala. Akhirnya Karin masuk begitu saja tanpa peduli Kavi yang masih terus memperhatikannya. Mungkin niat Kavi memang seperti itu. akan kembali ke hotel setelah memastikan Karin masuk ke rumahnya dengan selamat.
***
Keesokan paginya Kavi sudah tiba di depan rumah Karin. jadwal penerbangan jam tujuh pagi, tapi jam setengah enam Kavi sudah siap. Semalam dia sudah mengirim pesan pada Karin kalau akan berangkat ke bandara lebih awal. Entah mau ngapain mereka di sana nanti.
Cklek
Karin juga sudah siap dengan barang bawaanya. Penampilannya yang simple tetap saja membuat aura kecantikannya tidak luntur. Kavi sangat terpesona dengan sosok yang baru semalam resmi menjadi kekasihnya itu.
“Ck, ternyata Kak Kavi sangat lebay ya. Baru tahu aku.” balas Karin lalu mengunci pintu rumahnya.
“Lebay bagaimana maksud kamu? Bahasa apaan itu? salah jika aku memperlakukan kekasihku seperti ini?” protes Kavi tak terima.
“Ya sudah, ayo kita berangkat sekarang! aku sangat lapar nih!” Ujar Karin mengalihkan pembicaraan karena tidak ingin merusak mood Kavi pagi ini.
Karin meraih tangan Kavi lalu mengajaknya segera masuk ke dalam mobil. Kavi pun luluh karena sikap manis Karin seperti itu.
Setibanya di bandara, mereka berdua segera masuk ke sebuah restaurant cepat saji yang buka dua puluh empat jam. Karin dan Kavi menikmati sarapan mereka sambil menunggu jadwal penerbangan tiba.
__ADS_1
“Nanti setelah kita sampai, sebaiknya kamu stay di hotel saja sementara. Sepulang dari kantor, aku akan mencarikan apartemen untuk kamu.” Ucap Kavi setelah menghabiskan makannya.
“Baiklah, Kak. Tapi Kak Kavi nggak perlu mencarikan aku apartemen. Aku cari rumah kontrakan saja sendiri. Kakak nggak usah repot-repot.” Tolak Karin dengan halus.
“Please, menurutlah Karin! semua ini demi kebaikanmu. Aku ingin kamu aman dan nyaman. Dan menurutku tinggal di apartemen adalah pilihan yang terbaik. Kamu jangan memikirkan biaya sewanya. Biar semua itu akan menjadi urusanku.”
“Tapi, Kak! Aku nggak mau Kak Kavi berlebihan seperti ini padaku. aku masih bisa,-“
“Tidak bisa. Aku tidak menerima penolakan.” Ucapnya tegas seketika membuat Karin diam.
Menyadari telah salah berucap, Kavi memgenag kedua tangan Karin dan mengusapnya lembut. Kemudian dia mengecup punggung tangan perempuan itu.
“Maafkan aku! aku hanya ingin yang terbaik buat kamu. Aku sangat mencintai kamu.” Ucap Kavi dengan nada lembut.
Karin hanya mengangguk samar. Keduanya kembali hangat dengan melakukan obrolan ringan. Obrolan yang lebih banyak didominasi Karin tentang keinginannya mencari pekerjaan lain selain pelayan restaurant. Kavi pun berjanji akan membantu kekasihnya itu untuk mencari pekerjaan. Walau bisa saja ia memasukkan Karin ke perusahaannya. Tapi semua itu masih butuh pertimbangan.
Tak lama kemudian mereka berdua keluar dari restaurant dan segera menuju gate keberangkatan. Kavi juga sejak tadi tak melepas tautan tangannya saat berjalan dengan Karin.
Tak jauh dari mereka berdua, ada seseorang yang sejak tadi memperhatikan Kavi dan Karin. pria itu sesekali melihat ponselnya seperti mencocokkan wajah salah satu dari mereka berdua dengan foto yang ada di ponselnya.
.
.
.
__ADS_1
*TBC
Happy Reading!!