Perseteruan 2 Calon Pewaris

Perseteruan 2 Calon Pewaris
Extra Part 1


__ADS_3

Satu per satu tamu undangan meninggalkan pesta. Hanya tertinggal keluarga inti dari kedua belah pihak keluarga saja yang masih di sana. Sean pun segera mengajak besannya dan semua anggota keluarga yang lain termasuk si mempelai pengantin untuk makan malam terlebih dulu sebelum istirahat.


Sean sudah tahu dari Kyler tentang rencana pernikahan Karin dan Kavi. Karin melarang Papa dan Mamanya untuk mengatakan rencana ini pada Sean dan Lidia. Karena menurut Mirza, Ayah dan Mamanya itu tidak tegaan pada Kavi. Khawatirnya Sean akan memberitahu rencana itu semua.


Kini semuanya sudah berkumpul di meja makan. Hanya saja Mirza tidak ikut bergabung karena beralasan mengantar kekasihnya pulang.


Kavi dan Karin yang duduk bersebalahan masih tampak canggung. Bagaimana tidak canggung. Kalau selama kurang lebih tiga tahun mereka berpisah tanpa ada komunikasi, dan baru saja mereka resmi menyandang suami istri secara sah dan direstui oleh kedua orang tua masing-masing. Ini bukan nikah paksa, melainkan nikah dadakan tapi cinta diantara keduanya masih bertahan sejak dulu.


Karin tampak malu sekali saat mendapat candaan dari anggota keluarga mereka. Apalagi dari pihak keluarga Kavi. Padahal candaan itu ditujukan untuk Kavi, tapi tetap saja Karin yang malu.


“Kav, lebih ajak istri kamu segera beristirahat! Pasti Karin juga sangat capek.” Ujar Lidia memberi solusi.


“Istirahat loh, Kav kata Mama. bukan malah membuatnya capek.” Canda Viana, kakak tiri Kavi.


Wajah Karin semakin bersemu merah. Sedangkan Kavi menanggapinya dengan tersenyum kaku. Lalu melirik istrinya yang sedang menundukkan kepalanya. Akhirnya ia mengiyakan ucapan Mamanya.


“Kami permisi dulu semuanya!” ujar Kavi lalu menarik tangan Karin menuju kamar hotel khusu yang sudah disiapkan.


Kavi berjalan menggandeng tangan Karin tanpa mempedulikan candaan dari kakaknya yang masih ia dengar. Dia ingin segera keluar dari acara makan malam itu secepatnya karena tidak ingin membuat istrinya semakin malu, sekaligus ingin bertanya pada Karin tentang ide pernikahan dadakan ini.


Beberapa saat kemudian mereka sudah sampai kamar hotel president suit. Karin tampak bingung sesampainya di sana. Apalagi hanya ada dirinya dan Kavi saja.


“Ehm, kamu bersihkan tubuhmu dulu! Aku masih ada beberapa urusan yang perlu aku selesaikan.” Ujar Kavi beralasan.


“Baik, Kak!”


Karin mengambil sepotong baju tidurnya lalu segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan make up sekaligus mandi.


Sebenarnya Karin membersihkan make upnya di depan meja rias, namun jantungnya sangat tidak aman karena ada suaminya di sana. Akhirnya ia membawa beberapa keperluan untuk membersihkan make upnya ke kamar mandi.


Cukup lama Karin berada di sana. Setelah itu ia keluar dengan tubuh yang lebih fresh dan juga harum. Kavi yang sejak tadi pura-pura sibuk dengan ponselnya, tiba-tiba mencium aroma tubuh istrinya yang begitu menggoda.


“Aku sudah selesai, Kak.” Ucap Karin.

__ADS_1


“Baiklah. Tunggu aku!” jawab Kavi dan bergegas masuk ke kamar mandi.


Entah apa maksud ucapan Kavi yang memintanya untuk menunggu. Tiba-tiba saja Karin merasa tidak tenang. Apakah Kavi akan meminta haknya malam ini juga.


Karin hanya bisa pasrah. bukankah itu sudah menjadi kewajibannya sebagai seorang istri harus melayani suaminya. apalagi ini adalah malam pertama mereka.


Cklek


Kavi keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah. Pria itu hanya mengenakan kimono sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kering. Karin yang sempat terpesona dengan penampilan suaminya, ia segera membuang pandangannya.


“Kamu lihat apa?” tanya Kavi dengan lembut dan memposisikan tubuhnya sudah berada tepat di samping Karin.


