Perseteruan 2 Calon Pewaris

Perseteruan 2 Calon Pewaris
6. Memuji Ketampanan


__ADS_3

Karin menundukkan kepalanya mengindari tatapan Kavi. Entah mengapa tiba-tiba Karin merasa gugup saat bertemu dalam jarak yang cukup dekat dengan kakak dari kekasihnya itu. karena memang selama ini keduanya jarang sekali bertemu.


“Za, Karin sudah datang!” ucap Kavi pada sang adik yang masih fokus dengan gedgetnya.


“Sayang, kamu sudah datang? maaf, aku nggak tahu.” Sesal Mirza lalu mempersilakan Karin duduk.


Kavi memilih pergi meninggalkan sepasang kekasih itu. bukannya dia iri, hanya saja dia tidak ingin mengganggu kebersamaan Mirza dan Karin. lagipula dia juga yakin kalau keduanya tidak akan melakukan apa-apa.


Setelah Kavi meninggalkan ruang keluarga, kini hanya tersisa Karin dan Mirza. Karin meletakkan makanan yang dibawanya di atas meja. Sebenarnya ia ingin menyiapkan makanan itu untuk segera dimakan, tapi sayangnya Mirza mecegahnya. Sepertinya pria itu ingin berduaan dulu dengan Karin.


“Kenapa kamu baru bilang sih kalau hari ini libur?” tanya Mirza sembari memainkan jemari tangan Karin.


“Ya, maaf. Semalam aku mau kasih tahu kamu, berhubung setelah sampai rumah aku sangat ngantuk. Jadinya lupa. Akhirnya pagi ini aku sengaja memasak banyak untuk aku bawa kesini, itung-itung memberi kamu kejutan.” Jawab Karin.


“Kamu manis banget sih. Nggak sabar jadinya ingin segera meminang kamu.” Seloroh Mirza lalu menyandarkan kepalanya pada pundak Karin.


“Ini makanannya nggak dimakan? Nanti keburu dingin loh, Za! Ada Kak Kavi juga, nggak sekalian diajak makan bareng?” tanya Karin mengalihkan pembicaraan.


“Ya sudah kamu siapkan dulu di meja makan. Tahu kan ruangannya? Anggap seperti rumah sendirin saja, karena kamu nantinya akan tinggal di sini menjadi istriku.” jawab Mirza.


Karin membawa paper bag berisi makanan yang sudah dimasaknya tadi ke ruang makan. Sedangkan Mirza yang hendak memanggil kakaknya terpaksa urung karena tiba-tiba ada panggilan dari Deo.


Karin kini sedang berada di dapur untuk menyiapkan makanan. Perempuan itu tampak sangat cekatan dengan perdapuran, karena memang dia sudah terbiasa hidup mandiri selama ini. tanpa Karin sadari, Kavi juga baru saja masuk ke dapur untuk mengambil minum. Pria itu hanya tersenyum tipis saat melihat Karin sedang menyiapkan makanannya. Dari baunya saja Kavi sudah sangat tergoda.


Karin merasa ada seseorang yang berada satu ruangan dengannya. hanya saja saat ini dia sedang sibuk, dan posisinya sedang membelakangi orang itu. ia pikir itu adalah Mirza.

__ADS_1


“Za, Kak Kavi itu sudah punya pacar apa belum sih?” tanya Karin dengan tangan yang sibuk mengelap piring sebelum meletakkan makanannya.


“Belum. Memangnya kenapa?” Jawab Kavi sekaligus bertanya balik dengan mengulum senyum.


“Ya aneh saja, pekerjaan sudah mapan, wajah juga memenuhi syarat. Tapi belum punya pacar.” Jawab Karin dengan enteng. Ia sama sekali tidak fokus dengan suara yang didengarnya. Atau memang selain memiliki mata hazel yang sama, kedua kakak beradik itu juga memiliki suara yang sama.


Karin terus melanjutkan kegiatannya sambil menunggu jawaban Mirza. Hingga tiba-tiba ada seseorang lagi yang baru saja masuk ke dapur.


“Nah, ternyata kamu sudah di sini, Kak? pantesan tak cari di kamar nggak ada.” Ucap Mirza yang baru saja datang.


“Ya, aku haus. Sekalian ada wawancara singkat dari calon adik iparku.” Jawab Kavi tanpa beban.


Seketika itu Karin menoleh pada dua pria yang sedang berdiri di belakangnya. Matanya melotot. Sungguh dia benar-benar sangat malu dengan Kavi. Bisa-bisanya mulutnya bicara seperti itu. secara tidak langsung dia tadi memuji ketampanan kakak dari kekasihnya itu.


“Wawancara apa memangnya?” tanya Mirza sembari menarik kursi lalu duduk.


“Tanya-tanya tentang kamu saja. apakah kamu dulu sangat bandel saat masih kecil.” Jawab Kavi berbohong.


Mirza dan Karin saling pandang. Bukannya marah, Mirza justru tersenyum pada kekasihnya. Kalau Karin bertanya seperti itu, dia percaya kalau perempuan itu memang ingin tahu semua tentang dirinya.


“Aku nggak bandel kok, Sayang! Ya sudah, mana makanannya? Aku sudah lapar banget nih.” Jawab Mirza.


Ketiga orang itu kemudian makan bersama dengan menu yang dimasak oleh Karin. Mirza duduk di samping Karin. sedangkan Kavi duduk seorang diri tepat berhadapan dengan Karin.


Kavi merasakan masakan Karin memang sangat enak. Tapi dia tidak mungkin memujinya, apalagi ada Mirza. Bisa-bisa nanti adiknya akan salah sangka. Sedangkan Karin yang saat ini sedang duduk berhadapan langsung dengan Kavi, dia tampak menundukkan kepalanya. Jujur saja dia masih malu atas kejadian beberapa saat yang lalu.

__ADS_1


Saat tengah menikmati makanannya, tiba-tiba ponsel Mirza berdering. Dia segera menerima panggilan itu. ternyata dari Deo lagi. dan sepertinya ada hal yang sangat serius.


Mirza memilih mencari tempat yang sedikit menjauh untuk bicara dengan Deo. Sementara Kavi dan Karin masih melanjutkan makannya.


“Sayang, maaf sepertinya aku harus pergi sekarang. ada masalah yang sangat urgent. Kamu nggak apa-apa kan kalau nanti pulang sendiri?” ucap Mirza tampak sangat tergesa-gesa.


“Nggak apa-apa. Ya sudah, hati-hati! Sebentar lagi aku akan pulang.” jawab Karin.


Cup


Mirza meninggalkan kecupan singkat di kening Karin sebelum pergi. Dan Kavi menyaksikannya. Jiwa kejomblo’an Kavi seketika meronta saat melihat keuwuan Mirza dan Karin.


Selepas kepergian Mirza, Karin kembali canggung saat lagi-lagi tak sengaja bertatap mata dengan Kavi.


“Ehm, Kak aku pamit pulang dulu kalau begitu.” Ucap Karin sembari membereskan sisa makanannya dan juga makanan Mirza.


“Tunggu dulu! Biar aku antar kamu!”


.


.


.


*TBC

__ADS_1


Happy Reading!!


 


__ADS_2