“Nggak lihat apa-apa kok, Kak.” Jawab Karin dengan gugup.


“Kalau di depanmu ada pemandangan yang sayang untuk diabaikan, kenapa kamu justru melihat ke arah lain yang tidak bermanfaat, hem?” ujar Kavi sambil menarik pelan kepala Karin agar menatap ke arahnya.


Jantung Karin semakin berdegup tak karuan. Apalagi harum aroma parfum Kavi yang sangat menggoda. Tapi ia berusaha tetap tenang.


“Kenapa kamu gugup?”


Kavi tersenyum simpul menatap istrinya yang sangat cantik itu. lalu mendaratkan bibirnya pada kening Karin dalam durasi yang cukup lama.


“Terima kasih atas rencana nikah dadakan ini. malam ini aku tidak ingin meminta hakku dulu. Aku hanya ingin dengar cerita tentang kehidupanmu selama kita berpisah, hingga kamu mempunyai ide gila untuk menjebakku dalam pernikahan dadakan ini.”


Karin merasa bahagia setelah mendapat kecupan di keningnya dari Kavi. Rasa gugupnya juga lenyap begitu saja saat Kavi bilang kalau pria itu tidak akan meminta haknya malam ini.


“Tapi nggak tahu kalau besok pagi aku menginginkannya.” Lanjut Kavi dengan menahan senyum. Apalagi melihat mata Karin yang membola sempurna. Lalu mencubit perut Kavi.


Aww….


“Sakit, Sayang! Ok ok.. aku minta maaf. Sekarang ceritakan semuanya!”


Kavi kemudian menarik Karin ke dalam pelukannya dengan posisi masih bersandar pada headboard. Lalu mempersilakan Karin bercerita.

__ADS_1


**


Selama tiga tahun sejak perpisahannya dengan Kavi, Karin memilih melanjutkan pendidikannya. Perempuan itu hanya fokus pada kuliahnya dan sesekali membantu Papanya di perusahaan. Dan selama itu pula Karin tidak pernah menjalin hubungan asmara dengan siapapun.


Bahkan bertemu dengan Mirza saja selalu ia hindari. Dia masih trauma karena telah menjadi penyebab retaknya hubungan persaudaraan Kavi dan Mirza. Namun tidak dengan Mirza. Pria itu selalu berusaha untuk bertemu dengan Karin. dia merasa sangat bersalah pada kakaknya, dan yakin kalau diantara kakaknya dan Karin masih menyimpan rasa yang sama. Hingga pada akhirnya Mirza berhasil bicara empat mata dengan Karin.


“Kamu gila ya, Za?” ucap Karin saat Mirza membisikkan sesuatu pada Karin.


Saat itu mereka memang sedang berada di sebuah restaurant. Pantas saja Orion pernah mengatakan kalau Karin sedang jalan berdua dengan Mirza. Padahal tujuan Mirza adalah ingin mempersatukan Karin dengan kakaknya.


“Aku yakin Kak Kavi juga masih mencintaimu, Rin. Kamu juga kan?”


Karin seketika menampakkan wajah sendu saat mengingat nama Kavi. Dia ragu ingin mengiyakan saran Mirza yang akan merencanakan ide gila tentang pernikahan antara dirinya dengan Mirza, namun nanti digantikan oleh Kavi. Karin tidak yakin kalau Kavi masih mencintainya.


“Apa jaminan kamu jika nanti Kak Kavi tidak menerima pernikahan itu, Za?” tanya Karin.


“Aku akan bunuh diri di hadapan semua orang jika sampai Kak Kavi menolak menikahimu.” Jawab Mirza dengan sungguh-sungguh.


Akhirnya Karin percaya dan menyetujui saran Mirza. Walau dia sebenarnya dia tidak setuju tentang Mirza akan menjaminkan nyawanya demi sang Kakak.


***


Kavi sampai meneteskan air matanya saat mendengar cerita Karin dan usaha Mirza yang ingin menyatukan cintanya dengan Karin. bahkan sampai merelakan nyawanya.


“Terima kasih!” hanya itu kalimat yang bisa diucapkan oleh Kavi. Dia semakin mengeratkan pelukannya pada Karin.


“Kamu juga berhak untuk bahagia, Za!” gumamnya dalam hati sebelum menarik selimut mengajak istrinya tidur.


.


.


.

__ADS_1


*TBC


Happy Reading!!


__ADS_2